...Sambungan ke-6...
....Para pembaca sekalian, tak terasa waktu begitu cepat berlalu, hingga aq terbuai oleh nikmatnya hiasan dunia. Waktu & kesempatan menjadi korban dari keteledoran qu, hingga saat ini, aq mencoba mempostingkan kembali tulisan tentang GERPOLEK, sambungan BAB sebelumnya. selamat menikmati...
XIII. PERANG EKONOMI
Di musim kita
Jaya Berjuang, maka Belanda tak mempunyai tempat dan tempoh untuk memperkokoh
ekonominya. Serangan dari luar dan dari dalam kota yang didudukinya memusingkan
kepalanya dan mengancam jiwanya setiap hari. Setiap jam.
Kebon, pabrik dan
tambang tak bisa dibukanya kembali. Perdagangan dengan luar negeri tak dapat
dilakukannya. Bukan saja tentara dan Laskar yang mengancam hidupnya
berterang-terangan tetapi Laskar Terpendam, barisan bumi hangus, dan sabotase
tiada memberi tempo kepada Belada buat berfikir dengan tenang. Bahkan keluar
rumahpun tiada aman bagi Belanda.
Dengan
begitu, maka ekonomi Belanda kian hari kian kalut. Tak ada ganti buat delapan
juta rupiah yang harus dibelanjakan setiap hari untuk mengongkosi serdadunya.
UANG KELUAR berat sekali buat pikulan Belanda yang sudah amat miskin itu,
sedangkan UANG MASUK tak ada.
Setelah
“Perang digencat” dan politik “Berunding” serta politik “damai” dijalankan,
maka Belanda kembali masuk kebun, pabrik, tambang dan kantor. Di Surabaya,
Semarang, Jakarta, dan Bandung, di Padang, di Palembang dan Medan; di
Pontianak, Banjarmasin, dan balikpapan; di Makasar dll, tempat dia bisa kembali
menyuruh buruh Indonesia, memegang mesin, mencangkul dan memikul. Semua
pekerjaan itu tak bisa dilakukannya sendiri. Mulailah pula dia menjualkan hasil
keringat pekerja Indonesia itu keluar Negeri berupa Karet, minyak, timah, the
gula, kina dan lain-lain. Dalam suasana “damai” itu dapatlah Belanda
memperkokoh ekonominya buat membelanjai serdadunya. Karena perdagangannya
dengan Luar Negeri itu mulai hidup kembali, maka dapatlah pula Belanda meminjam
uang dari Amerika untuk memperkuat kemiliteran, keuangan dan perekonomiannya
sendiri.
Sebaliknya
pula dia terus melakukan BLOKADE terhadap perdagangan republik. Kapal Republik
yang keluar dari Indonesia mengangkut barang dagangan DISITA atau ditembakinya.
Maksud Belanda ialah supaya dirinya sekian hari sekian kaya dan sekian kuat,
tetapi Republik sekian hari sekian miskin, dan sekian lemah. Setelah
percederaan pada tanggal 21 Juli 1947, maka hampirlah semua DAERAH-PLUS (ialah
daerah berkelebihan) makanan di pulau Jawa jatuh ke tangan Belanda. Yang
tinggal cuma daerah yang di zaman “Hindia Belanda” cuma cukup saja buat diri
sendiri atau yang dalam kekuarangan (daerah-minus) seperti Bojonegoro, Pajitan,
Yogya dan Solo. Daerah Republik yang sudah dalam keadaan kekuarangan makanan
dan pakaian itu ditambah kacau-balau pula oleh PERANG UANG yang dilakukan oleh
Belanda terhadap uang Republik. Bermacam tindakan jahat, yang langsung atau
tidak, telah dilakukan oleh Belanda, untuk memerosotkan harga uang Republik.
