BAB VI
SOVIET
Sungguhpun kita menaruh keyakinan, bahwa zaman
komunisme mesti datang, tetapi tidak sekejap juga kita lupa bahwa kita masih
hidup dalam zaman kapitalisme. Sungguhpun kita tidak seperti kaum Sosial-
Demokrat mengandung pengharapan atas suatu parlemen, semacam suatu anggota yang
bisa menyampaikan maksud kita, tetapi kita bukan utopisten (pemimpi) atau
anarkis, yang menyangka bahwa sosialisme itu akan datang saja sesudah segala
lembaga-lembaga yang berkuasa dijatuhkan.
Kita tidak lupa, bahwa sifat-sifat manusia yang
buruk itu, tidak bisa tiba-tiba hilang sama sekali, begitupun sifat-sifat yang
baik itu, tiadalah bisa kita dapat dalam seketika saja. Sejarah pun menyaksikan
sudah bahwa kesempurnaan sifat suatu hewan atau manusia itu datangnya sesudah
beratus-ratus, ya beribu-ribu tahun. Sengaja kita menceritakan Parlemen dengan
jalan historis supaya kita boleh buktikan bahwa Parlemenpun ada mempunyai umur
kanak-kanak, dewasa, dan umur ketuaan.
Oleh karena kita tahu, bahwa komunisme itu, yaitu
lahirnya dari kapitalisme, sebab itulah kita memandang penting sifat-sifatnya
kapitalisme yang mesti kita tambah terus atau disempurnakan itu, tetapi oleh
karena peraturan kapitalisme bertentangan dengan keperluan kaum Buruh, karena
gunanya ialah untuk mengikatkan hidup keburuhan (proletar), maka terpaksalah si
buruh mengambil peraturan lain, yang bertentangan sifatnya dengan peraturan
kemodalan tadi.
Berhubungan dengan keterangan di atas, maka kaum
komunis membagi perjalanannya atas tiga tingkat.
A. Tingkat yang pertama masih berdiri
dalam Kapitalisme.
Artinya itu sebelum datang saatnya itu dimana
kaum buruh bisa menjalankan peraturan sendiri, yang bertentangan dengan
peraturan Kapitalisme tadi, maka ia mesti bersiap supaya kelak semuanya
dilakukan dengan teratur dengan serukun. Dalam zaman Kapitalisme ini ia mesti
membangun lembaga-lembaga, yang bersifat Komunsime, yang tidak bisa dimasuki
oleh pengaruhnya Kapitalisme.
Dua senjatanya kaum buruh yang terutama kelak
akan menyampaikan niatnya yakni serikat buruh dan organisasi politik. Yang
pertama kewajibannya mengangkat senjata ekonomi, yang baru bisa tajam, kalau
sudah dimasuki politik, yaitu politiknya kaum Buruh sendiri. Kalau sesuatu
serikat buruh dicampuri oleh politiknya kaum Sosial Demokrat, yakni kaum yang
tidak berani memutuskan perhubungan sama sekali dengan kaum modal, yang
meniru-niru taktik atau politiknya kaum Modal itu dalam serikat buruhnya, maka
maksudnya kaum Buruh tidak bisa sampai.
Kalau saatnya datang, dimana kaum buruh mesti
sendiri mengatur ekonomi, maka pemimpin-pemimpin dari kaum Sosial Demokrat tadi
menarik dan menakuti hati kaum buruh. Oleh karena urusan orang dan uang dalam
tangannya maka anggota-anggota serikat buruh menyangka pemimpin yang berhaluan
Sosial Demokrat itu semacam seorang pejabat, yang mesti diikuti saja, yang
tidak mau dicela atau dibantahi. Hasilnya pergerakan serikat buruh semacam itu
tiadalah ada cuma untuk tiap-tiap penaikkan gaji dua atau tiga sen, yang
menyebabkan harga barang-barang selalu dinaikkan.
Sebab itu haruslah politiknya serikat buruh itu
berdasar ”tidak” menaruh kepercayaan, yakni atas keselamatan hidup, dalam
negeri berdasar kapitalisme. Meskipun ia tiap-tiap mesti bikin aksi untuk
penaikkan gaji, yang kerendahan, tetapi maksudnya yang lebih jauh dan lebih
mulia tiadalah boleh dilupakan yakni: ”Kelak akan mengurus ekonomi negeri untuk
semua yang kerja”.
Lantaran itu sesuatu serikat buruh mesti selalu
mengandung cita-cita yang lebih tinggi dari cita-cita uang saja; ia mesti
mengandung politik komunisme. Sudahlah terang bahwa politiknya kaum komunis itu
tidak politik damai dengan kaum Modal. Selalu ia berkewajiban, baik dalam
parlemen maupun dalam organisasi ataupun dalam Vergadering, memeriksa argumen
(sebab-sebab) kaum Modal dalam politiknya terhadap pada kaum buruh. Begitupun
ia wajib menjaga supaya kelembekannya kaum Sosial Demokrat jangan merusakkan
hati dan keyakinan kaum buruh. Sebab kekerasan itu, dan selalu ia mesti keras,
lagi pula lantaran tidak lekas mendapat hasilnya pergerakan, malah selalu dapat
nistaan dari pihak manapun, maka partai komunis itu dimana-mana kecil saja.
