....Sambungan 3...
BAB II
PARLEMEN YANG SEJATI
Pasal 1.Tumbuh dan hidupnya Parlemen
Inggris semenjak dari masa merdekanya.
Dalam tiga pasal pada bab I tadi sudahlah rasanya
cukup keterangan-keterangan dan contoh-contoh yang mensahkan, bahwa datang dan
tumbuhnya Parlemen itu tiadalah dengan damai saja. Dalam contoh-contoh seperti
di tanah Jerman dan di tanah Inggris sudah kelihatan, bahwa tiada selalu
Parlemen itu yang beroleh kemenangan. Barangkali kekalahan tadi sementara,
entahlah, tetapi sudah terang bagi kita, bahwa Parlemen tanah Inggris sudah
lebih dari 250 tahun yang lalu, sudah menghindarkan musuh dari badan dirinya.
Sesudahnya itu barulah dia bernafas lapang, dan barulah dia boleh bebas tumbuh
sampai menjadi lembaga negara yang sempurna.
Sebelum kita menetapkan apa keadaan Parlemen yang
dinamai sempurna, terpaksalah kita lebih dahulu memeriksa tumbuh dan hidupnya
Parlemen dari mula ia dapat kemenangan dari raja, sampai ia dewasa. Inilah
kewajiban fasal ini akan melukiskan dengan ringkas hidup dan tumbuhnya Parlemen
tanah Inggris itu.
Seperti dahulu telah diwartakan, bahwa
perkelahian Parlemen dan raja, di Tanah Inggris, disudahi dengan pengakuan dari
pihak raja atau “Declaration of Right”. Apabila seorang raja naik tahta
kerajaan, haruslah ia lebih dahulu bersumpah mengakui sah undang-undang negeri;
artinya tiadalah ia kelak akan melanggar hak dan milik rakyat yang ditentukan
dalamnya, dan bersumpah mengakui sah kuasanya rakyat (Volkssouvereinitieit).
Semacam dalam suatu perkelahian, apabila yang
seorang mengalahkan lawannya, dan yang kalah tiada berdiam diri saja, melainkan
berusaha mencoba supaya belenggunya terlepas, ya, mencoba supaya kekalahannya
tadi boleh dibalikkannya, supaya menjadi kemenangan. Demikianlah juga keturunan
raja-raja tanah Inggris pada permulaan abad yang sudah, mencoba berjuang lagi.
Perjuangan itu akan kita lukiskan pula. Bukan karena hebatnya, melainkan sebab
dalam perjuangan itu ada banyak kejadian yang menambah pengetahuan dan
penguatan paham kita. Tentang hidup dan tumbuhnya Parlemen tanah Inggris samapi
pada masa dewasanya.
Pada permulaan abad yang tersebut, terbitlah tiga
persoalan yang penting, disebabkan oleh berdirinya lembaga negara yang
masing-masing mempunyai kekuasan besar.
Pertama. “siapa yang mesti memerintah, raja atau parlemen, artinya bolehkah raja mengangkat pemerintah (kabinet sidang menteri) kalau kabinet itu tiada disukai Parlemen”?
Pertama. “siapa yang mesti memerintah, raja atau parlemen, artinya bolehkah raja mengangkat pemerintah (kabinet sidang menteri) kalau kabinet itu tiada disukai Parlemen”?
Kedua. Kuasakah Majelis Tinggi membatalkan
kedaulatan Parlemen?
Ketiga. Bolehkah raja bersama dengan Majelis
Tinggi membatalkan kedaulatan Parlemen? (yang dinamai kedaulatan Parlemen,
yaitu kedaulatan orang, atau suara yang terbanyak).
Segala pertanyaan ini adalah jawabnya dalam
sejarah bangsa Inggris pada permulaan abad yang disebut tadi.
