...sambungan ke-2...
BAB I
PARLEMEN SEBAGAI PERKAKAS SAJA DARI YANG MEMERINTAH
Pasal 1. Dewan dan Parlemen
Sebenarnya perkataan Parlemen itu tiadalah boleh
kita terjemahkan saja dengan perkataan yang lebih lazim kita dengar sekarang,
yaitu “Dewan”. Wujud dan keadaan kedua anggota itu sangat berlainan sekali.
Sungguhpun susah mencari kabar yang sah dan terang, bagaimana kuasanya Sultan
atau Dewan (Dewan itu anggota yang membantu Sultan memerintah pada zaman dahulu
kala). Masing-masing pada zaman purbakala, tetapi pada sangka kita cara-cara,
yang dilakonkan di komedi bangsawan bolehlah dikatakan tiruan yang hampir
sempurna.
Apabila tuanku yang maha tinggi itu, yang
bersemayam di istana saja. Bertanyakan perihal negeri, kepada mamanda pemangku
bumi atau yang mulia perdana menteri atau lain-lain pembesar kerajaan, maka
jawabnya “bumi senang padi menjadi”. Jawab itu selalu hendaknya menyenangkan
hati dan telinga yang dipertuan.
Pembesar-pembesar itu tiadalah dipilih oleh hamba
rakyat; mereka biasanya raja-raja kecil, orang bangsawan dan terutama sekali
kekasih dan kepercayaan raja. Banyaknya pula di antara isi Dewan itu, yang suka
mengambil muka pada baginda dan ingin hendak mendapat pangkat tinggi. Dari
pihak bangsawan semacam itu, yang hidup dengan boros, hal mana menyebabkan
terpaksa memeras rakyat, tentulah kita tiada boleh mengharapkan ia terutama
sekali akan menaikan keperluan rakyat atau mengeluarkan suara yang tiada nyaman
didengar oleh telinga raja.
Biasanya pembesar-pembesar yang tersebut tiada
pergi melihat dengan mata sendiri, bagiamana hal ihwalnya rakyat. Dengan
pegawai, polisi atau mata-mata mereka merasa sudah cukup menjalankan
kewajibannya. Untunglah kalau ada raja yang adil. Tetapi keuntungan ini jarang
sekali didapat; raja itu manusia juga; lalimnya raja-raja Timur pada zaman dulu
termasyur sekali.
Dengan peringatan yang sedikit ini bolehlah kita
putuskan bahwa keadaan Dewan itu berlainan sekali dengan Parlemen masa
sekarang. Seperti diterangkan tadi anggotanya Dewan itu tidaklah dipilih oleh
orang banyak, melainkan oleh raja.
Dan kalau pembesar-pembesar itu bukan “untuk”
anak rakyat melainkan musuhnya, tiadalah ada kuasa rakyat akan memecatkannya,
dan menukar yang lain yang disukainya. Lain halnya Parlemen (Nanti kita memberi
keterangan yang lebih lanjut tentang sesuatu Parlemen).
Anggotanya dipilih orang banyak dan mereka itu
ada berkuasa akan memeriksa pekerjaan wakilnya itu.
Kalau kita pikir lagi, bahwa anggota-anggota
Dewan itu asalnya dari golongan yang tinggi yang tiada campur dengan orang
banyak, tiada merasa susahnya si Kromo (orang kecil), tiadalah kita sia-sia
mengatakan yang anggota Dewan bukan wakil rakyat dan tiadalah kita heran, kalau
keperluan mereka itu berlawanan dengan keperluan rakyat.
Kuasanya pun Dewan itu tidaklah berbandingan
dengan Parlemen. Dewan itu gunanya untuk memberi suara saja, sungguhpun suara
itu seperti diterangkan tadi, bukan suaranya orang banyak. Raja tiada perlu
mendengarkan atau memperdulikan suara dan nasehat itu.
Tetulah ada juga kesamaan Dewan dengan Parlemen,
yaitu dalam hal gunanya; keduanya bermaksud akan memerintah negeri, seperti ada
juga kesamaan antara gerobak dengan kereta api, yaitu pengangkut barang. Tetapi
seperti gerobak bukan kereta api, demikianlah juga Dewan itu bukan Parlemen.