Tetapi tidak banyaknya anggota yang bisa
menyampaikan maksud itu, melainkan isinya tiap-tiap anggota, yakni sifat
keberanian, kelurusan dan kepintaran. Ketahuilah, bahwa tingkat yang kedua itu
sukar sekali.
B. Tingkat kedua perlu untuk melangkah
kepada zaman komunisme, dan untuk membatah sifat-sifat kemodalan.
Tingkat ini dinamai juga ”Diktatornya kaum
Proletar”. Artinya itu, pada waktu ini kaum buruh terpaksa mengadakan lembaga
dan undang-undang yang bertentangan dengan keperluannya kaum modal. Karena
sifat-sifatnya peraturan ekonomi, pendidikan, engadilan, militer,
parlementerisme dan sebagainya sama sekali bertentangan dengan keperluannya
kaum buruh, maka haruslah dibangunkan pula lembaga-lembaga yang melawan sifat
kemodalan dan mengandung bibit sosialisme.
Lembaga kaum buruh itu tentulah tidak bisa
dibangunkan dalam zaman kapitalisme, melainkan dalam waktu dimana kekuasaan
sama sekali sudah jatuh di tangan kaum buruh. Jatuhnya itu sekali-kali tidak
perlu dengan jalan pemberontakan (revolusi) saja. Sedangkan di tanah Rusua,
revolusi ketika naiknya kaum Bolshevik itu tiadalah begitu hebat kalau
dibandingkan dengan revolusi di tanah Perancis (1789).
Sebenarnya ialah karena ekonominya tanah Rusia
lantaran peperangan besar tahun 1914 ini jatuh sendiri. Kaisar Rusia tidak bisa
perang terus, sebab uang habis, Rakyat kelaparan, serdadupun kekurangan obat
bedil dan senjata. Kerajaan itu dijatuhkan oleh kaum kapitalis di bawah
pimpinan Milyukof, dan Republik kemodalan ini dijatuhkan pula oleh kaum Sosial
Demokrat yang dipimpin oleh Karenski. Kaum ini tidak bisa memutuskan
perhubungan dengan lembaga-lembaga kaum modal sama sekali, dan tidak bisa
memberi makanan, rumah-rumah dan pakaian pada Rakyat yang dalam kemelaratan
sangat, dan terutama sekali tidak bisa memperhentikan peperangan untuk kaum
modal serikat (Inggris, Perancis dsb). Sebab kemelaratan Rakyat
bertambah-tambah, maka tibalah saatnya bagi kaum Bolshevik untuk mengatur
ekonomi negeri.
Adapun peraturan itu bolehlah kita bagi dua yakni
peraturan ekonomi (pabrik, bank, tambang, spoor tanah dan sebagainya) dan
peraturan batin, sebagai politik, pengadilan dan pendidikan. Pada tiap-tiap
pabrik tambang atau spoor, maka kaum buruh sendiri sudah mengadakan komite di
lembaga mana sekarang jatuh kekuasaan. Komite kaum buruh inilah sekarang yang
menggatikan majikan, dialah yang memeriksa produksi satu-satu pabrik, yang
sekarang dijalankan bukan lagi untuk si Kapitalis, yang tahu diuntung saja,
melainkan untuk Rakyat yang bekerja. Dahulunya pemimpin yang terpelajar pada
sebuah pabrik (opzichter, bookhouder dan insinyur) kerja untuk meajikan, tetapi
sekarang terpaksa disuruh kerja untuk Rakyat. Sungguhpun begitu tiadalah
dilupakan yang mereka terpelajar itu mesti mendapat penghidupan yang sempurna.
Karena insinyur, bokkhouder atau opzichter itu asalnya dari kaum kapitalis,
maka tiadalah ia menyetujui haluan kaum Bolshevik. Dengan bermacam-macam
muslihat, (sabotase) ia berdaya upaya supaya produksi pabrik menjadi kurang
supaya peraturan Bolshevik boleh dibilang salah.
Tentulah sabotase itu mudah dilakukannya, karena
ia pintar.
Teranglah hal ini mendatangkan permusuhan dengan
kaum buruh yang kerap kali mendatangkan paksaan yang lebih besar.
Berulang-ulang kita sudah bicarakan, bahwa Bank
itu pada masa sekarang besar sekali pengaruhnya. Di mana-mana ia meminjamkan
uang sama satu pabrik atau perusahaan kebun, sehingga industri sesuatu negeri
biasanya takluk pada Bank itu. Pun di Rusia kelihatan kekuasaannya. Pabrik-pabrik
yang sudah jatuh di tangan kaum buruh tiada akan dipinjami uang lagi oleh tuan
bank, kalau masih diadakan kontrolnya kaum Bolshevik. Lantaran ini, maka
sesuatu pabrik niscaya mesti ditutup atau dihapuskan kaum buruh, supaya si
Kapitalis bersimaharajalela kembali seperti dahulu kala.
