...Sambungan Terakhir...
BAB VII
PENGHABISAN
Sepanjang persangkaan kita sendiri, cukuplah
rasanya kita memperlihatkan sifat, asal dan lembaga-lembaga Barat, yang salah
satunya mesti kita pilih, kalau kita mendapat kemerdekaan buat mengatur negeri
sendiri. Sebagai seorang berhaluan Komunis, tentulah kita tidak mendoa hati
lagi akan keburukan Parlemen dan kebaikannya Soviet, seperti juga kita tidak
mendua hati akan kebusukannya kapitalisme dan perlunya datang Komunisme. Bagi kita
buruk baiknya itu tiadalah bergantung pada kalau menangnya Soviet –Rusia.
Kalau
negeri-negeri beralasan Kapitalisme, yang di luar Rusia (Jerman, Inggris,
Jepang, Amerika dan sebagainya) belum bisa melawan musuh kemodalan itu, atau
masih tertipu oleh taktiknya kaum Sosial Demokrat, maka adalah lagi sifat
kemodalan yang mesti akan membuka mata kaum Buruh seluruh dunia, dan memaksa
dia menuju berjalan ke padang Komunisme.
Sifat Imperialisme, yakni nyawanya kemodalan,
akan segera kembali menimbulkan peperangan, dan akhirnya sifatnya itu juga akan
meracun dirinya sendiri.
Bahwasanya, maka sejarah dunia ini sudah
menyaksikan, bahwa sesuatu benda yang mengandung kebenaran itu mesti akan
timbul, berapapun juga halangan dan musuhnya, berapapun juga propagandanya kaum
Bolshevik pada masa Tsar memerintah dihalangi, berapapun sengsaranya yang
ditanggung oleh Lenin dan Trotsky sendiri tetapi konon cita-cita yang suci itu
mesti akan memancarkan cahayanya. Lupakah kita sengsara nista dan maki yang
ditanggung oleh Nabi Muhammad dalam 10 tahun itu, ialah sebelum ia berpindah ke
Madinah? Lupakah kita, bahwa 2000 tahun dahulu, kebenaran dalam agama Nasrani
mesti dibayar oleh Nabi Isa dengan darah dan nyawanya? Bukankah kaum segala
nabi-nabi yang lain, sama sekali dalam awalnya kecil, dan baru sesudah sepuluh,
ya, sampai beratus tahun maka berarti? Sebab bukti-bukti dunia kita sendiri
itulah, maka Komunis atau tidaknya kita ini, bukan bergantung pada kalah atau
menangnya kaum kita yang sedikit di tanah Rusia itu.
Lagi pula kaum Modal, yang dengan surat-surat
kabarnya tak putus membusuk-busukan kaum Komunis di Rusia, boleh membaca
sejarahnya sendiri. Lebih kurang 60 tahun dia mesti berperang, sampai baru bisa
mengalahkan partai raja dengan bangsawannya. Kekuasaan Monarki (memerintah
dengan raja dan Ningrat) mulai dibongkar oleh kaum modal pada tahun 1789
pertama di negeri Perancis. Pemberontakan itu begitu besar artinya, sehingga
tahun 1789 itu dinamai batasnya sejarah yang baru. Negeri-negeri yang lain di
tanah Eropa (Jerman, Inggris, dan lain-lain) juga mengambil contoh. Dalam
pemberontakan-pemberontakan itu, maka kaum Modal, yang dibantu oleh Rakyat,
kerap kali mendapat kalah sehingga saban-saban raja-raja yang sudah diusir dulu
bisa timbul kembali. ”Menang” dan kalah, begitulah nasibnya kaum Modal yang
pada masa itu berhaluan revolusioner, dari tahun 1789 sampai 1848, sesudahnya
mana kaum Monarkis semuanya kalah, dan kekuasan jatuh sama sekali atas
Parlemennya kaum Modal. Enampuluh tahun kaum Kapitalis mesti berperang, supaya maksudnya
sampai. Sekarang dia mau, supaya kaum Bolshevik bisa mengalahkan kaum kemodalan
Dunia dalam 2 atau 3 tahun!!!
Siapa yang berpikiran suci serta adil, dan tidak
berhati dengki atau takut, tentulah segera akan mengerti tipu muslihatnya
politik kaum Modal dunia sekarang.
Apabila hati dan pikiran kita dengan azas-azas
yang sudah kita terangkan, sudah yakin akan kebaikannya Komunisme, maka
tinggallah atas kita lagi kewajiban untuk memeriksa dan menunjukkan apa bisa
dan mestikah negeri Hindia ini diatur menurut aturan Komunisme.
A. Asal partai-partai politik di Hindia,
serta sifat dan keadaan partai-partai itu.
Menurut sejarahnya tanah Jawa, dan menilik
sisa-sisa peraturan pemerintah zaman kuno, dan menilik adat istiadat rakyat,
maka bolehlah kita katakan bahwa peraturan pemerintah berkasta-kasta dan
berhubung dengan itu adat dan perasaan berkasta-kasta sangat termasuk dalam
darah daging penduduk pulau Jawa dan Bali. Peraturan itu asalnya dari tanah
Hindustan, dimana penduduk negeri dibagi atas 4 kasta, yakni kasta Brahma
(pendeta), Ksatria (bangsawan), Waisa (hartawan dan kaum tukang-tukang) dan
kasta Sudra (budak). Tiap-tiap kasta itu tiada boleh campur-bercampur; brahma
itu bolehlah dikatakan perhubungan manusia dengan Tuhan, dunia dan akhirat;
dari Ksatria datangnya raja-raja, sedangkan kaum Sudra lain tidak gunanya malah
untuk bekerja buat 2 kasta yang terutama (Brahma dan Ksatria) sungguhpun ia
tidak dipandang semacam manusia. Pendeknya yang mengadakan hasil, tetapi
menghisap dan berkuasa ialah 3 kaum yang lain-lain itu. Cita-cita baik dalam
ilmu-ilmu, maupun dalam agama, ialah berhubung dengan cara mengadakan hasil
negeri itu juga. Kromo haruslah rajin, hormat, sabar, dan syukur, serta
kekuasaan dan kekayaan memang sudah dinasibkan Tuhan untuk kaum Ningrat dan
Pendeta saja.
Sungguhpun tanah Jawa dimasuki oleh agama-agama
Budha dan Islam, yang ada berdasar demokratis, sungguhpun sudah lebih kurang
300 tahun bangsa Jawa campur dengan bangsa Barat, tetapi perasaan Kromo
terhadap kepada keningratan itu tiadalah hilang.
