...sambungan...
PENDAHULUAN
Pada zaman dahulu kala, kira-kira 20 abad yang
lalu, maka bangsa Barat (Eropa) yang sekarang ini adalah tinggal dalam
kebodohan dan kegelapan. Maka kebodohan dan kegelapan ini tiba-tiba diterangi
oleh sinar yang hebat yang terpancarnya dari Timur (Asia),
oleh Agama Nasrani. Tiadalah maksud kita akan menguraikan apa, dan dari mana
asalnya, agama ini, dan berapa sangkutannya dengan agama yang lain-lain dari
Timur, umpamanya dengan agama Yahudi atau Budha. Sengaja kita, hanya hendak
mengingatkan, bahwa pergerakan Eropa dari tidurnya yang berabad-abad itu,
terutama disebabkan oleh Timur.
Bagaimanakah sekarang?
Sudah dua puluh abad yang lalu. Lebih dari lima belas abad lamanya
bangsa Barat dirintangi oleh agama saja. Peraturan negeri, ilmu kepandaian,
ilmu hukum, pendeknya segala ilmu yang menetapkan keamanan dan kesentosaan
dengan hukum, yang menetapkan keamanan dan kesentosaan di akhirat, di dalam
surga. Oleh sebab itu pulanglah aturan negeri di atas dunia ini kepada yang
ahli akan aturan negeri di akhirat itu, ialah pada Pendeta.
Lama kelamaan teranglah bagi mereka itu, bahwa
Pendeta itu manusia juga, dan dunia ini bukan akhirat. Maka dibongkarlah
kuasanya Pendeta yang begitu hebat. Bersangkutan dengan yang tersebut itu juga,
maka dibongkarlah pula kuasanya raja-raja dan bangsawan-bangsawan semuanya
dengan pikiran, usaha dan peperangan yang melenyapkan berjuta-juta jiwa
manusia. Hasilnya usaha dan pergerakan yang beratus-ratus tahun itu ialah
“akuan atas kemerdekaan dan kesamaan tiap-tiap manusia”. Kemerdekaan dan
kesamaan tiap-tiap manusia dan keamanan di atas dunia ini sudah ditetapkan
dalam ilmu sosialisme. Undang-undang yang dipilih dan disahkan supaya segala
harta manusia yang termulia itu jangan dianiaya, atau dirusakkan, ialah
Parlemen, (kata kaum Modal) dan pada masa ini gandengannya yaitu Soviet.
Sedangkan bangsa Barat sudah sampai pada
keyakinan, bahwa otak dan hati itulah harta yang setinggi-tingginya dan di atas
dunia ini tidak saja mungkin (bisa), tetapi harus datangnya damai dan
kesentosaan, maka bangsa Timur masih tinggal di kungkung (diikat) oleh adat,
masih tinggal mengejar akhirat saja dan menyia-nyiakan dunia ini masih
dibelenggu oleh beberapa kepercayaan. Semua ini melemahkan tenaga, usaha dan
kesayangan terhadap kepada dunia ini, yang penuh dengan pelbagai-bagai harta
yang tiada terpermanai indah dan mulianya, serta menumpulkan pikiran dan
perhatian kita. Apabila kita sekarang merasa dan melihat kemegahan otak dan
hati yang dipersunting bangsa Barat itu, maka sambil dalam keheranan kita
melihat kapal di atas udara dan dalam laut, mesin-mesin, dan kereta-kereta,
telephone dan telegraf, menolelah kita ke-barat dan berbisik-bisik Parlemen atau
Soviet?
Ya, Parlemen atau Soviet. Keduanya buah sengsara
dan azab manusia berpuluh beratus tahun, jasa dari usaha dan korban nyawa
ratusnya manusia yang suci dan mulia. Keduanya bagi kita harta yang tiada
ternilai tetapi semata-mata baru. Itulah maksud kita hendak memeriksa dan
perkakas ilmu yang tiada cukup, manakah di antara pelita Barat yang dua itu,
sekarang tiba-tiba menyilaukan mata kita, yang sempurna sinarnya untuk jalan
kemerdekaan dan kemuliaan kita.

0 Comment for "Parlemen atau Soviet? Tan Malaka (1921)"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...