Nanti kalau keadaan, kuasa dan gunanya Parlemen
diuraikan lebih dalam dan lanjut, bolehlah kita merasa, perbedaan kedua bahwa
Dewan pada zaman kuno boleh digulak-gulingkan oleh raja menurut sekehendak
hatinya pada tiap-tiap ketika, sedangkan di negeri yang berparlemen sejati
zaman sekarang raja itu haruslah mengikuti saja apa kemauan Parlemen, meskipun
tiada setuju dengan paham atau kemauannya.
Pasal 2. Parlemen berlawanan dengan
raja
Seperti diceritakan tadi Dewan itu tinggal suatu
anggota yang semata-mata menjadi perkakas bagi raja. Tiadalah begitu di sebelah
Barat. Barangkali sebab keras hati kemerdekaannya bangsa Barat, barangkali
sebab tiada buta lantaran adat atau agama, maka Parlemen sudah melawan keras
pada kemauan raja sewenang-wenang, dan perselisihan atau peperangan itu
disudahi dengan kuat dari pihak raja, “bahwa Parlemen itulah yang terkuasa
sebagai kemauan rakyat” (Volssouvereinitcit).
Perselisihan itu, lebih-lebih pada abad yang baru
lalu boleh dikatakan di seluruh Eropa. Dimana Parlemen meminta kuasa yang
tertinggi dan memaksa, supaya raja mengaku kekuasaannya. Sungguhpun
perselisihan itu terjadi di antara tanah Eropa, tetapi gelanggang yang akan
kita pilih ialah tanah Inggris, karena di sanalah orang banyak yang sebenarnya
sadar dan di sanalah orang banyak yang sebenarnya sadar dan di sanalah Parlemen
itu yang tertua. Sungguhpun tanah Perancis boleh dikatakan pokok dari
pergerakan demokrasi zaman sekarang, sungguhpun di sana rakyat mengalahkan raja, bangsawan dan
pendetanya dengan ribut dan topan yang hampir tiada berbanding. Tetapi
kemenangan Parlemen atas raja sudah satu abad dahulu dari itu terjadinya di
tanah Inggris.
Marilah kita ikut perkelahian itu.
Pada abad ke 17 tanah Inggris sudah lama
mempunyai parlemen, asalnya sudah dari abad ke 13 (tahun 1215). Pada waktu ini
dapatlah hamba rakyat memaksa pada rajanya yang dalam kesempitan berperang,
mengaku sahnya pelakat “Magna Carta”. Di sana
ditetapkan alasan kemerdekaan tiap-tiap orang dan hak pada harta bendanya.
Tiadalah boleh seorang juga dihukum, kalau tiada dengan alasan undang-undang
negeri. Kebenaran dan keadilan tiadalah boleh dijual atau dibeli. Wujudnya
tiadalah hakim boleh menghukum menilik kekayaan, atau kemiskinan orang, atau
menerima uang suapan.
Oleh karena raja tiada menepati janji yang
tertulis di Magna Carta itu dan sebab keborosannya, maka berkumpullah wakil
bangsawan dan rakyat dan mengadakan rapat. Kesudahannya dijadikan Parlemen yang
terpaksa diakui dan disahkan raja. Anggotanya dan kuasanya Parlemen itu makin
lama makin bertambah-tambah. Segala pajak haruslah dulu dibenarkannya
demikianlah kehendak raja tadi tiada boleh dilakukannya saja oleh menghukumi
atau perdana menteri, kalau Parlemen belum lebih dulu mengabulkan. Perlu
diwartakan sedikit, bahwa Parlemen itu terbagi dua atas “Majelis Tinggi” (House
of Lord, atau Majelis Tinggi – Ed.) yang beranggota bangsawan-bangsawan tinggi
dan “Lagerhusis” (House of Common, atau Majelis Rendah, seringkali inilah yang
disebut Parlemen – Ed.) yang beranggota bangsawan rendah-rendahan dan
wakil-wakil orang banyak.
Adapun Parlemen tiadalah bisa berdamai dengan
raja. Satu di antaranya mesti mundur. Satu dari perkelahian yang banyak dan
hebat itu, terjadi pada abad ke 17 ketika raja Charles I memerintah tanah
Inggris. Kesumatnya sudah dicari lebih dahulu oleh Jacob I., bapak dari raja
tersebut tadi. Jacob I sudah mengumumkan (mengumumkan), bahwa dialah yang
terkuasa dan kuasanya itu diterimanya dari Tuhan, dan hak-hak Parlemen
disebabkan oleh belas kasihannya Baginda itu saja. Sekarang Parlemen mengawasi
segala haknya, supaya jangan dipotong-potong.