Disebabkan oleh peperangan yang lama dan hebat
antara tanah Inggris dan Kaisar Napoleon, maka Rakyat sangatlah menanggung
sengsara. Kemiskinan rakyat tiadalah berhingga. Semasa perang tiadalah
barang-barang Inggris boleh dimasukkan dan dijual di benua Eropa, sehingga
barang-barang pabrik bertimbun-timbun tinggal di gudang-gudang. Setelah
perdamaian sudah dilangsungkan, maka barang-barang masih tinggal bertimbun-timbun
di tempatnya, karena tiada ada orang yang bernafsu dan mampu membelinya sebelah
ke darat tanah Eropa. Sebab itulah tuan-tuan pabrik terpaksa menutup pabriknya;
seterusnya banyaklah kuli terpaksa disuruh pulang, karena tiada ada pekerjaan
dalam pabrik lagi. Juga disebabkan pendapatan (uitvinding) mesin-mesin yang
baru, kuat, sempurna dan lebih banyak bisa menghasilkan barang-barang daripada
mesin yang lama, banyaklah pula tangan yang terpisah, yang tiada perlu dipakai
lagi, sehingga pendapatan itu semata-mata mendatangkan celaka saja pada si
kuli.
Dan lagi serdadu yang pulang dari medang
peperangan, yang sudah lama tiada menjalankan pekerjaan biasanya, menambah pula
banyaknya orang yang mondar-mandir, disebabkan tidak dapat mencari penghidupan.
Demikianlah tidak ada bandingannya kemiskinan dan
kelaparan orang kecil, yang tiada termanai banyaknya itu. Tidaklah kita dapat
murka atau jadi heran, kalau kita baca dalam sejarah tanah Inggris pada masa
itu, bagaimana orang kecil keputusan asa, dan bagaimana ia membalaskan dendam
dengan jalan merusakkan mesin-mesin, yang menjadi musuh pada jalannya mencari
sesuap nasi dan sehelai kain itu.
Siapakah akan membela nasibnya, si miskin dan si
kecil itu? Siapakah akan menaikkan keperluannya di dalam Parlemen, yang
hanyalah diduduki oleh Bangsawan, Hartawan, yang tiada merasa sengsara
kelaparan, dan tiada memperdulikan nasibnya orang kecil?
Sedangkan belum lama lagi di belakang, Parlemen
mendirikan undang-undang, yang melarang kuli-kuli membuat vergadering-vergadering
(organisasi - Ed.) dan vereeniging (perhimpunan); artinya melarang kaum buruh
memperbaiki nasibnya dengan jalan minta tambahan gaji, minta bantuan dan
lain-lain. Barang siapa yang tiada dapat pekerjaan, boleh diterima dalam satu
perusahaan yang memberi pertolongan, perusahaan yang mana berkuasa menyuruh
kerja, umpamanya dalam pabrik. Itulah namanya pertolongan itu, yaitu dengan
upah sedikit, dipaksa orang kelaparan kerja keras sehingga yang ditolong
namanya itu menjadi saingannya pula pada kaumnya sendiri, yang terpaksa pada
mengambil upah sedikit, kalau dia tiada mau mati kelaparan. Pun anak-anak atau
perempuan bolehlah menjalankan mesin-mesin, sehingga mahluk yang lemah-lemah
itu dengan upah yang kecil bersaing pula, seperti kaumnya yang diberi pertolongan
oleh perusahaan tadi. Kita mengerti, betapa sengsaranya kaum buruh dan anak
bininya. Tertib dan kebudayaan merekapun tiadalah perdulikan lagi. Kemiskinan
dan kelaparan selalu menghilangkan kemanusiaan. Siapakah di antara orang kecil
sekarang, yang tiada curiga dan paham bagi penghidupan dan kemerdekaannya
sendiri?
Oleh karena kedatangan mesin-mesin, maka pabrik
kecil-kecil dan kuno tiada bisa bersaing dengan pabrik yang model baru itu,
sehingga kebanyakan pabrik kecil itu punah (jatuh) atau dihisap (dibeli) oleh
yang besar. Demikianlah segala mata-mata pencaharian jatuh ke tangan dua tiga
orang kaya saja. Saingan satu parbik dengan yang lain hilanglah, sebab
tuan-tuannya berkongsi-kongsi pula, sehingga mereka boleh seenak hati menaikkan
harga barang-barang. Barang makanan juga boleh ditetapkan harganya oleh sedikit
orang tuan-tuan tanah, karena dari tanah luar tidak ada saingannya lagi,
disebabkan oleh undang-undang Parlemen, yang memungut cukai bagi barang-barang
tanah luar yang masuk. Dengan lukisan di atas ini kita insyaf, betapa kelemahan
kaum buruh diperbandingkan dengan kaum uang.