Tanah-tanahpun banyak jatuh di tangan atau
pengaruhnya Bank. Barangsiapa meminjam uang, maka bank itu meminta jaminan,
sehingga dengan jalan ini banyak tanah dimilikinya. Sungguhpun serdadu-serdadu
yang lari atau pulang dari medan peperangan dan Rakyat dalam kelaparan, tetapi
hasil tanah-tanah itu masih diperniagakan oleh spekulator bank sehingga
harga-harganya makin lama makin naik.
Dalam pemerintahan pun kelihatan pengaruhnya.
Sosial Demokrat Kerenski sudah bisa membikin undang-undang untuk mendirikan
rumah-rumah atau memberi makan dengan harga murah pada Rakyat yang dalam
kemelaratan tadi. Tetapi semua tidak bisa dijalankan sebab menteri keuangan
menjalankan sabotase (halang-halangan) dengan biro-bironya. Apabila menteri itu
dipecat, maka ia dapat pertolongan besar dari Bank.
Bukankah terang perhubungan Bank dengan
Pemerintah Negeri? Pengaruh Bank yang begitu besar yang bisa merusakkan daya
upayanya kaum buruh barulah bisa dihapuskan sesudah bank itu dijadikan Bank
Rakyat dan uang-uangnya dijalankan untuk keperluan Rakyat.
Dahulunya perniagaan itu dijalankan untuk mencari
keuntungan bagi dua tiga orang dalam negeri. Kalau barang banyak, maka harganya
jatuh. Sebab itulah barang itu ditahan-tahan oleh orang yang bermodal besar supaya
ia bisa mendapat untung berlipat ganda. Sekarang perniagaan itu dalam negeri
dihilangkan sehingga harga turun naik itu pada hal mana Rakyat juga yang dapat
celaka, hilang pula. Perniagaan cuma terjadi dengan negeri luaran, yaitu dalam
barang-barang yang perlu dipakai dalam pabrik. Dan yang tidak didapat di tanah
Rusia.
Demikianlah ringkasnya peraturan ekonomi yang
dilakukan oleh kaum Bolshevik, yaitu menjatuhkan segala perkakas mengadakan
hasil (tanah, tambang, pabrik dsb) atas tangan Rakyat atau wakilnya sendiri.
Segala politiknya, berasal dari peraturan itu juga, yaitu menjaga, supaya kaum
Modal dalam negeri dan musuh di luar negeri jangan merusakkan peraturan itu
baik lahir (dengan jalan berperang) maupun batin (sabotase). Demikianlah
lahirnya peraturan Soviet, yang bukan baru atau buah pikiran saja, melainkan
pendapatan Rakyat sendiri dalam pergerakannya. Peraturan Soviet itu sudah
dilakukan juga pada tahun 1870 (di tanah Perancis), sungguhpun tidak bisa
berdiri beberapa lama, sifat-sifat Soviet itu bertentangan dengan sifat-sifat
Parlemen.
Seperti Parlemen mempunyai sifat untuk
mengekalkan si Buruh, demikianlah sifat Soviet itu untuk menghilangkan
kemodalan. Seperti wakil dalam Parlemen terutama mewakili harta benda,
begitulah Soviet itu mewakili Rakyat dan datangnya wakil bukan dari atas
melainkan dari Rakyat sendiri.
Yang terutama sekali harus dihilangkan sifat
birokratis itu. Sebab itulah, maka wakil itu tidak mesti membikin undang-undang
saja (Parlemen), tetapi haruslah membikin dan menjalankan undang-undang sama
sekali. Seperti dalam suatu Kongres, maka yang memvoorstel itulah pula yang
biasanya menjalankan. Bukanlah seperti dalam negeri beralasan Parlementerisme,
yang membikin undang-undang itu dipisahkan dengan yang menjalankan, sehingga
biro-birolah yang berkuasa. Lagi pula, haruslah wakil yang tiada sanggup atau
kelihatan tidak sanggup, atau curang, dalam segenap waktu boleh dipecatkan.
Sebab itu, waktu memilih itu jangan sekali dalam
3 atau 6 tahun umpamanya. Dengan jalan ini, wakil itu bisa sekali campur dengan
Rakyat dan Rakyat selalu bisa memeriksa pekerjaannya, dan tiadalah sempat ia
menjadi pejabat yang percaya sama laporan-laporan saja, sehingga ia menjadi
bertentangan dengan Rakyat.
Peraturan Soviet itu, tiadalah sukar melukiskan:
Keterangan:
Sebuah negeri ada mempunyai desa-desa, yang
biasanya menghasilkan padi atau gandum, dan kota-kota, dimana terkumpul pabrik
bermacam-macam barang dan spoor. Di desa tinggal pak tani, dan di kota tinggal
kaum buruh.
Sekarang tiap-tiap desa haruslah mengadakan
Soviet sendiri. Anggotanya dipilih oleh desa itu dengan ”hak pilihan” yang
cukup. Anggota-anggota itu sering-sering dikirim ke kota untuk membicarakan ini
itu. Umpamanya berapa ia harus mengadakan gandum, supaya kelebihan gandumnya
itu boleh ditukarkan dengan barang-barang pabrik (barang-barang besi, minyak
tanah, kertas dan sebagainya).