Pemerintah Charles I disambut dengan perjuangan
yang besar dengan Parlemen, oleh karena menteri beliau adalah sangat boros.
Karena raja yang kalah, haruslah dia mengakui sahnya “Petition of Right, pada
undang-undang mana ditentukan, bahwa tiada boleh orang ditangkap, kalau tiada
bersebab, dan dilarang mengambil pajak. Memungut uang tunai pada barang-barang
masuk dan ke luar tiadalah diizinkan lagi seperti biasanya, selama dia
memerintah, melainkan untuk setahun saja. Masygul dan murka akan kuasanya
Parlemen maka oleh sebab itu Baginda mencoba memerintah tidak dengan Parlemen,
lamanya 11 tahun.
Kemudian karena berperang dengan bangsa Schot
(sebagian dari beliau punya rakyat) terpaksalah pula memanggil Parlemen
kembali. Jangankan Parlemen memperlihatkan takutnya, tetapi ia tiada memberi
izin pula lagi kepada raja memungut tunai dan ia mencacat-cacat akan kelaliman
orang-orang pemberi nasihat Baginda. Disuruh saja Parlemen itu pulang, karena
suara yang macam itu tiada nyaman kedengaran oleh telinga baginda. Tetapi
karena dikalahkan oleh bangsa Schot tadi, maka Bagindapun terpaksalah pula
memanggil kembali (tahun 1640). Dua puluh tahun lamanya tidak disuruh-suruh
pulang.
Sekarang Parlemen memperlihatkan kuasanya, serta
ia menuduh seseorang kepercayaan raja, yaitu menteri Graaf Strafford, yang
dihukum bunuh. Kesumat (permusuhan) antara raja dan Parlemen tiadalah berubah.
Kesudahannya sampai berselisih. Baginda menuduh beberapa anggota-anggota
parlemen, bahwa mereka memecahkan rahasia. Tetapi daya upaya Baginda hendak
menangkap mereka itu tinggal sia-sia saja. Selisih tadi mendatangkan
peperangan. Mula-mula raja ada beruntung tetapi tatkala Cromwell, juga seorang
anggota Parlemen, masuk gelanggang peperangan, maka bala tentara Parlemen
berurut-turut mendapat kemenangan.
Cromwell tiada dapat sekata dengan Parlemen,
tetapi karangan ini akan melampaui maksudnya, kalau kita mesti menguraikan pula
perselisihan antara Cromwell dengan Parlemen itu. Sebab itulah kita lekas
kembali kepada Baginda. Dekat negeri Naseby
beliau dikalahkan oleh Cromwell, sehingga terpaksa lari pada bangsa Schot, yang
memerangi beliau dahulu, bangsa Schot menyerahkan Baginda pada Parlemen.
Sesudah Cromwell mengusir musuhnya dalam Parlemen
(yaitu anggota-anggota juga seperti dia sendiri) yang selalu merintangi
kemauannya maka diangkatnya satu “Sidang Hakim” yang menjatuhkan hukuman mati
pada raja Charles I. Belumlah terseua dalam sejarah (sejarah) manapun kejadian
semacam ini, yang hamba rakyat berani mengangkat pedang di atas kepala seorang
raja.
Sesudahnya raja dibunuh, maka tanah Inggris
dijadikan Republik, yang dikepalai oleh Cromwell.
Anak Cromwell tiadalah dapat mempertahankan republik yang didirikan bapaknya, sehingga “Kaum raja” sangguplah menaikkan Charles II (anak Charles I) ke atas kerajaan. Oleh karena kekasihannya kepada kaum Alim Katholik, maka ia diseterui kembali oleh Parlemen. Permusuhan itu makin lama makin dalam, disebabkan juga karena kelemahan Charles II itu tentang politik dalam dan luar negeri.
Anak Cromwell tiadalah dapat mempertahankan republik yang didirikan bapaknya, sehingga “Kaum raja” sangguplah menaikkan Charles II (anak Charles I) ke atas kerajaan. Oleh karena kekasihannya kepada kaum Alim Katholik, maka ia diseterui kembali oleh Parlemen. Permusuhan itu makin lama makin dalam, disebabkan juga karena kelemahan Charles II itu tentang politik dalam dan luar negeri.