Tiadalah kita heran, bahwa suatu partai
keningratan sejati yakni Budi Utomo bisa menarik hati sebagian besar dari
penduduk Jawa, lebih-lebih juga dari pihak kaum yang terpelajar. Apa-apa yang
mempunyai sejarah sebegitu lama tentulah tidak mudah hilang. Tidak perlu kita
periksa lagi benar apa salahnya keyakinan semacam itu, bahwa manusia itu mesti
dibagi-bagi atas beberapa golongan (untuk memerintah dan bekerja) karena penuh
misal akan menerangkan di segenap dunia, bahwa manusia itu sama, yakni akan
pendeta pun bisa juga jadi penjahat sedangkan sebaliknya pula cukuplah
anak-anak si Kromo yang bisa jadi apapun.
Pendeknya, tiadalah bisa ditentukan lebih dahulu
(kaum dan turunannya) mana yang wajib memerintah. Tetapi disebabkan kelobaan
manusia dan Harta Pusaka mesti turun pada anak jugalah, maka adat negeri
menetapkan lebih dahulu bahwa kaum memerintah (ningrat) mesti tingkal kekal,
atau sudah dikabulkan Tuhan.
Disebabkan oleh contoh-contoh di tanah eropa,
baik di tanah Amerika, dimana satu-satu bangsa meninggikan kemerdekaan tanah
airnya sendiri, disebabkan oleh persangkaan bahwa yang menyebabkan sengsara
rakyat Hindia ini ialah pemerintahan suatu bangsa atas bangsa lain, maka
timbullah di Hindia ini suatu vereeniging (NIP) yang mau mengadakan pemerintah
dari orang Hindia sendiri. Pun dasar ini ada berhak buat dihormati, karena
memanglah sesuatu bangsa, mesti pun bangsa apapun juga tidak akan bisa
mengharuskan keperluan bangsa asing lahir dan batin! Segala lembaga-lembaga
dalam negeri yang tidak berdasar kebangsaan, tentulah akan merusakkan bangsa
itu juga. Jadi meskipun suatu bangsa tidak berhayat hendak menindas atau
menghisap, melainkan semata-mata hendak mendidik bangsa yang berbeda sifat dan
wataknya itu, adalah sesuatu pekerjaan yang amat berbahaya, apalagi kalau
bangsa lain itu cuma terutama datang lantaran kelobaan saja. Sebab itulah kita
mengerti betul akan haluannya kaum NIP.
Tetapi, karena yakin, bahwa bangsa yang
memerintah tanah Hindia sekarang bukan dsebabkan kebangsaan atau merasa berkewajiban
untuk mengembangkan ilmu dan kebudayaannya sebagai bangsa, malah disebabkan
sifat kemodalan yang menjadi sendi bagi pencaharian hidupnya, maka kita tidak
bisa mengadakan dan membetulkan politik yang cuma bertentangan dengan bangsa
Belanda semacam bangsa saja. Kita sebaliknya tahu, bahwa nama Belanda itu
dengan sekejap boleh kita tukar dengan Inggris, Jepang, Amerika dan sebagainya,
yang memang sama sekali sudah menaruh besar di tanah Hindia, lebih-lebih di
negeri-negeri yang baru dibuka untuk industri. Tidak akan lama lagi maka di
kepulauan Sumatera, Sulawesi dan sebagainya yang penuh dengan barang-barang
logam dan tumbuh-tumbuhan yang perlu untuk industrinya negeri-negeri yang
beralasan kapitalisme akan didesaki oleh modalnya berjenis-jenis bangsa, sehingga,
”bendera kebangsaan” itu akan percuma saja berkibar. Negeri kita yang tidak
bermodal dan sifat Rakyat Hindia lebih, bangsa Jawa yang tidak bersifat
kemodalan serta kebodohan Rakyat Hindia sendirilah menyebabkan, yang kita tidak
akan bisa kelak mengadakan modal yang cukup besar untuk mengalahkan modal-modal
tanah asing. Karena bangsa-bangsa asing itu kebanyakan merdeka dan datangnya
dari hawa yang sejuk, lantaran mana ia mesti rajin, kuat, tahan dan pintar
mesti memikirkan dan mengadakan bermacam-macam mesin maka mereka itu dengan
gampang saja bisa mengalahkan bangsa Hindia ini dalam dunia industri dan
perniagaan. Sedangkan bangsa Hindustan yang lebih kuat, pintar berasa dan kaya
dari bangsa kita, tidak bisa melawan kemodalan bangsa Inggris, yang memang
dibantu oleh undang-undang dan bermacam-macam hal lain-lain.
Bangsa Hindustan tentulah tidak akan sampai
begitu bodoh dan sesat, sampai ia mau meminta pertolongan pada kaum Modal
Jepang dan Amerika. Bangsa Hindustan tentu tidak lupa akan cerita katak-katak
dalam sebuah kolam, yang sebab takut pada seekor burung bangau, lantas minta
pertolongan pada seekor ular, sesudahnya mana ular tadi menjadi raja Kolam, dan
menghabiskan segala katak-katak dalam kolam tadi.
Kita Rakyat juga mesti sadar akan isi dan artinya
cerita itu. Kalau minta pertolongan janganlah pada orang yang bisa jadi musuh.
Kalau tidak bisa mencari pertolongan pada kaum yang senasib dan satu
keperluaan, baiklah tidak minta pertolongan. Buktinya cerita tadi boleh kita
lihat di kiri-kanan, dimana bangsa-bangsa kecil baik di Eropa, Asia ataupun
Amerika Selatan, yang merebut kemerdekaan dengan pertolongan kaum Modal yang
dipercaya, kesudahannya dihimpit oleh yang menolong tadi juga.
Keyakinan hendak melawan Modal Asing itu dengan
modal sendiri, terang sekali terbukti pada permulaan gerakan Sarekat Islam
beberapa tahun dahulu yang mulanya bernama Sarekat Dagang Islam dan didirikan
oleh Haji Samanhudi. Adalah suatu ketika, yang kita hampir percaya, bahwa daya
upaya pemimpin-pemimpin Sarekat Islam itu akan berhasil. Rakyat cukup menaruh
gembira, pengharapan dan kepecayaan. Kehinaan dan kemelaratan yang
beratus-ratus tahun itu disangka akan hilang. Bermacam-macam toko didirikan
untuk menentang toko-toko bangsa asing. Pergerakan perniagaan (ekonomi) itu dicampuri
oleh pergerakan poitik yang berdasarkan agama dan kebangsaan. Semuanya ini
tiada mengherankan kita. Malah kita juga komunis harus memuji jasa
pemimpin-pemimpin semacam Samanhudi, Cokroaminoto, Semaun dan lain-lain yang
sekurang-kurangnya sudah membangunkan Rakyat berjuta-juta dari tidurnya yang
nyenyak dan pertama sekali membuka mata yang beratus-ratus tahun tertutup.