Akibatnya, ialah kehidupan Rakyat makin sukar karena harga uang semakin merosot
dan barang keperluan hidup (seperti makanan dan pakaian) semakin melambung
harganya. Perekonomian Rakyat, yang sudah kalut itu diperkalut pula oleh adanya
Colonne ke-5 yang dikirimkan oleh Belanda ke dalam pemerintahan administrasi
badan-ekonomi ketentaraan dll. Dengan maksud jahat, ialah memperkalut yang
sudah kalut itu.
Dalam
semangat “damai-nya” maka pemerintah kita mempermudah pula masuknya pelbagai
spion yang bertopeng “wartawan” atau wakil dari Serikat Sekerja ini atau itu.
Revolusi di zaman manakah dan dinegeri manakah yang membolehkan anggota musuh
atau sahabat musuh keluar masuk ke tempat-tempat yang penting bagi pertahanan,
seperti Malang, Cirebon dan lain-lain? Puluhan tahun setelah Revolusi BERHASIL,
pula maka pemerintah Rusia masih tiada semudah pemerintah Republik Indonesia
mengizinkan orang yang keluar-masuk dimana Revolusi itu sedang berlaku dengan
hebatnya. Kegampangan keluar masuknya bangsa Asing (termasuk bangsa musuh atau
konconya musuh) mempermudah Belanda mencari bagian yang lemah dalam
kemiliteran, politik dan ekonomi kita! Juga ekonomi! Karena dengan mengetahui
keadaan ekonomi dan harga barang di pedalaman maka Belana dengan mudah dapat
menjalankan perang-ekonomi dan perang-uangnya.
Kita tahu
bagaimana Belanda menyuruh tengkulaknya membeli makanan sayur, hedan dan
lain-lain dari daerah Republik dengan ORI yang tak ada harganya di daerah
pendudukan Belanda. Tetapi Rakyat harus menukarkan uang ORI dengan rupiah
Belanda, kalau berada di daerah pendudukan, untuk beli semacam itu Belanda
MEMBELI-MURAH kepada Republik Indonesia segala barang yang dibutuhkannya.
Sebaliknya dia MENJUAL MAHAL kepada Republik segala barang yang dibutuhkan oleh
Rakyat Indonesia. Dengan begitu maka uang ORI terus merosot! Sebanding dengan
itu pula maka harga barang keperluan hidup sehari-hari buat Rakyat semakin
melambung harganya.
Untuk
memperbaiki perekonomian Rakyat Indonesia belumlah cukup mendirikan apa yang
dinamakan “Braintrust” (Gabungan Otak) itu. Perbaikan perekonomian Rakyat
Indonesia haruslah diperbaiki dengan pertolongan Rakyat sendiri dan watak
Rakyat sendiri. Tani, buruh, pedagang Indonesia sendiri harus campur dengan
merencanakan produksi (penghasilan), distribusi (pembagian) serta pertukaran
barang. Tidak cukup selusin atau lebih orang yang bertitel ini atau itu saja
memikirkan begini atau begitu buat kaum buruh dan tani, tanpa membawa buruh dan
tani itu sendiri ke dalam kincir Produksi dan distribusi. Tetapi buruh dan tani
Indonesia cuma baru akan giat bekerja, kalau mereka merasakan sendiri faedahnya
rencana ekonomi yang begini atau begitu.
Kalau sesuatu
“Braintrust” itu merencanakan produksi dan distribusi itu cuma buat kepentingan
segelintir dua manusia saja, rencana itu tak akan kekal hidupnya di Indonesia
ini. Apalagi kalau rencananya “Braintrust” itu harus pula disandarkan kepada
“Kerjasama” dengan Belanda dan Modal Asing lainnya. Rencana semacam itu akan
menjadi rencana Modal Asing saja. Dan “Braintrust” itu akan menjadi kuda-beban modal
Asing itu saja. Penyakit perekonomian Rakyat Indonesia sudah sampai begitu
mendalam disebabkan oleh wabah kapitalisme Belanda selama 350 tahun dan wabah
kapitalisme-militerisme Jepang selama 3½ tahun. Penyakit perekonomian Rakyat
tak bisa diobati pel dan pudar lagi, melainkan harus disembuhkan oleh OPERASI
oleh pembedahan. Terutama sekali perekonomian Rakyat Indonesia baru dapat
diselenggarakan dalam Republik yang merdeka 100%, yang SEKURANGNYA 60% memiliki
dan menguasai produksi, distribusi, upah, export, dan import (LIHAT RENCANA
EKONOMI oleh TAN MALAKA). Rencana yang dibikin oleh berlusin-lusin “Braintrust”
dalam suasana “kerja-sama” dengan modal besar Asing akan berakhir dengan
pemerasan dan penindasan atas buruh dan tani Indonesia belaka.