Banyaklah pula dalam masa ini undang-undang yang
didirikan yang menambah pengakuan kemerdekaan orang-orang negeri tanah Inggris.
Yang terutama sekali “Habeas Corpus Act.” (tahun 1679) yang menetapkan, bahwa
tiada boleh seorang juga dimasukkan ke dalam penjara atau ditahan (preventief),
kalau tidak lebih dahulu dengan surat
perintah, dimana diterangkan kesalahannya, dan perkara seorang yang tertuduh
haruslah sesudah tiga hari tutupan, atau tahanan, diperiksa. Jadi tiadalah
boleh siapapun ditangkap saja atau ditahan lama, karena hal-hal itu boleh
melahirkan sewenang-wenang.
Dalam pemerintahan Jacob II (anak dari Charles
II), perseteruan raja dengan Parlemen tiadalah mundur. Setelah jemulah kaum di
Inggris akan Rajanya, yang bersifat lalim, maka dipanggilnya Willem van Oranye
dari negeri Belanda akan memerintah negerinya, permintaan itu dikabulkan.
Setelah ia tiba di tanah Inggris dengan bala tentara, maka raja Jacob II
larilah ke Perancis.
Willem van Oranye mengakui “Declaration of Right”
dengan sumpah. Dalam undang-undang inilah ditetapkan hak-haknya rakyat. Dari
sekarang tiadalah raja boleh menggulak-galikan Parlemen lagi, karena Parlemen
sendiri berhak akan memilih raja. Sudah tentulah dipilihnya raja, yang mau
memerintah menurut undang-undang yang menghormati kemerdekaan dan kekuasaan
rakyat dan Parlemen.
Kita harap, bahwa dengan misal yang terjadi di
tanah Inggris ketika 250 tahun terlampau itu akan sampai maksud kita buat
memutuskan, bahwa kemauan Parlemen dan kemauan raja selalu berbantah, dan
perlawanan itu tiadalah akan berhenti, sebelum salah satunya mundur. Akan
penambahan keterangan yang lebar, diambil misal tanah Jerman, dimana pemerintah
dan Parlemen juga tiada bisa cocok.
Pasal 3 Parlemen di Jerman sampai ke
tahun 1918 hanyalah perkakas saja.
Kebetulan di tanah Inggris perlawanan Parlemen
dengan pemerintahan raja (Monarki) disudahi oleh kemenangan pada pihak yang
pertama. Tiadalah begitu di tanah Jerman, terutama karena lembutnya hati
wakil-wakil Rakyat dan kedua, lantaran keras lawannya pemerintah, lebih-lebih
pada ketika parlemen baru lahir.
Adapun kerajaan Jerman dinaikkan oleh Kaisar
Bismarck. Kebetulan pada masa Bismarck
menjadi kepercayaan kaisarnya (Wilhelm I), maka kaum Sosialis di Eropa
dimana-mana mau merebut banyak kursi dalam Parlemen, supaya dengan jalan ini
dia boleh menyampaikan niatnya akan memajukan rakyat. Kaum yang berkehendak
kemajuan di dalam Parlemen, sesudah tanah Jerman menjadi masyhur, (disebabkan
kemenangan atas bangsa Perancis pada tahun 1870), ialah kaum “National
Liberal”. Tentulah kaum ini tidak searah (setuju) dengan partai yang kuat pula,
yaitu bangsawan, dengan militernya. Bangsawan, militer dan orang kaya-kaya,
yang setia pada Kaisarnya, mendapat kepala yang keras dan pintar sekali pada
Kaisar Bismarck. Jaranglah satu diplomat pada abad yang ke 19 sanggup menyamai Bismarck. Oleh karena
kemenangan perang atas bangsa Perancis semata-mata disebabkan oleh Kaisar
perkasa itu, maka Bismarck
sangatlah dicintai orang banyak dan bangsawan-bangsawan.
Kalau kita pikir, berapa banyaknya kaum bangsawan
kuno, yang menyebrang di dalam Parlemen ke pihak Bismarck, maka dengan kepintaran dan
kemauanya yang begitu keras, mudahlah ia melawan “national Liberal” tadi dan meneruskan
kemauannya sendiri.