Menurut keterangan kita di atas tadi, yakni lantaran kekuatan modal, watak dan
kepintaran bangsa kita dalam perkara perniagaan, niscayalah kita akan kalah.
Sampai sekarang kita dalam dunia industri dan perniagaan, masih tinggal pada
tingkat paling rendah. Belumlah kelihatan bukti-bukti dan keterangan yang bisa
mendatangkan keyakinan buat kita, bahwa dalam beberapa tahun dimuka ini, bangsa
Jawa bisa merebut golongan tengah dan atas dalam dunia perniagaan dan
industri. Cumalah ada di sana sini kaum Muslimin, yang memegang perniagan
kecil-kecil seperti di kota yang besar-besar, tetapi sebagian besar dari Rakyat
yang menaruh perasaan Sarekat Islam masih sama melarat.
Kaya miskinnya dalam Sarekat Islam itu serta
perbedaan pekerjaan anggota-anggotanya, yakni separuhnya kaum berniaga,
separuhnya bertani dan memburuh, tentulah pula mesti mendatangkan perbedaan
paham dan rasa tentang politik negeri.
Sudahlah tentu kaum saudagar tinggal berpikiran
kesaudagaran, karena ia sekarang masih saudagar bangsa Cina dan Eropa, dan
tindasan yang dirasa oleh si Kromo, terutama datangnya dari kaum Modal asing,
maka lantaran itulah kaum Saudagar dan kaum Buruh dalam Sarekat Islam boleh
begerak bersama-sama menentang musuh yang terbesar tadi. Tetapi kalau kelak
sampai saatnya akan mengatur negeri sendiri, maka teranglah bahwa sifat
kesaudagaran kecil itu akan menjadi sifat kemodalan seperti yang biasa juga.
Hal pengadilan akan terpaksa memihak pada yang
kaya juga dalam negeri, seperti di negeri Turki dan negeri-negeri lain yang
”merdeka kemodalan”. Perkakas memerintah tentulah juga buat Parlemen, yakni
sidangnya si Kaya saja. Pendidikannya hanyalah untuk pendidikan yang mampu
membayar juga. Pendeknya tiadalah akan ada bedanya dengan negeri merdeka, yang
berdasarkan kemodalan, yang sudah kita tunjukkan kedustaan dan kemurkaannya.
PARLEMENTERISME (Kekuasaan Rakyat).
Isi negeri yang 4 golongan, yang terbanyak kaum buruh
Isi negeri yang 4 golongan, yang terbanyak kaum buruh
KETERANGAN:
1. Gambaran I : melukis isi negeri yang boleh
kita bagi atas 4 bagian, yakni:
a) kaum ningrat, BU;
b) kaum nasionalis NIP;
c) kaum Muslimin yang kaya;
d) kaum Kromo.
Gambaran II: Parlemen (2e. Kamer di negeri Belanda), kemana isi negeri yang 4 golongan itu mengirimkan wakilnya.
Gambaran II: Parlemen (2e. Kamer di negeri Belanda), kemana isi negeri yang 4 golongan itu mengirimkan wakilnya.
Gambaran III : Menteri, sidang menteri-menteri,
yang dipilih dan biasanya keluar dari Parlemen, wakil mana mesti mempunyai
partai yang kuat. Minister itu penuh dengan biro-biro (birokrasi).
Gambaran IV: Bank, yakni benteng ketiga golongan
yang kaya, yang keras pengaruhnya juga dalam biro-bironya menteri
2. Pergerakan yang berdasar:
a) keningratan,
b) nasionalisme,
c) agama – kebangsaan – religieusch nationalistisch.
(Turki sesudah revolusi 1908 dan cita-cita Mesir).
Mesti akan mengalir kepada pemerintahan yang kita lukiskan di atas, Ketiga dasar itu (a, b, c) tidak bertentangan dalam hal ekonomi. Ketinya mengaku hak milik dan undang-undang-undang-undang negeri melindungi hak Milik itu.
a) keningratan,
b) nasionalisme,
c) agama – kebangsaan – religieusch nationalistisch.
(Turki sesudah revolusi 1908 dan cita-cita Mesir).
Mesti akan mengalir kepada pemerintahan yang kita lukiskan di atas, Ketiga dasar itu (a, b, c) tidak bertentangan dalam hal ekonomi. Ketinya mengaku hak milik dan undang-undang-undang-undang negeri melindungi hak Milik itu.
3. Kaum ningrat, nasionalis dan muslimin yang
kaya raya dan berkuasa bisa masing-masing mengadakan wakil yang mengemukakan
keperluan masing-masing di dalam Parlemen. Dengan propaganda di desa-desa, di
pabrik spoor, tambang dan kebun, dengan surat kabar besar-besar, kepunyaan yang
bermodal dalam negeri, bisa ditarik hati sebagian besar dari Rakyat buat
memilih wakil yang disukai oleh kaum Modal. Pun Masjid-masjid, santri-santri
dan sekolah-sekolah yang tinggi masing-masing dengan politiknya tidak akan
ketinggalan. Sehingga dengan jalan yang begitu paling banyak kaum buruh bisa
dapat cuma ¼ bagian dari segala wakil-wakil dari Parlemen. (Perhitungan ini
juga salah, Sebab dimanapun negeri yang berdasarkan kemodalan tiadalah sampai
seperempat bagian dapat wakil dalam Parlemen. Lebih-lebih di desa-desa si Kromo
takut sama ilmu keningratan, dan takut akan ancaman neraka, kalau tidak kaum
Muslimin yang dipilih jadi wakil memerintah negeri).
4. Oleh karena Parlemen dipisahkan dengan
Kementerian (lihat II dan III) dan yang pertama namanya saja berhak ”membikin
undang-undang” dan yang kedua ”menjalankan undang-undang” maka arti Parlemen
itu buat kaum Buruh tidak ada. Yang memerintah yakni Menteri yang penuh dengan
biro-biro yang berhubungan keras dengan Bank (Lihat IV) yakni benteng kaum
uang.
5. Sehingga buat Kromo tidak ada perubahan dan
keentengan sifat-sifat dan kemurkaan kemodalan (krisis jatuhnya harga barang
concurentie – persaingan, berhubungan dengan itu kemelaratan, dan kesengsaraan
buat Kromo) Cuma dipindahkan dari bangsa asing pada bangsa Hindia.