Kami merasa
wajib memperingatkan hal tersebut di atas kepada KAUM MURBA!!!
Tetapi
tiadalah pula berarti, bahwa dalam revolusi ini kaum Murba (buruh, tani,
pedagang dan Rakyat serta intellect jembel!) haruslah berpangku tangan saja!
Kaum Murba harus tunda Rencana Ekonomi tulen, besar-besaran, sampai Revolusi
ini selesai dengan kemenangan bagi Murba. Tetapi selama Revolusi ini
berlangsung, maka kaum Murba harus pula menjalankan Rencana Ekonomi. Rencana
itu tak lain hanyalah Rencana-Ekonomi Perang.
Dalam Perang
Ekonomi melawan Belanda itu, semua sikap dan tindakan Ekonomi harus ditujukkan
kepada Belanda, ialah:
- Mengambil Sikap dan Tindakan dalam Ekonomi (yaitu dalam produksi, distribusi dan lain-lain) yang bersifat merugikan perekonomian Belanda.
- Mengambil Sikap dan Tindakan dalam ekonomi yang bersifat menguntungkan Rakyat yang ber-revolusi.
Berhubung
dengan (1), maka Rakyat revolusioner janganlah sekali-kali membantu memperbesar
produksi dan perdagangan (distribusi) Belanda!! Sebenarnya lebih efektif (lebih
besar hasilnya) kalau di daerah pendudukan Belanda kaum buruh sama sekali tiada
mau bekerja dalam kebun, tambang, atau pabrik dan kantor Belanda. Ditambah pula
kalau Rakyat sama sekali tiada mau membeli barang dari saudagar Belanda dan
tiada mau bekerja dengan Belanda. Hati lemah, keadaan hidup dan 1001 alasan
bisa mengizinkan Rakyat Revolusioner bekerja juga dengan Belanda. Memang pula
bisa dimasuki perusahaan Belanda itu dengan maksud mengadakan SABOT dari dalam
atau mendirikan barisan terpendam. Tetapi tak ada orang yang bisa menyangkal,
bahwa BOYCOTT-KERJA dan BOYCOTT BELILAH senjata paling efektif terhadap Belanda
ceroboh itu!!
Sebaliknya
pula berhubung dengan (2), maka semua sikap dan tindakan harus diambil untuk
memperbesar produksi dan memperbaiki distribusi bagi Rakyat kita sendiri.
Haruslah pula terutama dipikirkan, bahwa tani tak akan menghasilkan lebih dari
pada keperluannya sendiri, kalau kelebihan-hasilnya itu tiada dapat
ditukarkannya dengan pakaian, cangkul, garam, minyak dan lain-lain. Jika petani
tiada dapat membeli keperluan, yang harus dibelinya itu, maka dia tiada akan
menghasilkan lebih dari pada keperluan keluarganya sendiri. Dengan demikian
maka hasil tani akan susut, merosot!
Tetapi kalau
kaum tani cuma dapat membeli barang asing saja (kain dan lain-lain), maka
pedagang asing dan pabrik asing saja yang beruntung. Jadi supaya untung jangan
jatuh ke kantongnya musuh untuk membelanjai serdadunya, dan supaya tani
mempertinggi hasil, maka haruslah Rakyat sendiri mendirikan pelbagai perusahaan
yang dibutuhkan oleh Rakyat kita sendiri.