Di kota bolehlah ia bertemu dengan wakil-wakil
desa lain, dan wakil-wakil buruh kota itu sendiri. Pendeknya wakil-wakil desa
A, B, dan C seringkali datang menghardiri Kongres di Kota D (Lihat Gambar).
Kembali dari Kongres ia menceritakan pendapatnya pada kaum tani di desanya, dan
sesudahnya ”vergadering Desa” ia turut campur kerja bertani dan campur
bergaul-gaul seperti orang bersaudara.
Di kota pun sendiri sering-sering diadakan
kongres untuk kaum buruh pabrik atau spoor pada seluruh kota itu. Perkara
wakil-wakil adalah seperti dalam Kongres juga dan sesudah Kongres, maka kaum
buruh tadi kembali di pabrik dan sebagainya.
Oleh karena satu daerah (distrik) berbeda
keperluan dan hasilnya dengan daerah lain dan juga untuk mempersatukan seluruh
negeri, maka perlu diadakan kongres negeri pada ibu kota. Di sana berkumpul
wakil-wakil dari segala kota-kota. Di sana dibicarakan pertukaran hasil suatu
kota dengan kota yang lain, di sana dibicarakan politik umum.
Di tanah Rusia Soviet negeri itu mempunyai 2500
wakil. Inilah anggota pengganti Parlemen pada zaman Kapitalisme. ”Soviet
Negeri” ini membikin kongres 2 kali satu tahun. Di antara wakil-wakil itu juga
dipilih untuk menjalankan undang-undang, yang sudah ditetapkan dalam kongres
tadi. Jadi pekerjaannya hampir sama dengan ”Dagelijksech Bestuur” pada suatu
Vereeniging. Dia kerja sampai kongres dimuka.
Sesudah kaum Bolshevik berkuasa sendiri, maka
barulah ia dapat mengadakan ”Pengadilan” yang berdasar lain daripada pengadilan
zaman kapitalisme. Oleh karena dalam zaman kapitalisme, hakim-hakim itu asalnya
dari kaum uang juga, dan didikannya kemodalan, maka tiadalah kita heran kalau
perasaannya bertentangan dengan perasaan kaum buruh.
Lagipula yang miskin dalam negeri tiadalah mampu
membayar hakim yang pintar, sehingga dalam perlawanannya dengan kaum modal
tentu akan kalah saja. Bagaimana pengaruhnya uang kita boleh ingat perkara
Caillieux di tanah Perancis kira-kira 1914. Sungguhpun isterinya membunuh
seorang redaktur, yang ternama pandai, tetapi kecerdikan hakim mempertahankan
istrinya itu bisa membebaskan dia sama sekali. Misal itu kita boleh tambah
dengan seberapa saja. Kita boleh pastikan bahwa yang kaya atau kuasa dalam
negeri itu kerap kali bisa dapat bebas, sedangkan si buruh yang mencuri barang
sedikit saja sebab kelaparan hampir selalu kena hukuman. Sungguhpun suatu
”teori hukum dan hakim” (dalam cita-cita) ada sempurna, tetapi karena peraturan
Kapitalisme, maka yang miskin dan bodoh itu juga yang kena timpa.
Kita yakin, yang Rakyat sama sekali bisa pandai
sendiri menimbang apa yang dinamai adil dan apa yang tidak. Kalau pengadilan
itu sebelah-sebelahnya dijadikan umum, dan artinya umum itu, yaitu kalau
siapapun boleh turut bicara mempertahankan diri atau dirinya orang lain,
niscaya perasaan Rakyat akan bertambah-tambah. Begitu juga keberanian dan kepintarannya
berbicara. Hal ini bolehlah disaksikan dengan sejarah juga.
Di minangkabau, dimana famili Negara itu
kira-kira 100 tahun lalu berdasar demokrasi, tiap-tiap orang tahu
undang-undang, dan tahu menjalankan undang-undang. Pada masa itu baik laki-laki,
baik perempuan, ya kanak-kanak gemar bicara gemar mengunjungi suatu perkara
(rechtszaak) dimana tiap-tiap orang merdeka berbicara. Seorang yang paling
miskin pun boleh menuduh, boleh menjadi saksi.
Pengadilan pada ”masa adat” itu adalah umum
sekali, dan termasuk sekali pada hati dan pikiran seluruh Rakyat Minangkabau.
Beberapapun sukarnya perkara, selalu ia dilakukan Rakyat sendiri. Tetapi
sesudah ”Pengadilan Rakyat” itu diganti dengan anggota ”Pengadilan Pemerintah
zaman sekarang”, maka segala pengetahuan Rakyat dalam hal undang-undang itu
hampir sama sekali hilang, begitu juga kepandaian dan bijak berbicara. Sisa
peraturan yang kuno itu sekarang di Mingangkabau masih didapat pada orang-orang
tua baik laki-laki, baik perempuan; mereka masih kenal adat dan undang-undang
di luar kepala.