Tetapi tidak sekejap juga kita percaya, bahwa
cita-cita Republik yang berdasar demokratis (yakni demokrasinya buat kaum
Modal) itu di Hindia ini bisa dijalankan. Tidak saja lantaran kekurangan sifat
dan watak-watak yang berguna buat kemodalan rakyat disini seperti sudah kita
sebutkan di atas, tetapi terutama sekali lantaran kekurangan keyakinan,
ketetapan dan keberanian hatinya kaum-kaum nasionalis baik dalam BU, baik dalam
golongan Sarekat Islam ataupun dalam NIP. Kalau kita pisahkan dua tiga
pemuka-pemuka yang betul-betul nasionalis di mulut dan di hati, maka
kelihatanlah bahwa nasionalis kita dipukul rata jauh bedanya dengan nasionalis
di tanah Mesir, Hindustan ataupun Irlandia.
Marilah kita periksa sebentar, apakah dengan
politik Pan-Islamisme (seperti kata pemuka-pemukanya sendiri, yakni untuk
mempersatukan segala kaum Muslimin di seluruh dunia) Hindia ini bisa merdeka
atau dijadikan sebagian dari suatu kerajaan yang di bawah perintah seorang
Khalifah? (nama Khalifah itu di dunia Muslimin penting sekali. Kita mesti tahu,
bahwa ”Khalif dan Jihad” yaitu nyawanya ”Darul Salam”). Sebetulnya disini kita
mesti lebih dahulu mengadakan kritik untuk pembersihan pemeriksaan kita.
Sesungguhnya nama Khalif itu sudah mendatangkan
kekalutan pada kalangan kaum Muslimin sendiri. Sesudah wafat Nabi Muhammad SAW,
maka berikut-ikut Khalif-khalif yang menggantikan yakni: ”Abu Bakar, Umar,
Usman dan Ali”.
Sesungguhnya negeri diperintahi betul-betul
dengan keadilan dan sama rata, tetapi adalah timbul sudah pertanyaan pada kaum
Muslimin, siapakah yang sebenarnya berhak menggantikan Nabi Muhammad, yang
mesti memerintah, dan membesarkan kaum Islam, maupun dengan jalan damai, maupun
dengan jalan perang.
Pertanyaan tadi mendatangkan dua partai, yakni:
Partai yang mengatakan bahwa Ali sebagai saudara
(kemenakan) dari Nabi Muhammad (kaum Qurais) juga boleh menggantikan.
Partai-partai tadi mengadakan pertentangan yang amat keras dan peperangan yang
hebat. Kira-kira 100 tahun sesudah Nabi wafat, maka terjadilah pemberontakan
yang besar. Dalam pemberontakan ini maka keturunan Umar Umaiyah, yang pada masa
itu berhak menjadi Khalif hampir sama sekali dibunuh oleh partai Ali. Cuma
seorang keturunan Umar Umaiyah boleh melarikan diri ke tanah Spanyol dan di
sana mendirikan Khalifah baru, yang bertentangan dengan Khalifah keturunan Ali
yang bertahta di Bagdad.
Dua Khalif tadi tentu masing-masing mengaku
berhak memerintah kaum Muslimin. Pendeknya kekalutan lantaran pertanyaan itu
tiadalah perlu kita bongkar lagi. Cuma kita mau peringatkan sedikit, bahwa
perselisihan itu sekarangpun belum hilang. Masih berlain-lain paham di antara
bangsa Turki, Arab, Moroko, Mesir, Persia, dll, tentang yang berhak untuk
memerintah negeri Islam sendiri (dari Al-Islam). Dalam peperangan yang baru
lalu, maka kaum Modal Jerman sudah menggerakkan bangsa Turki mengibarkan
bendera Nabi Muhammad, supaya segala Muslimin di atas dunia sekarang memerangi
si Kafit. Tetapi apa hasilnya?
Kerajaan Inggris dapat pertolongan dari kaum
Muslimin di Hindustan, untuk memerangi Jerman dan Turki. Kaum uang Perancis,
Rusia dan lain-lain bisa membujuk kaum Muslimin, yang di bawah perintahnya untuk
memerangi kaum Uang Jerman dan Turki. Oleh karena peperangan tadi, maka kaum
Muslimin yang merdeka di dunia ini hampir tidak ada lagi. Sebelumnya perang
tahun 1914 Rakyat Turki ada kurang lebih 5 % dari semua kaum Muslimin; maka
sekarang lantaran kekalahan, tanah Arab, Mesopotamia, Syria, Mesir, dan
sebagian besar dari Turki di tanah Eropa, sudah jatuh dari tangannya.
Jadi Pan Islamisme Turki tadi, meskipun dengan
pertolongan kaum Modal, yang terkuasa atas dunia (Jerman) tiadalah bisa
dilakukan. Jalan yang kedua yakni, kalau semua kaum Muslimin mau bersatu dengan
tidak menunggu perintah dari satu Khalif, malah dengan cara serukun (kita
umpamanya yang Arab, Hindu, Persia, Turki, Jawa, Moroko dan lain-lain mengerti,
yakni mau serukun). Dalam hal ini musuhnya lebih besar lagi. Kaum Muslimin yang
di mana-mana dihisap oleh kaum uang, miskin, dan terpencar-pencar niscaya akan
mesti bertentangan dengan negeri-negeri yang memerintahinya. Kita jangan lupa
Perancis memerintah Tunis, Aljazair, dan Maroko; Italia memerintah Tripoli,
Maroko di bawah Spanyol dan sebagian besar dunia Islam di bawah Inggris dan
Belanda. Pendeknya untuk mempersatukan kaum Islam di dunia, haruslah melawan
kapital dunia. Sedangkan kaum buruh yang terbanyak sekali di atas dunia belum
bisa melawan kaum Modal. Apalagi 200 s/d 300 juta kaum Muslimin yang tidak
berkepintaran cukup, senjata dan lain-lain. Perkara ini tidak perlu kita
dalamkan. Kita boleh putuskan bahwa sungguhpun kaum Muslimin dalam agama bisa
satu kepercayaan (Hambali, Maliki, Syafi’i dan Hanafi, sungguhpun
berlain-lainan mazhab tetapi sama percaya sama Tuhan Allah), tetapi dalam hal
politik negeri sudah beratus-ratus tahun berpecah-pecahan, dan rasanya tidak
akan bisa disatukan, jangankan lagi akan menambah lebarnya ”Dar el Salam” dan
mengurangi ”Dar el Harb” di atas dunia baik dengan propaganda halus, maupun
dengan melakukan ”jihad”.
Kita tahu bahwa Nabi Muhammad SAW insyaf betul
akan pokok-pokok sifat manusia yang mendatangkan racun dalam sesuatu pergaulan,
yakni ”nafsu atas kekuasaan” dan nafsu kekayaan. Juga nafsu yang dua itulah
yang mau dihilangkan oleh Komunisme tetapi dengan peraturan-peraturan negeri.