Memang kita
tahu, bahwa perusahaan modern dengan mesin modern, baru bisa kita bangunkan
setelah kita merdeka. Tetapi kita semua tahu pula, bahwa kita ratusan tahun
lampau sudah pandai memintal benang dan menenun kain, membikin kapak, pacul,
minyak, garam dll. Di waktu belakangan ini sudah pula kita bisa membikin kecap,
tahu, tempe dll! Walaupun belum secara modern, besar-besaran, kita pula sudah
mempunyai mesin buat bikin kain, kertas, kina, alkohol, es dan lain-lain.
Siasat
ekonomi kita haruslah menambah apa yang sudah ada. Para ahli kita hendaknya
terus memikirkan dan mendapatkan perkakas dan obat-obatan seperti dari zaman
Jepang sampai sekarang. Hasil yang menggembirakan kita sampai sekarang ini,
harus diperbesar dan diperbaiki.
Selain dari
pada semuanya itu, maka sistem KOPERASI-lah yang harus mengisi apa yang kurang
dalam PERANG EKONOMI kita menghadapi ekonomi musuh. KOPERASI itu adalah satu
SENJATA EKONMI yang hebat bersama dengan senjata politik serta KARABIN dan
GRANAT ditangannya SANG GERILYA. Sang Gerilya harus bisa menyelenggarakan
KOPERASI itu dimana saja dia berada di kota, di desa dan di gunung. KOPERASI
sebagai pengisi perekonomian Rakyat dan pembantu politik serta gerilya itu
adalah berbagai macam, yakni:
- Koperasi produksi (penghasilan).
- Koperasi distribusi (pembagian).
- Koperasi pengangkutan.
- Koperasi Kredit (keuangan).
- Koperasi pasar
Kelima
Koperasi itu bilamana saja dan dimana saja dapat dan harus diusulkan dijalankan
dan diawasi oleh Sang Gerilya.
Di kota dapat
didirikan KOPERASI PRODUKSI (membikin pacul, kain, alat perkakas, dan
lain-lain); KOPERASI DISTRIBUSI (barang dagangan seperti kain, alat perkakas
dan lain-lain); KOPERASI PENGANGKUTAN untuk mengangkut barang dari tempat ke
tempat; KOPERASI KREDIT buat mendapatkan modal dengan jalan iuran sesen dua
sen, atau serupiah dua rupiah. KOPERASI PASAR, ialah mengendali harga barang di
pasar.
Di desa atau
di gunungpun dapat didirikan koperasi, terutama koperasi produksi (pertanian)
dan koperasi pengangkutan dan koperasi credit.
Maksud
koperasi yang pertama, ialah buat mendapatkan harga semurah-murahnya bagi
anggotanya. Untung yang dibikin sekecil-kecilnya itu, boleh dipakai untuk
memperbesar organisasi sendiri; untuk kepentingan sosial serta untuk
kepentingan perang-gerilya. Dalam maksud itu sudah terkandung pula pembelaan
diri terhadap perekonomian musuh yang bersifat kapitalis dan imperialistis itu.
Akhirnya koperasi dalam ekonomi itu memberikan LATIHAN, yang tepat dan praktis
buat melaksanakan PERSATUAN dan menghidupkan kembali semangat TOLONG BERTOLONG,
dan GOTONG ROYONG di antara Rakyat kita di kota, desa dan gunung.
KOPERASI itu
memberi kesempatan penuh kepada seseorang pahlawan Gerilya untuk melaksanakan
serta mempertinggi kesanggupan sebagai PEMIMPIN. Tidak saja di lapangan
keprajuritan, tetapi juga di lapangan politik dan ekonomi Sang Gerilya melatih
dan menggembleng dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin bangsanya itu. Sang
Gerilya, sebagai pemimpin pertempuran, pemimpin politik dan perekonomian pada
salah satu daerah, adalah pemimpin Negara dalam arti-sempit. Supaya sanggup
menjalankan pimpinan yang sempurna atas lingkungannya itu, maka Sang Gerilya
haruslah mempunayi cukup pengetahuan tentang kemiliteran, politik dan
perekonomian, terutama dalam hal ini, ialah tentangan Koperasi. Tetapi tak
kurang pentingnya, ialah SIKAP SOSIAL, SIKAP KEKELUARGAAN yang harus dimiliki
oleh Sang Gerilya sebagai pemimpin Sosial itu.