Sudah disebutkan lebih dahulu, bahwa tiadalah
berapa besar pengharapan kaum buruh akan mendapat pertolongan dari parlemen,
karena anggotanya hampir semua asalnya dari kaum atas. Hak memilih (kiesrecht)
menanggung pula, supaya anggota-anggota itu jangan dicampuri wakil kaum buruh.
Yang Majelis Tinggi cuma diduduki oleh Lord (kanjeng-kanjeng) saja. Mereka itu
diangkat selama hidup dan digantikan oleh anaknya (erfelijk). Anggotanya
Majelis Rendah keluaran dari golongan atas juga, bangsawan kecil dan hartawan.
Memilihnya dengan umum pula, sehingga tuan-tuan tanah boleh memaksa kulinya
menyuruh memilih dia sendiri, atau konco-konconya. Berapapun besar kota, berapapun luas
daerah (graafschap) tetapi banyak kandidat buat wakil tidak boleh ditetapkan
lebih dari yang akan diangkat sehingga selalu kandidat-kandidat wakil yang
biasanya kanjeng-kanjeng saja itu semuanya dipilih. Demikianlah dengan segala
tipu dan muslihat, kaum atas menjaga supaya semua wakil-wakil asalnya dari kaum
sendiri juga.
Hasil dan wujudnya “Hak Memilih” itu, menyebabkan
ada kira-kira 2/3 dari anggota Parlemen yang diangkat atau ditolong oleh
pemerintah (kaum atas juga). Banyaknya anggota-anggota Parlemen yang mewakili
orang kecil, tiada sekali-kali bertanding dengan wakil-wakil atas, sehingga
Parlemen masa itu, hanyalah semata-mata sidang “hantu-hantu Uang” yang tiada
mengetahui hal ihwal orang banyak.
Tetapi kaum buruh yang mendesak di kota yang besar-besar
itu, tiadalah berserah dan berpangku tangan saja. Ia mengerti, betapa besar
kodratnya sendiri, asal ia sepakat. Dalam hal itupun, dari hari ke hari,
tumbuhlah kesetiaannya satu sama lain, bertambahlah sepakat dan keberaniannya,
sehingga kanjeng-kanjeng gemeletar tulangnya dalam istana-istana mendengar
teriaknya kaum buruh meminta haknya sebagai manusia, dan sebagai rakyat tanah
Inggris.
Mereka itu berusaha, supaya anggota-anggota di
Parlemen ditambah dengan wakilnya yang sejati. Sebab itu dia membatalkan
undang-undang Parlemen, yang melarang dia membuat perkumpulan. Ia percaya bahwa
kalau ada Algemeen Kiesrecht (hak memilih bagi tiap-tiap orang), dia bisa
mengadakan wakil yang sampai kuat akan membela kepentingannya dalam Parlemen,
kodratnya kaum buruh sesungguhnya sanggup membuka pintu Parlemen untuk wakilnya
sejati.
Demikianlah keadaan tanah Inggris, ketika raja
Willem IV; memerintah (tahun 1830-1837). Dua kaum yang berlawanan kapitalis dan
si buruh. Yang pertama kuat, yang kedua sedang mengumpulkan kodratnya. Adalah
beberapa di antara kaum bangsawan, yang setelah ia melihat keras desaknya kaum
buruh, mengertilah, bahwa kaum bangsawan dan hartawan tiada akan sanggup
melawan musuh yang begitu besar. Sebab itu mereka tiada berani menahan dan
menghalangi lagi kemajuan itu, melainkan berusaha, supaya itu jangan
mendatangkan perselisihan yang boleh menjadikan celaka besar pada negeri. Kaum
yang menolong kaum buruh itu dalam beberapa hal, dinamai Liberal. Kaum ini
serta juga menaikkan permintaan pada pemerintah, supaya tiap-tiap orang boleh
dapat Hak Memilih.
Raja Willem IV pun tiadalah benci pada paham
Liberal itu, sehingga Baginda mengangkat Lord Grey jadi Premier (Menteri
Pertama).