Kita lihat, bagaimana Nabi Muhammad SAW dan
keempat Khalif yang menggantikan masih bisa menjalankan kemurahan keadilan dan
persaudaraan. Kita yakin bahwa peraturan negeri ketika itu betul cocok dengan
cara mengadakan hasil di tanah Arab (bertani, bergembala, dan berniaga) tetapi
sesudah kerajaan Muslimin (kira-kira tahun 709) bertambah besar, sesudah
pembesar-pembesar bangsa Arab yang dulu tinggal di negeri miskin sekarang
memerintahi negeri yang kaya dan makmur, maka peraturan negeri seperti pada
mulanya tadi tidak bisa lagi membunuh nafsu-nafsu yang dua tadi.
Khalif tidak hidup dengan enteng lagi seperti
orang kecil, malah memakai istana yang besar-bear, kereta dan kuda yang
indah-indah serta memakai dayang-dayang dan biduanda seperti raja di lain-lain
negeri juga. Khalif tadi tiada campur lagi dengan Rakyat dan menjadi pemberi
nasehat Rakyat seperti mulanya, malah menjadi wakil Tuhan yang hampir tidak
keluar dari Istana lagi dan tidak boleh disanggah katanya.
Pemuda-pemuda di tanah Turki ”Yong Turken” sudah
merasa perlu mengubah peraturan memerintah negeri, sehingga pada tahun 1908
sudah dilakukan peraturan baru yaitu mengadakan Parlemen dengan mengambil
contoh di Eropa Barat. Sultan Turki harus memerintah sepanjang Konstitusi (azas
memerintah) dan menunggu putusan dari Parlemen. Inilah suatu bukti bagi kita
bahwa peraturan negeri itu mesti cocok dengan cara mengadakan hasil. Sebab itu,
kalau seandainya kaum Muslimin di seluruh dunia ini bisa bersatu, dan mesti
memakai pabrik, spoor dan tambang tentulah sesuatu Khalifah atau Republik kaum
Muslimin itu akan tepaksa memakai peraturan Kapitalisme juga, yang jauh bedanya
dengan cara memerintah ketika zaman kebesaran kaum Muslimin (kira-kira Tahun
700 – 1908) (Jadi tahun 1908 yaitu pemberontakan yang dibela oleh ”Komite
persatuan dan kemajuan” adalah berarti besar buat dunia Muslimin.) Anwar dan
Talaat (yang terutama) mencoba merubah peraturan-peraturan Islam yang beralasan
monarkisme dan mengganti dengan alasan Parlementerisme dengan contoh dari tanah
Perancis. Kita tidak heran, yang dunia Muslimin, baru sesudah plm. 1300, maka
bisa bergerak keras menukar ”peraturan Khalifah” (monarki) dengan
Parlementerisme. Disebabkan perang 1914 – 1918 teranglah bahwa tanah Turki tak
bisa lagi menunggu buatnya daya upaya pemuda-pemuda ”Yong Turken”).
Tetapi menurut kehendaknya zaman, kita tidak bisa
percaya lagi, bahwa 200 s/d 300 juta kaum Muslimin, yang diantaranya lebih dari
90 % dalam kegelapan dan kemelaratan atau mau ditarik-tarik saja untuk makanan
meriam, lahirnya untuk persatuan Islam, tetapi hasilnya cuma buat kaum Islam
yang hartawan. Persatuan Islam dalam kepercayaan agama selamanya bisa,
bagaimana pun juga peraturan negeri, tetapi persatuan keselamatan dan
kemerdekaan di atas dunia ini tidak bisa kalau tidak dengan jalan peraturan
Komunisme.
Mana haluan yang kelak akan dijalankan oleh
Sarekat Islam tidak dalam Statusnya belumlah boleh kita putuskan. Kalau saatnya
datang yang Sarekat Islam sendiri mesti mengatur negeri, maka undang-undang
pergerakan Rakyat seperti di tanah-tanah lain niscayalah disini juga akan
berlaku. Sepanjang undang-undang itu maka kaum tengah yang sekarang juga ada dalam
Sarekat Islam tentu akan berkeyakinan tengah, dan yang paling miskin dan
melarat akan berkeyakinan keras dan belum akan puas sebelum peraturan negeri
diubah sampai bisa mendatangkan keselamatan baginya. Pada suatu ketika,
tentulah akan datang perselisihan antara kaum tengah (saudagar kecil-kecil
sekarang dll) itu dengan kaum Proletar. Mana yang mesti mundur tentu bergantung
pada banyaknya orang dan kuatnya organisasi. Oleh karena kaum yang paling
miskin dan tertindaslah yang paling banyak disini serta yang paling suka
bergerak, maka oleh sebab itulah kaum Komunis di Hindia tak perlu sekejappun
juga ragu atau mendua hati akan kemenangan kaum Proletar. Meskipun di sana
sini, atau sementara beberapa tahun dapat kekalahan, tetapi kita boleh yakinkan
bahwa akhirnya sekali Komunisme juga yang bisa memadamkan dahaga si Kromo atas
keselamatan, kemanusiaan dan derajat yang tinggi-tinggi.
Ringkasnya: Bagaimana juga agama, tetapi dalam
peraturan negeri kita tidak boleh lari dari 3 peraturan sepeti di bawah ini:
- Zaman kuno, dimana mata pencaharian dijalankan dengan tangan saja (tidak dengan mesin), yakni bertani dan bertukang, seperti dahulu di benua Cina, kerajaan Islam, Hindustan dan Eropa sebelum tahun 1789. Cara pemerintah ialah menurut peraturan kerajaan dan keningratan (monarkisme).
- Kaum Kemodalan, Eropa sesudah tahun 1789 dan Amerika mengadakan hasil terutama dilakukan dengan pertolongan mesin yang besar-besar. Peraturan negeri ialah Parlementerisme.
- Zaman antara kapitalisme dan sosialisme. Disini diadakan Soviet, yakni buahnya pergerakan Rakyat dan gambarnya kekuasaan Rakyat, untuk mendatangkan Sosialisme.
B. Menjalani Sejarah Hindia 300 tahun
yang akhir ini dengan langkah Raksasa
Disebabkan oleh sangat lakunya barang Hindia ini
di tanah Eropa, maka kira-kira tahun 1600 kaum Modal Belanda melayarkan
beberapa buah kapal ke negeri kita ini. Sungguhpun kapal-kapal itu belum tahu
jalan, sungguhpun sudah pernah terperosok di lautan es kutub utara dan penuh
dengan musuhnya bangsa Spanyol di kiri-kanan, tetapi dahaganya kaum Modal yang
tersebut atas keuntungan dan kekayaan tiadalah bisa padam. Akhirnya mereka itu
sampai juga di tanah Hindia ini, dimana ia mengusir kaum-kaum modal bangsa
Portugis dan Spanyol dan memaksa Rakyat Hindia berniaga dengan dia. Pala dan
cengkeh mesti kita jual dengan harga yang paling murah pada VOC (Vereeniging
Oost Indiche Compagnie) saja. Tiadalah boleh bangsa asing mengambil untung dan
tiadalah boleh Rakyat Hindia berniaga dengan kaum Modal bangsa Portugis atau
Spanyol, meskipun ia ini mau membayar lebih banyak. Dengan pertolongan
raja-raja Hindia sendiri, maka VOC (Kompeni) serta sama bedil dan meriamnya
menjalankan perniagaan monopoli itu.