Tidaklah kita heran, kalau di tanah Jerman orang
mengatakan, bahwa Parlemen itu berlawanan dengan Pemerintah yang dikatakan
pemerintah itu yakni raja, Kaisar dan menteri-menteri. Di tanah Inggris
pembesar-pembesar semuanya diangkat oleh Parlemen, dipilih dari antara
anggotanya, yaitu anggota-anggota yang disukai orang banyak. Apabila
anggota-anggota itu dalam pekerjaan Menteri tiada memadai, maka Parlemen ada
berkuasa akan menurunkannya. Dan raja pun sudah bersumpah lebih dahulu tiada
akan melanggar undang-undang orang banyak dan Parlemen, maknanya, raja, Premier
(menteri yang pertama) dan segala menteri yang lain cuma menurut perintah
Parlemen saja (ini sepanjang teori kaum modal).
Tetapi di tanah Jerman raja itu berkuasa sekali.
Ialah yang boleh memilih menteri-menteri, ialah yang boleh memecatnya. Kita
lekas merasa, bahwa wakil dari kaum buruh selalu akan berlawan dengan
pemerintah yaitu menteri-menteri yang diangkat kaisar (Sultan) yang tiada
memperdulikan sayang atau tiadanya hamba Rakyat pada pembesar-pembesar yang
disorongkannya itu.
Tetapi apakah daya, kaum sosialis? Pada waktu
memilih wakil untuk Parlemen saja, sudah kelihatan kuasanya bangsawan, hartawan
dan kaum militer. Lebih-lebih di Pruisen, dimana orang gemetar kalau melihat
kaum Militer, takut pada pegawai yang asalnya bangsawan; tentulah orang
terpaksa memilih wakil dari golongan yang tinggi juga, yang tentu tiada akan
menaikkan keperluan orang banyak, melainkan semata-mata keperluan tuan-tuan
tanah yang memiliki kebun-kebun di Pruisen. Wakil yang macam itu sudah tentu
mendukung pada Kaisar Bismarck dan pemerintah. Kelemahan kaum “National
Liberal” adalah baik sekali dilukiskan oleh Von Gerlach, pengarang
parlementarisme (ilmu tentang parlemen). Demikianlah bunyinya:
"pada pembacaan Bergrooting (maksudnya
pemerintah) yang pertama kalinya, maka kedengaranlah kaum “National Liberal”
mempertahankan dan mengumumkan cita-citanya. Dalam commissie (dimana maksud
pemerintah itu diperiksa oleh anggota-anggota Parlemen) orang mencoba
memasukkan sebagian dari pahamnya tadi ke dalam Begrooting Bismarck (cuma
sebagian saja, alamat kaum National Liberal akan mundur).
Dalam pembacaan (Pembacaan) yang kedua Bismarck bertitah, bahwa
pertimbangan kaum liberal tiada boleh diterima. Dalam waktu antara pembacaan ke
2 dengan ke 3 kaum Liberal mencoba tawar menawar dengan kepercayaan Bismarck,
supaya Bismarck jangan membelakang (membuang) paham kaum liberal sama sekali
(sudah merasa akan mundur). Tetapi seperti biasanya tiadalah ada paham kaum
Liberal yang boleh dipakai. Bismarck
mau atau semua atau sekali-kali tidak. Dia tinggal bersikeras dan lawannya
menjadi bubur. Dan pada pembacaan yang ketiga kaum Liberal sendiri membatalkan,
yaitu dengan hati keberaratan, segala yang dikehendakinya sendiri, pada
pembacaan yang kedua dan ketiga. Bismarck
menang. Dan kaum Liberall berserah saja."
Pada petikan dari karangan tuan Von Gerlach
sedikit ini kita boleh melihat betapa kuasanya pemerintah dalam hal ini Kaisar
Bismarck – dan betapa lemahnya Parlemen Jerman. Sebenarnya salah Parlemen juga,
karena selalu mundur. Kalau anggotanya ada bermalu dan yakin, tentulah ia harus
mempertahankan pahamnya sendiri dan keperluan orang banyak. Kalau Bismarck mau
melangsungkan juga, baik, tetapi Bismarck-lah sendiri menanggung hasil
perbuatannya. Sekarang kaum Liberal sendiri serta membenarkan pemerintah tadi
artinya juga serta menanggung baik buruknya aturan itu.