Kebetulan pada masa itu di Perancis rakyat
merebut hak lagi (tahun 1830). Sebab itu di tanah Inggris orang hendak mendapat
hak pula. Berhubung dengan itu Lord Grey menaikkan pertimbangan yang mau
menambah hak rakyat tentang pilih-memilih. Majelis Rendah mengabulkan, tetapi
Majelis Tinggi membatalkan. Rakyat berbangkit. Istana-istana orang bangsawan
atau pendeta dirampok atau dibakar. Dimana-mana orang banyak membuat Meeting
(mengeluarkan suara) mengambil Mosi, tanda ia suka akan pertimbangan Lord Grey.
Majelis Tinggi harus mundur. Lebih-lebih bagi
kaum tengah besarlah faedahnya pergerakan itu. Sungguhpun kaum buruh tidak puas
akan kemenangan itu, tetapi teranglah bagi kita, bahwa kuasanya Majelis Tinggi
sudah mulai dipotong. Sesudah perjuangan tahun 1911 kekuasaannya (Majelis
Tinggi – Ed.) tentang membatalkan begrooting sama sekali dihapuskan dan tentang
pertimbangan lain-lain sangat dikurangi.
Dalam sejarah ini kita bisa pelajari, bahwa kalau
Premier ditolong oleh Majelis Rendah, ditunjang oleh Rakyat, maka kedaulatan
Majelis Tinggi menjadi nol. Bagaimanakah kedaulatan raja? Dalam hal tadi kebetulan
ia mengangkat Premier, seorang yang disukai Rakyat dan Majelis Rendah.
Bagaimanakah kejadiannya kelak, kalau Premier kebetulan tidak disukai Majelis
Rendah?
Willem IV sudah mencoba mengangkat Premier dari
kaum konservatif (kuno) sedangkan meerderheid (suara terbanyak) di
Majelis Rendah menyukai seorang dari kaum Liberal. Sebab ingkarnya (tidak mau)
Majelis Rendah mensahkan Premier yang diangkat Baginda itu, maka Parlemen
dibubarkan dan dipilih anggotanya yang baru. Tetapi suara terbanyak tinggal “Liberal”.
Sampai empat kali Majelis Rendah membatalkan pertimbangan dari Premier
konservatif tadi. Sebab itu wajiblah Premier itu meletakkan jabatannya.
Pembesar Peel memutuskan, bahwa kabinet (sidang menteri) tidak dapat (bisa)
memerintah, kalau suara terbanyak tidak setuju, meskipun kabinet itu dipercayai
dan diangkat raja dan dibantu Majelis Tinggi.
Dari semenjak tahun 1835 putusan itu tinggal
kekal. Raja dan Majelis Tinggi mesti menurut suara yang terbanyak. Suara itu
keluarnya dari Majelis Rendah. Sebab itulah Majelis Rendah yang berkuasa, yang
memerintah, yaitu atas suara dan kedaulatannya yang terbanyak. Itulah yang
Parlemen.
Supaya arti suara yang terbanyak itu lebih terang
bagi kita, haruslah diambil sedikit sejarah tanah Inggris pada kesudahan abad ke
19. Pada masa 2 pembesar Inggris berganti-ganti menaiki pangkat Premier, yaitu
Cladstone kepala dari kaum Liberal dan Disraeli kepala dari kaum Konservatif
itu, janganlah kita menyangka, bahwa kaum konservatif selalu menahan kemajuan.
Kebetulan banyak undang-undang yang berwujud kemajuan datangnya dari kaum
konservatif. Itulah kemasyuran Parlemen Inggris, karena beda nama, kedua kaum
itu bukan karena bermusuhan golongan selama-lamanya, melainkan sebab bertukar
paham dan pendapatan, pada suatu ketika, dan tentang suatu hal. Apabila satu
kaum yang membela, baik Liberal, baik konservatif kelihatan kesalahannya atau
sesatnya, maka suara terbanyak tadi pada kaum itu sendiri menjadi kurang, dan
kaum yang lainlah mendapat suara terbanyak, dan boleh membela negeri (naik
kabinet sampai kelihatan pula kesesatannya). Demikianlah dua kaum itu sama-sama
awas mengawasi, menjaga kewajibannya hemat-hemat, supaya ia tinggal tetap
dipercayai orang banyak. Saingan yang suci itu sangat menaikkan tanah Inggris.