Untung yang berlipat ganda itu sama sekali
mengalir ke Eropa, sehingga faedah perniagaan itu buat Hindia ini bolehlah
dikatakan akan nihil. Lagipun apakah guna pendidikan umpamanya?
Asal saja Rakyat bisa mengangkat cangkul dan
menanam cengkeh, untung besar itu mesti bisa kekal. Yang mendatangkan pusing
kepalanya VOC tiadalah kepandaian budi atau adat rakyat disini, melainkan jatuh
harga barang-barang itu ialah lantaran melimpah banyaknya juga. Supaya harganya
naik kembali, haruslah hasil pala dan cengkeh dikurangi. Maka rakyat di sebelah
kepulauan Ambon dipaksa merusakkan sendiri kebun dan tanamannya dengan jalan
mana hasil boleh berkurang-kurang. Rakyat melanggar perintah VOC itu diusir
dari negerinya sendiri. Bangsa siapa yang mempunyai hati kemerdekaan dan
kemanusiaan, maka perasaan itu didenda dengan pelor meriam atau kelewang
serdadu VOC. Demikianlah sering terjadi pemberontakan, dalam hal mana yang
tiada berkepandaian dan bersenjata cukup juga yang akan tewas .Untuk
menyusutkan hasil pala dan cengkeh, maka Kompeni menetapkan supaya pulau Ambon
saja menanam cengkeh dan pulau Banda saja menanam pala. Setiap waktu Kompeni
berlayar ke pulau-pulau yang lain dari yang 2 tadi untuk merusakkan pokok-pokok
pala dan cengkeh. Oleh sebab itu rakyat kehilangan pencaharian hidupnya
terutama sekali, dan larilah mereka itu meninggalkan negerinya. Banyak
pulau-pulau yang menjadi sunyi senyap, dan ditumbuhi hutan belukar. Inilah
artinya Hongietechten yang masyhur dalam sejarah di kepulauan sebelah Ambon
itu.
Pemberontakan-pemberontakan dihukum dengan keras.
Satu di antara pahlawan dari bangsa Ambon yang tertindas itu bernama Tulu
Kabessi, yang lama sungguh mempertahankan bentengnya. Kemudian Kompeni
mengetahui jalan-jalan masuk ke benteng itu. Pada suatu malam tiba-tiba serdadu
Kompeni perlahan-lahan masuk, membunuh orang-orang Ambon yang menjaga
bentengnya, sesudah mana pahlawan Tulu Kabessi terpaksa melarikan diri.
Setelah ia mendengar kaba, bahwa Gubenur Dummer
menangkap dan menuduh beberapa kepala-kepala Ambon dalam perkara pemberontakan
itu maka Tulu Kabessi sendiri pergi mendapatkan Gubenur itu akan menerangkan
bahwa kepala-kepala yang tertuduh itu tiada berdosa sedikit juga.
Gubenur Demmer memerintahkan menangkap dan
memancung kepalanya Tulu Kabessi.
Demikianlah balasnya kesatrian dan kemuliaan hati
pada zaman Kompeni itu! Politik dan kelakuan semacam itu rupanya dulu lazim
sekali. Bacalah sejarah Minangkabau dan Diponegoro kira-kira satu abad yang
lalu! Demikianlah buasnya kaum Modal itu, ketika 300 tahun yang lalu.
Kira-kira 200 tahun lamanya VOC itu
bersimaharajelela. Akhirnya ia mendapat rugi, sebab besarnya ongkos untuk kapal
perang, benteng-benteng dan serdadu-serdadu. Pada tahun 1800, maka negeri
Belanda sendiri (Negara) mengambil hak milik VOC atas kepulauan Hindia ini.
Baru saja bertukar pertuanan, maka Rakyat Hindia ini mendapat tindasan yang
lain macam pula dari G.G Daendels memaksa mendirikan jalan raya dari Anyer ke
Panarukan, dengan apa tentara pemerintah mudah dipindahkan dari suatu tempat ke
tempat yang lain yang perlu ditaklukkan. Jalan yang penting itu mesti dibayar
oleh Rakyat tanah jawa dengan beribu-ribu jiwa yang melayang, lantaran penyakit
dan kerja keras. Seperti rupanya bala itu belum lagi cukup menimpa kepalanya si
Kromo, maka G.G van Den Bosch tiadalah lama lagi sesudah itu menjatuhkan sistem
tanam paksa.
Kromo mesti menanam sebagian besar dari sawahnya
dengan tanaman yang besar untungnya di benua Eropa, yakni kopi, kemudian kina,
gula dan sebagainya, barang-barang yang mana mesti dijual dengan harga paling
murah pada Pemerintah Belanda. Berapa beratnya sengsara Rakyat, bagaimana
jalannya hisapan dan tindasan tidaklah perlu kita periksa disini. Namanya saja
Culturstelsel itu bisa memanaskan darah tiap-tiap manusia yang tidak
didinginkan oleh setan kemodalan.
Keringat dan darah si Kromo yang terumpat
lantaran peratuan dalam abad ke 19 itu mengalirkan harta yang bertimbun-timbun
menuju ke negeri Belanda. Dengan untung itu kaum Modal Belanda bisa mendirikan
Spoor dinegerinya dan bisa membayar sebagian besar dari hutangnya negeri
Belanda (tersebab oleh peperangan Napoleon) dan bisa mengadakan pencaharian-pencaharian
baru.
Oleh karena untung Culturstelsel itu tiada
seperti pada permulannya lagi maka di negeri Belanda dijatuhkan buat tanah
Hindia ini (tahun 1875) suatu undang-undang, dalam mana ditentukan bahwa
seorang Eropa boleh menyewa tanah kita lamanya 75 tahun.
Sekarang nyatalah, bahwa undang-undang ini
memberi kesempatan bergerak pada kaum modal yang zaman akhir sekali. Keuntungan
yang bisa dipungut oleh raja-raja, pala, tembakau, minyak tanah dan lain-lain.
Zaman sekarang berlipat ganda besarnya dari keuntungan kaum Modal masa VOC
maupun Cultruurstelsel.