Kelemahan itu bukan saja memberi malu bagi “Wakil
Rakyat” tetapi juga boleh mendatangkan celaka pada Rakyat dan pada kaum yang
membatalkan paham sendiri (Partai Liberal). Untunglah Bismark selalu beruntung.
Juga karena sangat lanjut pikirannya. Tetapi bagaimanakah kalau pemerintah
tiada sepintar Bismarck?
Kalau tahu, bahwa belum lama lagi antaranya,
ketika tanah Jerman berperang besar, selalu kaum progresif itu (kecuali kaum
Sosialis yang dikepalai oleh Liebknecht) mengabulkan sekalian permintaan
pemerintah, selalu mengizinkan “memakai” orang untuk perang. Kecelakaan politik
perang pemerintah itu mesti juga tertanggung oleh kaum progresif yang menamai
dirinya wakil kaum buruh, yang berkata mencintai “Damai di seluruh Dunia”, dan
tidak setuju dengan kemauan kaum kapitalis yang mau memiliki tanah-tanah
kepunyaan orang lain.
Barangkali bangsa Jerman dipukul rata tidak
sebegitu bersifat keras hati semacam bangsa Inggris dan barangkali juga
Parlemen di Jerman masih ingat pada “momok Bismarck” yang pada masa kecilnya
begitu kerap kali mengejut-ngejuti dan menakutinya. Tetapi sungguhlah betul,
bahwa parlemen di Jerman, meskipun hidup di abad ke dua puluh, masih tidak
insaf akan kodratnya, dan masih jadi perkakas pada pemerintah dan kaisarnya.
Marilah kita periksa lebih lanjut, bagaimana
Parlemen ini menyia-nyiakan senjatanya yang tajam sebagai hak Initiatief (yaitu
hak bagi tiap-tiap wakil untuk mengeluarkan pertimbangan yang boleh menjadi
undang-undang untuuk kebaikan orang kecil) dan “hak Interpellatie” (hak wakil
rakyat akan meminta keterangan pada pemerintah tentang segala pembuatannya.
Maksudnya supaya pekerjaan sewenang-wenang dari pihak pejabat boleh terhindar).
Di tanah Inggris umpamanya, dimana pemerintah
asalnya dari Parlemen: “hak Initiatief” tiadalah begitu perlu karena hak itu
boleh dipulangkan kepada Menteri-menteri, yang dipilih oleh parlemen dari
anggotanya sendiri (di tanah Inggris partai yang kuat dalam Parlemenlah yang
mengangkat menteri-menteri). Tetapi di tanah Jerman di mana Parlemen dan
Pemerintah berlawanan (di tanah Jerman Menteri-menteri bukan diangkat oleh
Parlemen, melainkan oleh Kaisar) haruslah hak itu dimuliakan benar. Apa yang
kekurangan pada urusan Pemerintah, boleh dipenuhi oleh wakil-wakil Rakyat.
Meskipun pertimbangan wakil-wakil tidak dikabulkan pemerintah, tiadalah mengapa
karena suara dalam Parlemen itu sudah didengar oleh orang banyak dan
pertimbangan yang diketengahkan wakilnya itu boleh dipikirkannya oleh Rakyat
sendiri lebih lanjut.
Kalau kelihatan berfaedah, tentulah tiada akan
hilang dari kenang-kenangannya. Pada “waktu Pilihan”, yang akan datang tentulah
wakil yang mengeluarkan pertimbangan tadi dan kalau sistem di Parlemen akan
dipilih, dan musuh wakil itu tiada dipilih, melainkan diganti dengan yang suka
menaikkan pertimbangan itu sekali lagi, sampai pemerintah terpaksa mengabulkan
permintaan orang banyak.
Tetapi salah langkah, kalau percaya, bahwa wakil
kaum buruh Jerman bisa boleh memakai senjata-senjata yang tajam itu.
Hari Rabu umpamanya Parlemen boleh mengeluarkan
pertimbangan (hak Initiatief). Tetapi hari yang satu ini dalam satu minggu
tiadalah pula boleh dipakai sama sekali, karena sudah ditetapkan lebih dulu,
bahwa lima
perenam bagian dan hari itu akan dipergunakan untuk membicarakan pertimbangan
yang datangnya dari pihak pemerintah. Cuma seperenamnya untuk pertimbangan,
yang datang dari pada pihak anggota Parlemen yang bernafsu. Tetapi biasanya
pemerintah tiada memperdulikan aturan itu. Demikianlah dari antara 100
pertimbangan yang datangnya dari Parlemen pada tahun 1907 dari bulan Febuari
sampai bulan Mei tiada satu diperdulikan.