Biasanya Gladstone pintar membela politik dalam
negeri dan Disraeli kuat membesarkan tanah Inggris dengan jajahan di luar
Eropa. Satu dari perkara yang merintangi pembesar-pembesar pada masa itu, ialah
nasib dan haknya kaum buruh. Itulah yang menjadi buah percaturan dalam politik
negeri. Seperti sudah juga dikabarkan lebih dulu, kaum itu berusaha supaya
wakilnya dalam Parlemen ditambah sampai cukup kuat akan merebut hak-haknya.
Sebab itu haruslah “Hak Memilih” diubah. Gladstone
yang setuju dengan kehendak itu menaikkan pertimbangan akan mengubah hak pilih
memilih itu. Tiadalah dikabulkan oleh Majelis Rendah.
Sepanjang adat Parlemen haruslah kabinet
Galdstone meletakkan jabatannya.
Demikianlah datang Disraeli mengambil urusan
negeri. Mendengar kabar itu bubarlah kaum buruh pada segenap pihak (tiada
mufakat). Disebabkan topan yang besar itu, maka Disraeli menjatuhkan perubahan
besar, yang betul mendatangkan kebajikan bagi buruh. Sekarang orang yang berhak
memilih berlipat dua banyaknya, dan lantaran itu, maka banyak wakil bertambah
pula.
Tidak beberapa lama antaranya, maka oleh karena
pilihan baru seperti terjadi tempo-tempo kaum Liberal mendapat suara yang
terbanyak. Tentulah pertimbangan yang keluar dari kabinet yang konservatif
(Disraeli) akan kalah oleh kaum Liberal dalam pengambilan suara. Sebab itulah
akan percuma saja Disraeli jadi kepala kabinet. Dia diganti oleh Gladstone.
Buah percaturan politik pada masa itu ialah satu
perkumpulan kaum buruh bernama “Trade Union“, yang sampai masa itu dilihat
semacam partai yang membujuk mogok saja dan mendatangkan celaka bagi negeri.
Sesudah disahkan kebaikannya pada satu pemeriksaan, maka pemerintah mengakui
kaum itu. Supaya kaum buruh merdeka betul, haruslah juga dihapuskan hukuman
bagi kuli-kuli yang membujuk kuli-kuli lain, supaya jangan mengganggu
pemogokan; artinya supaya tempatnya sementara mogok, jangan digantikan orang
lain (=oleh si pengecut). Tetapi Gladstone tiada mau mensahkan hak kuli-kuli
itu dan tiada mau menghapuskan hukuman atas kuli dalam hal yang tersebut. Sebab
Disraeli dari dulu sudah berjanji akan menghapuskan, maka dialah naik kembali
menggantikan Gladstone.
Disraeli sekarang perang dengan Afganistan dan Transvaal, supaya dengan jalan itu ia meluaskan dan dapat
menambah kemasyhuran kerajaan Inggris. Rakyat asyik dan sayang padanya, sebab
jasa yang besar itu, tetapi ketika mereka sadar, berapa banyak uang yang habis,
Disraeli ditewaskan kembali oleh saingannya (Gladstone).
Pasal 2. Sifat Dan Keadaan Parlemen
Yang Sejati
Berangsur-angsur kita berjalan dari anggota yang
dinamai Dewan, sampai kepada anggota pemerintah di tanah Inggris yang bernama
Parlemen, yang kita ikuti dan amati dari masa lahir dan kecilnya sampai menjadi
dewasa dan bersifat yang teguh-teguh, serta cukup untuk menyempurnai diri dan
keadaannya.
Dalam perjalanan tadi, kita melihat, betapa
banyak dan berat sengsara ditanggungnya. Kita melihat betapa dia mengalahkan
segala yang merintangi dan menghambat tumbuhnya. Tetapi kita saksikan juga
kelemahannya, seperti di tanah Jerman, sehingga dia tiada bisa merebut
kemerdekaannya sendiri, hanyalah tinggal jadi perkakasnya seorang manusia yang
bermahkota (kaisar).