Sebab sifat dan keadaan kemodalan pada zaman
Kompeni (VOC) dan sistem tanam paksa berbeda dengan sifat dan keadaan dalam
sesudah tahun 1875, maka politik negeri sekarangpun menjadi berubah sedikit.
Politik ”paksaan terus terang” saja menanam kopi,
gula, dan sebagainya, paksaan terus terang membikin jalan raya untuk lasykarm
dan merusakkan kebun dan tanaman sendiri (Hongi-techten) sesudah tahun 1875
ditukar dengan politik yang berdasarkan etika. Anak Hindia haruslah dididik. Di
Hindia haruslah didirikan bermacam-macam sekolah. Beginilah nyanyinya
pemimpin-pemimpin bangsa Hindia yang kena asap candunya politik etika.
Karena kita seorang Komunis, dan kedua kaki kita
berdiri atas dasar Ekonomi, maka kita mesti memberi keterangan yang cocok
dengan haluan kita. Buat kita etika-etikan-an dalam politik itu tiadalah
lantaran menyesal atau tiba-tiba cinta pada bangsa Hidia. Kita yakin bahwa
buasnya kaum Modal pada zaman sekarang tiadalah kurang dari zaman Kompeni atau
sistem tanam paksa.
Yang berubah ialah cara mengadakan hasil untuk
perniagaan kaum uang. Untuk cengkeh, pala dan kopi pada zaman dulu, tiadalah
perlu pandai bookhouden (pembukuan – Ed.) atau menjalankan mesin. Lain sekali
pabrik gula, yang perlu memakai kaum buruh kasar dan halus, yang mesti keluar
dari sekolah rendah, tengah dan sekolah tinggi. Kalau segala klerk-klerk,
mechinist dan opzichter-opzichter sama sekali mesti didatangkan dari negeri
Belanda, tentu kaum Modal tidak bisa dapat untung besar.
Sebab itulah mesti diadakan disini
sekolah-sekolah HIS, MULO, HBS, middelbare technische scholen dll, dari
sekolah-sekolah mana bisa dipungut bermacam-macam buruh halus, untuk mengadakan
hasil gula. Begitu juga kebun-kebun teh, tembakau, karet dan lain-lain yang
diuruskan dengan ilmu-ilmu model baru tidak bisa lagi dijalankan dengan cangkul
saja seperti dahulu kala. Hasil pabrik dan kebun-kebun yang bergudang-gudang
itu tentulah tidak bisa dimuatkan dipunggungnya kuda beban saja.
Kaum modal perlu memakai kereta api dan kapal api
dengan perkakas mana segala hasil dunia dengan lekas boleh di bawah ke
pasar-pasar Eropa, Jepang, dan Amerika. Berhubung dengan hasil yang diadakan
dengan mesin, berhubungan dengan perkakas pengangkutannya model baru (kereta
api) serta keadaan perniagaan zaman sekarang yang menimbulkan toko-toko, post,
telgraf, kantoran seperti Bank-bank, maka perlu sekali dipakai kaum terpelajar
bangsa Hindia sendiri, yang lebih tahan kerja di panas, lebih jinak, dan lebih
murah bayarannya daripada bangsa Belanda.
Haruslah kita memuji-muji kaum etika? Perlukah
kita meminta sedekah sekolah-sekolah? Kita yakin, bahwa kalau kepulauan
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagainya yang subur dan penuh dengan
industri, maka di Hindia ini terpaksa mesti lebih banyak didirikan
bermacam-macam sekolah yang tersebut, sehingga sampai cukup menutup keperluan
kaum Modal.
Keperluan memakai kaum terpelajar Hindia itu
tidak bisa lagi dibatasi oleh sekolah pertengahan. Pun insinyur-insinyur
seperti juga dokter dan hakim mesti ditimbulkan dari penduduk Hindia sendiri.
Negeri Belanda yang penduduknya kira-kira 7 x
lebih kecil dari Hindia ini masakan bisa mengadakan kaum terpelajar yang cukup.
Lagi pula kalau kita pikirkan, berapa ongkosnya seorang insinyur dengan anak isterinya
ke Hindia ini, yang saban-saban 6 tahun dapat verlof, yang dapat gaji, taniteme
dan pensiun besar, tentulah kita tidak heran akan berdirinya ”technische
Hoogeschool” di Bandung (yang bisa masuk tentulah anak-anak bangsa Belanda dan
Cina yang kaya-kaya juga).
Seperti dimana-mana kaum Modal meracun dirinya
sendiri. Ia tidak sebentar juga lupa bahwa sekolah-sekolah yang tinggi-tinggi
itu dalam sesuatu koloni (jajahan) bisa mendatangkan bahaya kesentosaan dan
kekuasaannya. Sebagai nasionalis ia sadar akan kodratnya alam bahwa sesuatu
bangsa yang berkepandaian itu akhirnya akan berdaya upaya untuk melepaskan
belenggunya bangsa asing. Tetapi sebab mereka terpaksa memakai kaum Buruh
halus, yang jinak dan murah harganya, maka tiadalah lain jalan lagi dari memberi
didikan associatie (berdamai). Bangsa Hindia yang terpelajar, janganlah kelak
mengingat bangsanya lagi. Dengan buku-buku dalam sekolah, dengan contoh dari
guru-guru bangsa yang memerintah, haruslah ditanam perasaan kemodalan Belanda,
sehingga lupa pertentangan kebangsaan. Oleh karena keras teriaknya kebudayaan
kemodalan itu, dan beserta jinaknya bangsa kita, maka perdamaian (associatie)
yang perlu itu bisa didapat. Kaum terpelajar bangsa kita, yang sudah membuang
pakaian, adat dan pikiran Kromo sama sekali, tentulah akan menyerahkan badan
dan dirinya kepada kaum Modal, yang bisa memenuhi keperluannya hidup, seperti
yang menjadi cita-citanya ketika masih bersekolah. Karena satu keperluannya
dengan dan karena terpaksa ia memperhambakan diri kepada kaum Modal bangsa
asing, maka kaum yang terpelajar bangsa kita pukul rata mesti bertentangan
dengan Rakyat.
Sebaliknya pula bangsa kita, yang sudah kena
”didikan associatie” dan kena pengaruh politik etika itulah yang bisa
mengekalkan perhambaan bangsa Hindia, kalau tidak ada racun yang ditanam oleh
kaum Modal sendiri.
Kegopoh-gopohan dalam industri dan perniagaan
zaman kemodalan sekarang menyebabkan haruslah dengan segera didirikan
sekolah-sekolah yang perlu supaya dengan lekas mesin, correspondentie, (surat-menyurat)
telgram dll, dalam hal kecepatan kirim mengirim menghasilkan dan menjualkan
barang, jangan kalah oleh kaum Modal bangsa apapun juga di atas dunia.