Pengetahuan
tentang dasar, undang-undang, organisasi dan administrasi yang mengenai
koperasi dapat dipetik oleh Pemimpin Gerilya itu dari beberapa Risalah, yang
sudah disebarkan disekitarnya. Tetapi sikap-sosial, yang harus dimiliki olehnya
sebagian adalah pembawaannya sendiri dan sebagian lagi boleh diperolehnya
dengan jalan latihan dan gemblengan diri sendiri.
Demikianlah
di waktu terluang, di waktu tiada berlatih dan bertempur, Sang Gerilya
mengadakan perhubungan jiwa yang serapat-rapatnya dengan masyarkat
disekitarnya. Dia berlaku seperti adik kepada yang lebih tua dan sebagai kakak
atau bapak terhadap yang lebih muda. Barang pinjaman dikembalikannya dalam
keadaan baik! Semua hutangnya dibayarnya! Keteledoran orang lain tentang
pinjaman dan hutang itu ditegornya dan dibetulkannya dengan suara lemah-lembut.
Yang sakit dicarikan obat! Yang mendapat kecelakaan ditolongnya! Dia senantiasa
pula membangunkan perasaan tolong bertolong pada mereka yang berada
disekitarnya. Dalam waktu terluang dia memberantas buta-huruf dan mengerahkan
semua tenaga kejurusan itu. Dia tahu, bahwa kebodohan dan kegelapan adalah
temannya kapitalisme-imperialisme. Sebaliknya pula pengetahuan yang disertai
budi-pekerti adalah jiwa kekuatan sesuatu bangsa. Sang Gerilya mengerahkan
teman-temannya untuk membantu petani mengerjakan sawah-ladangnya di waktu
terluang, dan membantu kaum buruh dalam pekerjaannya. Dia mengerti pula, bahwa
kemakmuran adalah tulang punggungnya perjuangan.
Ringkasnya
tak ada cabang penghidupan yang luput dari matanya dan terlepas dari pada
perhatiannya Sang Gerilya. Disamping itu; SEGALA HUTANG DIBAYARNYA DAN SEGALA
JANJI DITEPATINYA.
Dengan
perhubungan jiwa yang rapat antara Sang Gerilya dengan Rakyat Murba
disekitarnya, maka pimpinan yang dilakukannya itu, adalah satu pimpinan-kekal
yang tiada mudah buat ditiadakan oleh lawan dan musuh. Seandainya, untuk waktu
yang lama atau sebentar, Sang Gerilya terpaksa meninggalkan tempatnya semula,
maka ditempat yang ditinggalkan itu akan tetap ada pengikutnya yang akan
meneruskan pekerjaannya, sebagai pemimpin baru. Seandainya dia harus berpisah
dengan tempat itu, lama atau sebentar, ditempat tadi dia akan mempunyai BARISAN
TERPENDAM yang kuat dan boleh dipercayai! Hasrat hidup serta pekerjaannya akan
terlaksana terus! Rakyat yang bisa mengatur ekonominya sendiri dan
sewaktu-waktu bisa mengadakan Pemimpin Baru dari anggotanya sendiri bila saja
dan dimana saja tak akan bisa dikalahkan dengan tank dan pesawat terbang saja!
Perang
ekonomi yang dilakukan oleh musuh itu, oleh Rakyat Indonesia, yang menduduki
alam yang Maha-Kaya dan Maha-Murah ini, bisa dijawab dengan Perang Ekonomi
pula: Baru disinilah PERANG EKONOMI itu berarti sama dengan EKONOMI PERANG.
Labels:
Sejarah
Thanks for reading GERPOLEK-Tan Malaka. Please share...!

0 Comment for "GERPOLEK-Tan Malaka"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...