Apakah gunanya hak Initiatief semacam itu?
Lagi pula Parlemen tiada berkausa buat memaksa
pemerintah menjalankan apa yang sudah dikabulkan tadi. Sungguhpun begitu besar
kehinaan datangnya dari pihak pemerintah, tetapi tiadalah Parlemen Jerman
pernah memperlihatkan tulang kerasnya, yaitu melarang segala pertimbangan yang
datang dari pemerintah dengan jalan Obtaructie artinya menghalang-halangi
segala pertimbangan pemerintah dengan bermacam-macam muslihat, umpamanya
membuat gaduh bersama-sama, sehingga “Pembacaan” tidak kedengaran, atau tidak
boleh dilangsungkan; atau membuat pidato yang berjam-jam lamanya, sehingga
pemerintah pusing. Demikianlah, kalau pemerintah besoknya datang dengan
pertimbangan itu sekali lagi, perbuatan Obstructie itu diulangi lagi. Belumlah
tentu siapa yang akan menang, kalau kerasnya pemerintah dilawan dengan keras
pula oleh Parlemen.
Di tanah Inggris seorang anggota Parlemen boleh
bertanya tentang perbuatan pemerintah (menteri-menteri). Dengan jalan ini
rakyat boleh mengetahui dan menimbang, bilamana juga, baik atau tidaknya perbuatan
pemerintah. Kalau pertanyaan itu ditimbang berarti atau penting, haruslah
menteri yang ditanya itu esok harinya dengan berhadap-hadapan memberi jawab.
Anggota boleh memutuskan, cukup, atau tidak jawaban itu.
“Hak bertanya“ semacam di Inggris ini tidak ada di tanah Jerman, tetapi “hak Interpellatie” wujudnya boleh hampir bersamaan.
“Hak bertanya“ semacam di Inggris ini tidak ada di tanah Jerman, tetapi “hak Interpellatie” wujudnya boleh hampir bersamaan.
Tetapi jalan untuk bertanya itu sangat sekali
diperpanjang oleh pemerintah tanah Jerman. Mula-mulanya haruslah pertanyaan itu
ditanda tangani oleh 30 orang anggota. Di Parlemen barulah boleh ditimbang,
atau dibicarakan, kalau sekurang-kurangnya 5 orang anggota yang memberi izin.
Sungguhpun tanda tangan yang 50 orang itu diperoleh, tetapi belumlah boleh
dapat jawaban besok harinya seperti di tanah Inggris, karena pemerintah berhak
boleh memberi jawab bila dia mau saja. Kalau pemerintah sudah “main gelap”,
maka waktu menjawab tadi, dijanjikannya dari besok ke minggu yang akan datang,
dari minggu itu ke bulan baru, sampai pertanyaan dan jawabnya lupa oleh segenap
pihak. Tetapi, kalau pertanyaan tadi datang dari konco-konco pemerintah, yang
jadi wakil dalam Parlemen, maka pertanyaan tadi segera di jawab, sebab sudah
tahu dari dulu, bahwa konco-konco itu tiada akan menanyakan perkara yang akan
membuka rahasia pemerintah. Demikianlah pandai pula pemerintah itu bermuka
manis memperlihatkan kelurusan dalam segala perbuatannya. Dengan jalan serupa
itu “hak Interpellatie” yang begitu berfaedah bagi satu Parlemen yang sejati
dihinakan oleh pemerintah tanah air sendiri.
Aturan yang semacam ini tidak dapat menyelesaikan
yang kusut antara Parlemen dan tidak boleh pula mendatangkan kepercayaan rakyat
baik atas Parlemen baik atas pemerintahnya.
Di tanah Jerman Kaisar itu atau wakilnya bolehlah
memutuskan sendiri, mau atau tidaknya ia datang di Parlemen. Biasanya kalau ia
merasa, bahwa ada topan akan datang, (kalau Parlemen mau mengeluarkan suara
yang tiada nyaman didengar telinga), maka ia tinggal bersemayam di istananya
saja. Acap kali Kaisar itu bersituli dan kursi-kursi pembesar pemerintah
kosong, kebetulan kalau anggota-anggota Parlemen datang dengan hati panas,
serta hendak mengeluarkan teguran atau celaan pada perbuatan pemerintah,
labraknya anggota-anggota itu dielakkan dengan jalan tidur atau sembunyi saja.