Daya upaya kaum Bolshevik, juga hendak
membangunkan Pengadilan Rakyat. Sungguhpun cita-citanya itu tidak besok atau
lusa boleh didapat, tetapi peraturannya sekarang lambat laun bisa menaikkan dan
menyempurnakan persamaan keadilan seluruh Rakyat. Maka cara-caranya pengadilan
kaum Buruh Rusia hampir seperti di Minangkabau juga. Segala Rakyat dalam satu
pergaulan, baik di desa baik di pabrik turut campur, dan putusannya jatuh pada
vergadering juga. Kalau mereka yang hadir tidak tahu jalan, barulah di tolong
hakim-hakim yang terpelajar. Tentulah maksudnya akan menghilangkan hukuman yang
menghinakan, karena hukuman yang berat bagi seorang manusia ialah peringatannya
(kesadaran) sendiri. Bahwa segala teman-temannya melihat dia seperti orang
bersalah. Malu itu lebih berat dari ”tutupan” atau ”perantaian” (sungguhpun
dulu di Minangkabau seorang pembunuh boleh didenda saja. Tetapi pembunuh adalah
jarang sekali. Perkara-perkara biasanya tidak disebabkan oleh curi-mencuri).
Juga perkara pendidikan tiadalah disia-siakan.
Pendidikan pada zaman kaum Modal, yang mengekalkan kemodalan juga, ditukar
dengan didikan yang betul-betul mendidik segala Rakyat. Barang siapa pandai
dalam suatu hal, maka kepandaian itu akan diteruskan. Umpamanya seorang anak
kaum buruh pabrik yang pintar berhitung dan suka pada mesin-mesin akan diajar
menjadi insinyur. Sebaliknya pula, meskipun ia anak seorang majikan atau
pembesar negeri, tetapi, kalau ia menjadi kaum buruh pabrik saja, atau menjadi
pengarang atau yang lain-lain, yang semuanya perlu dalam sesuatu pergaulan
hidup. Dengan jalan semacam itu, maka tiap-tiap orang ditaruh pada tempatnya
sendiri, sehingga tiap-tiap orang gemar kerja, dan lantaran ini orang kerja
dengan sekehendak hatinya, juga sebab ia dapat didikan yang cukup. Apalagi
kalau kesehatannya dijaga, tentulah ia tiada bisa malas, sehingga ekonomi
negeri boleh berlipat ganda dari sekarang.
Pada zaman kapitalisme, anak si kaya itu,
meskipun otak tiada jalan (encer), tetapi ia mau mesti ke sekolah tinggi juga.
Kesudahannya ia menjadi insinyur dan sebagainya yang kurang cakap dan kurang
rajin, sedangkan anak kromo, tinggal kromo juga, meskipun seribu kali encer
otaknya. Sebab itulah hasil negeri zaman Kapitalisme tidak bisa menyamai hasil
negeri zaman Komunisme.
Lagi pula anak-anak dalam didikan Komunisme itu
tiadalah sehari-hari diajarkan pekerjaan otak saja, sehingga otaknya jadi
lembek, dan ia jadi benci pada pekerjaan tangan. Inilah juga kecelakaan didikan
zaman kapitalisme. Pendidikan yang tinggi-tinggi itu, dimana kerja tangan tidak
diindahkan, sudah mengandung bibit kemodalan, yakni membenci pada pekerjaan,
yang tidak dijalankan dengan otak saja. Pemuda-pemuda keluaran sekolah,
menyangka 10 kali lebih baik dari magang (klerk) daripada jadi tani atau tukang
kayu. Pada sebuah sekolah berdasar Komunisme, segala anak-anak dicampurkan,
tidak memandang asal. Lagi pula pekerjaan otak (sekolah) dicampur dengan kerja
tangan (yang memang mesti dengan otak juga). Barang siapa pintar dalam suatu
bidang, berhitung umpamanya, maka anak itulah yang dididik betul-betul dalam
hal berhitung. Pendeknya maksud pendidikan itu bukan untuk menetapkan kemodalan
untuk satu pihak dan keburuhan untuk pihak yang miskin, melainkan untuk
mengeluarkan segala yang mulia yang tersembunyi pada tiap-tiap manusia, dan
untuk menyenangkan pergaulan hidup.
Segala peraturan ekonomi, (tambang, pabrik, spoor
dan sebagainya) Soviet, pengadilan dan Pendidikan kita ambil ringkasan saja,
sungguhpun kita tahu, bahwa percobaan kaum Bolshevik ada penuh dengan
kepandaian dan sifat-sifat yang bisa menambah pengetahuan. Maksud kita yang
terutama untuk menceritakan bahwa sesudah Soviet berdiri (yakni anggotanya
memerintah buat kaum buruh), maka Soviet maupun peraturan yang lain-lain itu
gunanya untuk:
1. Penjaga supaya kaum Modal berpengaruh besar itu jangan bangun kembali.
2. Pelawan musuh baik dari dalam baik dari luar.
3. Penanam bibit Komunisme.
1. Penjaga supaya kaum Modal berpengaruh besar itu jangan bangun kembali.
2. Pelawan musuh baik dari dalam baik dari luar.
3. Penanam bibit Komunisme.
Zaman yang mengandung ketiga daya-upaya ini
dinamai ”Ditaktornya kaum Proletar”, dalam zaman mana kaum buruh menghilangkan
segala sifat kemodalan. Bukanlah zaman ini zaman komunisme, karena manusianya
sama sekali masih baru datang dari neraka kemodalan. Zaman ini perlu datang
sebelum tingkat yang ketiga datang.