Kita harap perjalanan yang panjang itu tiada
mendatangkan jemu dan bosan bagi pembaca. Berapa bagian di antara Bab atau
pasal-pasal yang sudah lalu, barangkali ada melimpahi yang perlu, yaitu
melampui wujud karangan kita hendak menguraikan apa yang dinamai Parlemen yang
sempurna. Betul kalau bagi seorang bangsa Eropa yang berpengetahuan biasa saja,
(karena selalu hari-hari melihat dan mendengar beberapa hal yang bersangkutan
dengan aturan Parlemen) beberapa dari bagian itu barangkali tiada perlu
diceritakan lagi, tetapi kita menyangka pengetahuan biasa di Eropa itu, tiada
boleh kita harapkan pada bangsa Timur dipukul rata. Dengan menceritakan sejarah
Parlemen itu seperti yang terjadi di tanah asalnya, yaitu tanah Inggris, dengan
menunjukkan kemauannya sendiri dan kemauan musuhnya; kita menyangka boleh
sampai pada maksud yaitu memperlihatkan tubuhnya Parlemen itu sama sekali
dengan jelas dan terangnya.
Berangsur-angsur kita mempelajari dan mendengar
hak dan kuasanya suatu Parlemen dan dengan ilmu yang kita peroleh itu, kita
sanggup menetapkan, apa yang dimaksud pasal ini, ialah menentukan keadaan suatu
Parlemen yang sempurna pada segenap pihaknya.
Seperti kita pelajari dalam sejarah tanah Inggris
maka perselisihan dan peperangan yang berulang-ulang itu, disebabkan oleh
kedaulatannya rakyat hendak memerintah dan mengatur keperluannya sendiri.
Haruslah kita perhatikan benar perkataan
“mengatur” dan memerintah itu, yang maksudnya ialah supaya ia diperintahi
dengan undang-undang yang terbitnya dari Parlemen rakyat, bukan dengan
undang-undang yang disorong-sorongkan saja oleh raja (Sultan) atau siapapun.
Dahulu sudah diterangkan, bahwa satu anggota
(wakil) boleh melakukan pertimbangan; apabila suara yang terbanyak dalam
pengambilan suara mengabulkan, maka pertimbangan itu boleh dijadikan
undang-undang. Tetapi jarang pertimbangan yang datangnya dari wakil boleh
menjadi undang-undang. Biasanya pertimbangan yang akan berjalan (berbuah)
datangnya dari pemerintah, yaitu “kabinet”. Maka biasanya dari satu menterilah
terbit sesuatu pertimbangan yang dinaikkan dalam Parlemen. Apabila suara yang
terbanyak dalam parlemen membenarkan, maka barulah pertimbangan tadi dijadikan
undang-undang dan barulah boleh dijalankan oleh yang memerintah (kementrian,
propinsi kota
dan kampung).
Apabila suatu undang-undang lahir (dibetulkan
Parlemen), maka seperti tersebut di atas, undang-undang itu dipulangkan ke
tangan menteri kembali, yang harus menurunkan undang-undang itu pada
anggota-anggota pemerintah yang kecil-kecil. Demikianlah menteri itu satu pusat
yang besar dari segala pemerintahan kota,
kampung atau propinsi. Anggota kecil-kecil ini menjalankan dan menghiaskan pula
undang-undang, yang turun dari pusat atau menteri tadi. Pusat itu
bermacam-macam pula, ada menteri pendidikan, ada menteri dalam negeri, dan luar
negeri dan lain-lain sebagainya. Segala menteri-menteri itu dikumpulkan menjadi
pusat yang tersebar, yaitu kabinet, dari mana segala perintah yang
bermacam-macam itu diturunkan. Seperti segala menteri berpusat di Kabinet,
demikian pula segala menteri-menteri berpusat dan dikepalai oleh seorang
Premier
.