Berhamburanlah kata-kata yang pedas-pedas di
Parlemen tadi, tetapi percuma saja.
Pada Parlemen yang sejati adalah “Mosi tak
Percaya” pada pemerintah suatu muslihat hendak menyuruh suatu Menteri
memperhentikan pekerjaannya. “Mosi tak percaya” itu tidak ada di Jerman. Apa
guna? Menteri diangkat kaisar, bukan oleh Parlemen.
Menteri-menteri cuma perkakas saja, tiada memikul
tanggungan sendiri. Kalau salah perbuatannya, bukanlah dia yang menanggung,
karena semua itu suruhan dari yang maha tinggi. Menteri tiadalah berkemauan
sendiri. Wujudnya walaupun Parlemen mengeluarkan “Mosi tak percaya” Kaisar
boleh berituli.
Apa boleh buat, Kaisar Jermanlah, yang biasanya
menghapuskan saja mosi apapun pada telapak sepatunya.
Menilik karangan tuan Van Gerlach tadi, menilik
hal bahwa senjata tajam pada parlemen sejati, seperti hak Interpellatie, dan
initiatief, hak mengeluarkan “Mosi tak percaya” tiada dipakai oleh Parlemen di
tanah Jerman, menilik perbandingan antara Parlemen dengan Kaisar Wilhelm dalam
peperangan yang besar yang baru lalu ini; mengenang suatu kejadian seperti
tidak ada bandingannya dalam sejarah Parlemen yang balid dalam abad 20, yaitu
kejadian, apabila kaisar Wilhelm II mengangkat saja seorang pejabat yang
namanya hampir tiada dikenal oleh orang banyak jangankan jasanya – ialah Michaelis,
menjadi Kaisar pada waktu yang begitu penting, maka tiadalah bisa kita
menanggung kehormatan terhadap kepada Parlemen yang semacam itu. Tidaklah kita
rasanya terlanjur mengatakan bahwa Parlemen di tanah Jerman cuma perkakas saja.
Apabila Kaisar Wilhelm II dengan hati batinnya hendak memerangi tanah kerajaan
lain; hendak mengambil koloni orang pendeknya dengan jalan perang ia hendak
memuaskan keinginan dan kelobaannya yang tiada berhingga itu maka tiadalah ia
perlu memikirkan sekejap juga, bahwa Parlemen akan menegakkan perbuatan yang
barangkali akan mendatangkan celaka benar atas Rakyat dan negerinya.
Sudahlah diterangkan oleh Karl Kautky dengan
keterangan yang sempurna, bahwa peperangan yang lalu (Perang Dunia Pertama –
Ed.) ini semata-mata disebabkan oleh dahaganya para kekuasan dan kemasyuran.
Ialah yang mencari kesumat, yang memaksa dengan tipu muslihat, supaya
peperangan datang.
Apabila waktu perang tiba, maka ia memperoleh lagi perlindungan dan pertolongan dari pihak Parlemen yang mengikuti saja, apa yang dikehendakinya. Terhadap kepada Rakyatnya dan bangsa-bangsa sopan di atas dunia, dia boleh berlaku seperti orang yang teraniaya, yang dimusuhi dan dikhianati bangsa lain, dan dia tiada bermalu mengatakan bahwa Parlemen “Wakil Rakyatnya” merelakan berperang. Semuanya itu tanda kelemahan Parlemen Jerman.
Apabila waktu perang tiba, maka ia memperoleh lagi perlindungan dan pertolongan dari pihak Parlemen yang mengikuti saja, apa yang dikehendakinya. Terhadap kepada Rakyatnya dan bangsa-bangsa sopan di atas dunia, dia boleh berlaku seperti orang yang teraniaya, yang dimusuhi dan dikhianati bangsa lain, dan dia tiada bermalu mengatakan bahwa Parlemen “Wakil Rakyatnya” merelakan berperang. Semuanya itu tanda kelemahan Parlemen Jerman.

0 Comment for "Parlemen atau Soviet? Tan Malaka (1921) "
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...