C. Tingkat yang ketiga yakni zaman
Komunisme atau Sosialisme, dimana tiap-tiap orang kerja sekuatnya dan mendapat
hasil dengan secukupnya.
Kita bukan kaum utopis yang berseru-seru saja
dalam doa supaya komunisme itu datang. Kita yakin bahwa keselamatan dan
kesempurnaan manusia itu datangnya mesti dengan daya upaya juga. Sebab itulah
maka ”Diktatornya kaum Proletar” itu diadakan. Dalam pergaulan ini orang boleh
berusaha mencapai yang kita maksud lebih tinggi.
Segala hasil pekerjaan yang baik bisa melaksanakan kita sampai dan kesalahan kita boleh menjadi pengajaran.
Segala hasil pekerjaan yang baik bisa melaksanakan kita sampai dan kesalahan kita boleh menjadi pengajaran.
Oleh karena baru keluar dari Neraka Kapitalisme
dan tiap-tiap kita dalam zaman kediktatoran mengadakan undang-undang
untuk sementara, yakni: ”Barang siapa tidak bekerja, tiadalah dapat makanan”
bukanlah undang-undangnya Komunisme sejati. Dalamnya ada terlintas sedikit
paksaan, yakni atas orang yang malas. Sebenarnya kemalasan itu tiadalah sama
sekali sifat seorang manusia, malah berhubung juga dengan sifat-sifat kemodalan
dan berhubung juga dengan kesehatan badan atau dengan didikan yang diterima
pada masa kecil.
Pada zaman Kapitalisme, tidak bisa seorang
Proletar cinta pada pekerjaannya, maupun pada majikannya, karena sebagian besar
dari pada hasil yang diadakannya dimiliki oleh yang mempunyai modal. Lagi pula
hampir tiap-tiap si Buruh terpaksa mengambil sembarang pekerjaan saja, yang
bisa memberi sesuap nasi dan sepotong kain, karena ia tiada mempunyai perkakas
mengandalkan hasil lagi seperti zaman kuno (tani) (Pada zaman tani orang masih
mempunyai tanah dan cangkul sendiri, Pada zaman Kapitalisme sama sekali pabrik
dan mesin kepunyaan kaum Modal). Makin lanjut umurnya Kapitalisme, makin kurang
banyaknya orang yang mempunyai harta, makin keras kemelaratan, dan makin besar
”hak milik” seorang yang bermodal besar. Berhubung dengan hal-hal ini, maka
hampir tiap-tiap orang dalam negeri berdasarkan kemodalan kerja untuk mencari
upah atau untung saja. Sebab itulah maka ”zaman Diktatornya kaum Proletar”
sementara mesti memakai undang-undang yang tersebut di atas.
Undang-undang yang lain yang juga sementara mesti dilakukan, yakni: ”Bayaran yang sama buat pekerjaan yang sama”.
Undang-undang yang lain yang juga sementara mesti dilakukan, yakni: ”Bayaran yang sama buat pekerjaan yang sama”.
Ditilik dengan cermin kemodalan, undang-undang
ini tiada ada cacatnya, karena memanglah 2 orang yang sama banyak mengadakan
hasil, mesti sama mendapat bayaran. Tetapi kalau kita pikirkan dalam-dalam,
maka kehasilan yang sama banyak itu hampir tiada pernah didapat dengan tenaga
atau daya upaya yang sama berat. Seorang yang kuat dan pintar tentulah dengan
segera bisa mengadakan hasil itu sedangkan si bodoh dan lemah, meskipun ia rajin,
lama dan sukar sekali bisa mendatangkan hasil yang sebanyak itu juga. Jikalau
kedua pekerja tadi dibayar sama banyak, bukankah pembayaran itu memberatkan
pihak yang lemah-lemah?
Menurut dasar Komunisme juga tiada ada halangan
kalau yang kuat itu umpamanya mendapat makanan yang tidak sama banyak dengan
seorang kecil dan lemah, karena memanglah badannya yang kuat itu juga mempunyai
keperluan yang lebih. Kalau kita ingatkan lagi bahwa satu manusia dengan
manusia lain berbeda perasaan dan keperluannya lahir dan batin, maka tiadalah
sukar bagi kita akan mengambil misal-misal untuk membuktikan bahwa
undang-undang yang kedua tadi memang belum sempurna. Seperti undang-undang yang
pertama tadi, kita terpaksa memakainya, ialah disebabkan oleh sifat-sifat yang
kita peroleh lantaran kemodalan, yang dibelakang kita juga.
Undang-undang yang nyata mengandung bibit
Komunisme dalam ”zaman Dikator” ialah ”Satu buat semua dan semua buat satu”.