Sungguhpun undang-undang, yang dikabulkan oleh Parlemen itu sudah dipulangkan kepada pemerintah (Kabinet), tetapi anggota-anggota Parlemen tiadalah tinggal berdiri berpangku tangan saja, dan percaya, bahwa pemerintah tadi tiada ada cacatnya (celanya). Parlemen berhak menjaga, supaya undang-undang itu dengan betul dan adil dijalankan. Kalau seorang wakil dalam Parlemen curiga atau kurang mengerti dalam sesuatu kelakukan pemerintah, maka haruslah ia bertanya dan meminta keterangan pada menteri. Dengan jelas dan terang haruslah menteri menjawab, sampai wakil-wakil pas hatinya, supaya wakilpun boleh memuaskan hati rakyat yang memilihnya. Inilah suatu senjata tajam bagi seorang wakil untuk menjaga keselamatan negeri. Menjaga supaya aniaya dan kelaliman terhindar. Bukan saja diberi hak bertanya kepada pemerintah, tetapi iapun boleh memeriksa dengan matanya sendiri. Kalau betul apa yang ditetapkan dalam pemeriksaan itu haruslah pemerintah membuang yang bersalah.
.
Sungguhpun undang-undang, yang dikabulkan oleh Parlemen itu sudah dipulangkan kepada pemerintah (Kabinet), tetapi anggota-anggota Parlemen tiadalah tinggal berdiri berpangku tangan saja, dan percaya, bahwa pemerintah tadi tiada ada cacatnya (celanya). Parlemen berhak menjaga, supaya undang-undang itu dengan betul dan adil dijalankan. Kalau seorang wakil dalam Parlemen curiga atau kurang mengerti dalam sesuatu kelakukan pemerintah, maka haruslah ia bertanya dan meminta keterangan pada menteri. Dengan jelas dan terang haruslah menteri menjawab, sampai wakil-wakil pas hatinya, supaya wakilpun boleh memuaskan hati rakyat yang memilihnya. Inilah suatu senjata tajam bagi seorang wakil untuk menjaga keselamatan negeri. Menjaga supaya aniaya dan kelaliman terhindar. Bukan saja diberi hak bertanya kepada pemerintah, tetapi iapun boleh memeriksa dengan matanya sendiri. Kalau betul apa yang ditetapkan dalam pemeriksaan itu haruslah pemerintah membuang yang bersalah.
Satu hak wakil yang terutama ialah kemerdekaannya
di dalam Parlemen. Apa saja yang terasa di hati atau terlihat di matanya bolehlah
dikeluarkannya dan tiadalah akan dituntut atau dihukum oleh barang siapapun.
Tentulah ia tiada akan mengeluarkan omong kosong saja. Hal ini akan memberi
malu dirinya sendiri, dan akan menjauhkan orang yang mengirimnya ke Parlemen.
Bukankah kemerdekaan paham dan perkataan seorang
wakil itu mestinya menjadi cermin (kaca) atas kekuasaannya rakyat yang diawasi
hak dan keperluannya? Apakah guna wakil kalau wakil itu hanyalah boleh
mengeluarkan suara yang nyaman didengar oleh pemerintah seperti saat zaman ketika
masih bersultan atau beraja?
Terkuasanya rakyat itu sudah terbanyak lebih
dahulu ketika mendirikan anggota-anggota Parlemen dengan jalan memilih. Seperti
pada masa Disraeli dan Gladstone,
kita ingat lagi beberapa perkara yang penting-penting yang digemari dan dipeluk
oleh semua rakyat. Tiap-tiap paham sendiri tentang satu perkara umpamanya
tentang “hak dan miliknya” kaum buruh. Dia sudah memutuskan sendiri dalam
hatinya, bagaimana patutnya pemerintah meneruskan keperluannya. Apabila pada
masa memilih (yaitu masa kabinet akan dibongkar dan diganti dengan yang baru)
seorang wakil umpamanya dari kaum “liberal” membuat pidato, maka orang
mendengar bolehlah memutuskan setuju atau tidaknya ia dengan paham wakil itu;
kalau tidak pergilah ia mendengar pidato seorang dari kaum konservatif. Apabila
datang waktu pemilu, maka dijatuhkannyalah suaranya pada wakil yang disukainya.
Demikianlah, kalau pemilu itu dirahasiakan, boleh kita putuskan partai mana
yang digemari oleh rakyat pada masa itu, Liberal atau Konservatif. Perbandingan
banyaknya anggota dalam Parlemen itu, bolehlah dinamai ukuran bagi kegemaran
dan kepercayaan orang banyak menghadap kepada kedua kaum yang terbesar itu.