Sesudah perkakas mengadakan hasil jatuh di tangan Rakyat, maka undang-undang
ini betul-betul dilakukan. Dalam Pabrik, tambang atau pun pertanian (Kommune)
maka undang-undang ini dijadikan dasar. Yang jelas buahnya tentulah dalam
pendidikan (didikan). Anak-anak yang hidup dalam Kommune itu tentulah lebih
mudah dihinggapi sifat-sifat yang mulia, lebih mudah dari orang yang sudah
dewasa yang sudah sama sekali dirusakkan oleh kemodalan. Seperti sudah kita
ceritakan, maka maksud pendidikan itu untuk kerukunan kerja otak dengan kerja
tangan, untuk menghilangkan persangkaan bahwa bekerja itu membuat mencari upah
atau untung saja. Pada anak-anak yang dijaga betul-betul kesehatannya, dan
sifat itu tentu akan mudah hinggap kegemaran kerja, yakni bekerja sebab badan
kita mau, dan untuk bersama. Sebab itulah, maka Komunisme yang betul-betul itu
datangnya baru sesudah satu atau dua keturunan. Kelak tiap-tiap desa atau
pergaulan akan cukup mempunyai kesenian (lagu, gambar, karangan, buku-buku dan
syair) dan ilmu-ilmu, yang sama sekali menambahkan perasaan halus manusia.
Sama sekali kelak harta buah perasan atau pikiran
itu bukan mencari untung bagi satu atau dua orang, melainkan untuk menyenangkan
pergaulan hidup.
Sebagaimana partai politiknya kaum komunis dalam
zaman Diktator memegang kekuasaan negeri, begitulah juga serikat buruh memegang
ekonomi. Jalan mewakili seperti dalam Soviet juga yakni dari bawah ke atas dan
dilakukan oleh si pekerja atau kepercayaannya. Supaya segala cabang Industri
(pabrik kain, pabrik besi, pabrik kulit dan lain-lain) jangan berpisah-pisahan,
jadi supaya segala cabang-cabang merasa satu keperluan segenap Rusia, maka
tiap-tiap cabang itu mengirim wakil ke Moskow.
Disana duduk wakil-wakil dari sekalian serikat
buruh, seperti wakil-wakil yang terkumpul pada Pusat Kontrol dalam zaman
Kapitalisme juga. Dia berhak masing-masing dengan mufakatnya wakil lain-lain
industri akan menentukan upah dan lamanya kerja.
Oleh karena beratnya kerja dan juga harganya
tiap-tiap macam hasil barang, besi, sepatu berlain-lainan, tentulah juga lama
kerja dan upahnya untuk bermacam-macam si pekerja itu dilain-lainkan pula.
Buktinya, seorang yang kerja pada sebuah tambang
(di bawah tanah) tentulah dilainkan upah dan lamanya kerja dengan pekerja dalam
pabrik sepatu umpamanya. Perkara lama kerja, upah liburan, obat mengobat
(geneeskundige behandeling) dirembuk ditetapkan oleh kaum pekerja sendiri dalam
Pusat Kontrol tadi dan tiadalah ia dalam hal itu bisa ditindas-tindas lagi.
Supaya hasil yang bermacam-macam itu (pakaian,
mesin-mesin, makanan dan sebagainya) jangan kekurangan atau kelimpahan, maka
mestilah pula diadakan satu lembaga yang bisa menentukan berapa tiap-tiap
cabang industri mesti mengadakan hasil. Kalau sampai hasil pakaian kelimpahan,
tetapi mesin-mesin misalnya untuk seluruh Rusia kekurangan, maka haruslah
pabrik-pabrik pakaian sementara ditutup, dan pabrik-pabrik mesin ditambah.
Pendeknya mesti ada pimpinan pusat. Pusatnya itu didapat pada anggota yang
boleh dinamakan Dewan Ekonomi. Dalam Dewan ini duduk wakilnya si pekerja
Industri dan tani dan duduk juga orang-orang pandai hal ekonomi dan mesin-mesin.
Dewan Ekonomi, tiadalah perkakas pemerintah, melainkan untuk menentukan hasil,
untuk membeli barang-barang dari luar negeri (karet, besi dsb), membagikan
barang-barang itu di pabrik-pabrik di Rusia, mengumpulkan hasil-hasil segala
pabrik di Rusia dan membagikan hasil itu pada tiap-tiap kota atau desa.
Bagaimana kerja dalam pabrik, seperti upah, dan lama kerja seboleh-bolehnya
dipulangkan pada kaum pekerja sendiri, yang mempunyai anggota seperti Pusat
Kontrol tadi. Dengan jalan ini dihindarkan penindasan atas kaum pekerja, dan
faedahnya Dewan Ekonomi tadi terutama buat mempersatukan cara serta
banyaknya produksi untuk segenap Rakyat.
Menilik kepala karangan kita, dan nama Bab ini
(Soviet), maka orang bisa menyangka bahwa kita menyimpang dari peraturan yang
mau kita bicarakan, karena sedikit saja kita menyebutkan nama-nama Soviet.
Supaya hal ini jangan bisa mendatangkan ragu, maka kita merasa perlu memberi
keterangan yang bisa menghilangkan keraguan itu.