Partai yang kuat sekali itulah sangat disukai, itulah yang kita namai
“kedaulatan orang banyak”. Bukankah perbandingan kekuatan kedua partai itu
menjadi cermin bagi perbandingan kemauan rakyat yang terbagi atas dua kaum yang
besar pula, Kuno dan Liberal?
Tiadalah perlu diuraikan panjang lebar sekali
lagi, betapa wajibnya memilih dan mengangkat kabinet (menteri-menteri) dari
kaum yang terkuat dalam Parlemen itu. Menteri-menteri dipilih dari anggotanya
Parlemen, dan tiadalah boleh dijuadahkan saja sebagai santapan, seperti pada
zaman kuno, atau pada masa Kaisar Wilhem II masih memerintah oleh karena
datangnya pertimbangan biasanya dari menteri tentulah pertimbangan itu tak
pernah ada dikabulkan dalam Parlemen, kalau kabinet diangkat dari kaum yang
terkurang. Wujudnya tentu tiadalah dapat membuat undang-undang sekarang oleh
karena cocoknya kabinet dengan Parlemen (yaitu karena partai menteri-menteri
itu yang terkuat dalam Parlemen dari mana kabinet berasal), maka hampir segala
pertimbangan dan undang-undang dengan lekas dan mudah boleh dilangsungkan,
sampai ………ya, sampai pemerintah khilaf atau salah. Dalam hal itu Parlemen ada
menaruh senjata-senjata, untuk menurunkan Kabinet itu dan mengganti dengan yang
disukai orang banyak.
Demikianlah Parlemen dan pemerintah itu tiada
tergantung di atas kayangan (udara) saja, melainkan berurat dan berakar pada orang
banyak dan kemauan pemerintah ialah kemauan Parlemen, dan kemauan Parlemen
ialah kemauan anak rakyat. Sebab mata pencaharian (sekarang ada pabrik, dan
mesin-mesin yang besar-besar, kereta api dan kastil semacam istana) dan alat
memerintah negeri pada zaman sekarang begitu sukar dan sulit, dan lagi
tiap-tiap orang tiada seperti zaman yang kuno sekali, boleh sambil memerintah,
(pada zaman kuno itu tiap-tiap orang boleh menjahit baju sendiri, memerah dan
mengembala lembu, bertanak nasi dan menumbuk; dalam pada itupun boleh ia
menghadiri vergadering negeri.)
Sekarang orang terpaksa pergi pada tukang jahit,
dan mewakilkan suaranya buat rapat negeri (parlemen) sebab dari pagi sampai
malam ia mesti kerja saja, baik di pabrik atau dimana-manapun. Maka rakyat, sungguhpun
terkuasa sekali, terpaksa memindahkan kuasanya itu atas orang yang
dipercayainya, yaitu seorang wakil. Oleh sebab wakil begitu banyak dan paham
masing-masing berlain-lainan, maka kedaulatan yang diterimanya dari rakyat tadi
diletakkannya pada kabinet, dan sebab kabinet juga banyak beranggota dan banyak
cabang pekerjaannya, maka kabinet tadi harus pula dikepalai oleh satu orang
supaya tujuan menjadi satu. Kepala itu dinamai Premier. Jadi alat memerintah,
yang begitu sulit, digenggam di tangan satu orang saja.
Bukankah aturan semacam itu bertingkah dengan
wujud Demokrasi, yang beralasan pemerintah orang banyak?
“Tidak” kata orang, yang mengandung paham
Parlementerisme (ilmu tentang parlemen) “tidak, kepala yang seorang itu tidak
tinggal turun-temurun seperti raja, karena boleh dinaik dan diturunkan oleh
rakyat sendiri”. Dengan muka yang yakin dan mata yang gilang-gemilang ia akan
berkata terus, mengatakan, bahwa aturan dan partai (Liberal dan Konservatif)
seperti di tanah inggris yang awas-mengawasi, yang selalu masing-masing siap
akan ganti menggantikan dan lantaran terkuasanya Parlemen. Akan bisa
ditanggung, supaya selalu kemauan orang banyak yang menjadi alasan, dan selalu
yang terpandai akan menjadi kepala pemerintah.
.jpg)
0 Comment for "Parlemen atau Soviet? (Tan Malaka (1921) )"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...