Pertama sifat Soviet itu tidak terdapat pada anggota
pemerintah saja, baik dalam desa, pabrik, kota ataupun negeri, tetapi dasar
”satu untuk semua, dan semua untuk satu” itu juga ditanam pada Pusat Kontrol,
pendidikan dan sebagainya yang sama sekali gunanya untuk pendatangkan
Komunisme. Begitulah juga dasar-dasar yang lain, seperti mewakili sepanjang
kaum pekerja (Industriele vergenwoordiring) ”Kekuasaan Rakyat” terdapat dalam
sekalian anggota-anggotanya zaman Diktator.
Kedua, umur Soviet di Rusia baru dua atau tiga
tahun, adalah muda sekali kalau dibandingkan dengan umur Parlemen yang sudah
beratus-ratus tahun (tanah Inggris). Segala hak-hak (pilih-memilih, hak
initiatief, interpellatie dan sebagainya) sesuatu Parlemen, yang juga dipakai
dalam ”vereeniging” biasa, yang juga menjadi Haknya sesuatu Soviet, tentulah
tidak perlu kita ceritakan lagi panjang lebar. Sebab itulah cukup mudah kalau
disebutkan saja sifat-sifat yang terutama bertentangan.
Pertentangan maksud yang mesti kita ingat antara
Soviet (sebagai anggota pemerintah) dengan Parlemen, yakni: Suatu Parlemen
gunanya untuk mengekalkan keburukan dan kapitalisme, tetapi Soviet perkakas
sementara untuk menghilangkan kemodalan dan mendatangkan Sosialisme.
Dua sifat Soviet itu, (yakni ”penghilangan
kemodalan dan menanam bibit Sosialisme), jangan kita lupakan! Apabila
lembaga-lembaga ekonomi, pendidikan dan pengadilan kelak menjadi sempurna, maka
Soviet itu akan hilang, atau dihilangkan. Dalam hal in zaman Diktator berganti
dengan zaman Komunisme sejati (Sosialisme). Zaman Komunisme sejati (tingkat
no.3) yang sama (cocok) dengan Sosialisme itu, boleh kita gambarkan dengan
keadaan pergaulan hidup, yang berdasar: Tiap-tiap orang kerja sekuatnya dan
mendapat hasil secukupnya. (Artinya seorang yang sehat, yang kena didikan
sempurna, dan mengerjakan pekerjaan yang disukainya, bisa rajin. Inilah namanya
kemerdekaan, karena kerja itu bukan paksaan lagi, melainkan menurut sifat
manusia. Lagi pula tiap-tiap orang akan dapat rezeki cukup karena hasil negeri
akan bertambah-tambah). Jadi maksud Komunisme itu, sama dengan maksud
Sosialisme, tetapi sedangkan Sosialisme mempunyai bermacam-macam jalan (yakni
kaum Sosial-Demokrat dengan jalan Parlemen, kaum Anarkis dengan bom dan
dinamit), maka Komunisme menetapkan jalan dari 3 tingkat-tingkat, yang sudah
kita terangkan. Ringkasnya: Arti kata Sosialisme itu ada lebih umum dan lebar
dari perkataan Komunisme, dan sebab umumnya itu mudah mendatangkan keliru.
Berapa lamanya zaman Diktator dan berhubung
dengan itu, berapa lamanya Soviet mesti dipakai, tiadalah bisa kita tentukan. Meskipun
lembaga-lembaga ekonomi, pendidikan ada sempurna, tetapi kalau kaum Modal dalam
dan luar negeri yang berpengaruh begitu besar, lagi bisa menipu-nipu Rakyat dan
bisa menghalang-halangi daya upaya kaum Komunis, tentulah perdamaian masih
jauh. Kita melihat bahwa kaum Modal di Rusia tidak saja mengadakan sabotase dan
pemberontakan dalam negeri tetapi bisa memanggil pertolongan dari negeri-negeri
luar yang berdasar kemodalan. Berapa sudah tentara yang dikirim oleh kemodalan
dunia untuk menjatuhkan kaum Bolshevik. Berikut-ikut tentara-tentara itu
ditewaskan, meskipun Rusia kelaparan, kekurangan obat bedil dan senjata,
sedangkan tentara-tentara kaum yang berkecukupan serdadu, senjata dan makan.
Bagi kita kaum Komunis kemenangan atas musuh yang berlipat ganda besar dan
kayanya itu adalah suatu bukti bahwa peraturan Soviet betul kukuh dan betul
senyawa dengan Rakyat. Tetapi sebaliknya kita tidak lupa yang Rusia sendiri
tentu tidak akan bisa melawan terus musuh yang beratus kali kuat itu.
Negeri-negeri lain di Eropa juga mesti mempunyai Soviet, yakni Diktatornya kaum
Proletar. Barulah boleh serdadu-serdadu yang berhaluan komunis itu menukar
senapan dengan perkakas pengadaan hasil.
Barulah bisa segala lembaga-lembaga ekonomi hidup
dengan sempurna. Tetapi seperti sekarang ini semua kaum Komunis yang berani,
lurus dan yakin, mesti saban-saban tampil di medan peperangan, mesti
saban-saban menahan pelor meriamnya kaum modal

0 Comment for "Parlemen atau Soviet? Tan Malaka (1921)"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...