Pendeknya supaya keuntungan tinggal besar. Tetapi dengan segera pula kaum
terpelajar itu melimpah (kebanyakan). Pabrik, tambang, spoor dan lain-lain
tidak bisa lagi menerima pemuda-pemuda yang saban tahun mengalir dari berbagai
bermacam-macam sekolah itu. Tidak akan berapa lama lagi, maka Hindia kita ini
niscaya seperti kejadian di Hindustan, akan penuh dengan kaum terpelajar
(intellectueel) yang tidak bisa dan tidak mau memegang cangkul lagi, dan tidak
bisa dapat pekerjaan pada kaum Modal.
Ini racunnya kemodalan pada tiap-tiap koloni.
Kaum buruh terpelajar ini, yang sama nasibnya dengan kaum buruh kasar, akan
terpaksa memikirkan peraturan negeri, dan kalau hatinya suci dan pikirannya
jernih mesti ia akan memihak pada Rakyat dan memihak pada peraturan Rakyat:
Komunisme.
Sebelum kaum terpelajar bangsa kita kena pukul
dari gurunya itu, yakni kemodalan, tentulah Rakyat Hindia ini mesti akan
berjalan sendiri dan mestilah syukur dengan pemimpin-pemimpin seadanya saja.
Bahwasanya, maka kedesakan Rakyat di Hindia ini
tiadalah kurang dari pada desakan Rakyat di benua kemodalan yang lain-lain.
Seperti kejadian di tanah Inggris, maka kemudian itu di desa-desa di sini sudah
melakukan kemurkaannya. Sawah dan ladang yang di-erfpacht (sewakan – Ed.) buat
pabrik gula menyebabkan beribu-ribu rakyat yang terlantar. Beribu-ribu kaum
Kromo terpaksa lari ke kota-kota, terpaksa berhamba pada kaum Modal gula,
terpaksa lari ke Deli, Kalimantan dan sebagainya untuk mencari sepotong kain
dan sesuap nasi. Lebih-lebih kalau sebentar lagi mesin-mesin yang ditunjukkan
di jaarmarkt (pasar raya) di Bandung kelak dipakai untuk pemotongdan pengangkut
tebu dan padi, sekarang dilakukan dengan tangan, tentulah ribuan pula kuli
mesti dilepas lantaran tidak berguna lagi.
Oleh karena negeri Hindia tidak saja subur,
tetapi juga tanahnya penuh dengan bermacam-macam barang logam (arang, timah,
emas, minyak tanah, dsb), maka negeri kita menarik hati kaum Modal dunia yang
berbagai-bagai itu. Bermacam-macam tambang sudah didirikan dan diantaranya
adalah tambang-tambang (minyak tanah) yang tiap-tiap tahun mengadakan
keuntungan yang tiada terpermanai banyaknya. Bagaimana nasibnya kaum buruh
tambang (umpamanya arang, emas) yang setiap-tiap hari tak putus kerja dalam
gelap dan bahaya, yang mesti mengeruk kekayaan dari lubang-lubang buat kaum
Modal, tiadalah perlu kita ceritakan lagi.
Sedangkan rakyat kita, yang selamanya hidup
dengan adatnya sendiri, tidak bisa hidup lagi dengan sentosa kalau tanahnya
kaya. Kita masih ingat bahwa adanya minyak tanah di Jambi mendatangkan
peraturan heerendiesnst, peraturan mana memaksa rakyat yang tiada semena-mena
itu mendirikan jalan-jalan raya, supaya bisa hasil minyak diangkut ke pinggir
laut, dan supaya mudah serdadu bergerak kalau ada perlu. Paksaan yang keras
tadi menyebabkan peperangan yang baru lalu, lantaran mana yang bodoh dan tiada
bersenjata juga yang mati beribu-ribu.
Adakah bedanya Hongietochten (pembunuhan di
kepulauan Ambon lantaran pala dan cengkeh) pada masa kompeni dengan kebudayaan
kemodalan pada abad yang ke 20 ini?
Pada zaman sebelum VOC (Kompeni) maka
barang-barang produksi pulau Jawa, Sumatera dll, diangkut ke pesisir-pesisir
dengan kuda beban atau pedati (kereta yang ditarik kerbau).
Dari pelabuhan-pelabuhan barang-barang itu
diangkut dengan kapal-kapal bangsa Hindia sendiri ke bandar-bandar benua Cina,
negeri Siam atau tanah Hindustan dan Parsi. Teranglah buat kita bahwa segala
keuntungan perusahaan, upah mengangkut barang, untung perniagaan sama sekali di
tangan penduduk Hindia. Pada zaman VOC maka kapal-kapal rakyat dan perusahaan
(industri) membuat kapal sama sekali jatuh lantaran hasil negeri diangkut ke
negeri Belanda dengan kapalnya Kompeni sendiri yang dijalankan oleh angin saja.
Sebab sesudah 1875 hasil-hasil diadakan dengan
mesin, yang beribu-ribu kali cepat dan kuatnya dari pada tangan, maka haruslah
pengangkutan barang itu dikencangkan pula. Kereta api yang cepatnya seperti
halilintar (kilat) tiap-tiap jam melarikan teh, kopi, minyak, gula, dan
sebagainya dari desa-desa atau gunung-gunung sampai ke pelabuhan. Disini
barang-barang tadi dimuatkan ke dalam kapal-kapal api yang dengan segera bisa menaburkan
hasil negeri kita yang mulia-mulia itu di pasar-pasar seluruh dunia. Dari
pasar-pasar seluruh dunia terutama dari negeri Belanda kapal-kapal tadi membawa
barang-barang pabrik (kain, barang-barang besi dsb) ke Hindia ini, dimana
barang-barang tadi bisa dijual dengan tetap dan mahal.
Begitulah sentosanya mempunyai koloni itu buat
kaum Modal. Hasil tanah Hindia yang tiada terpermanai harganya itu setiap menit
bisa menambah modalnya kaum Hartawam, yang tinggal di negeri Belanda dalam
istananya saja. Modal yang berjuta-juta dimasukkan pada Mastchappij-mastchappij
Spoor, tram, kapal dan lain-lain mesti saja bisa anak beranak. Pabrik-pabrik di
tanah airnya sendiri, mesti saja cukup grondstof (umpamanya karet untuk membuat
ban mobil), dan hasil pabrik itu niscaya bisa dijualkan di tanah kita ini. Post
dan Telegraafic, Firma-firma dan Bank-bank, yang memperhubungkan negeri Hindia
dengan negeri Belanda dan lain-lain dalam perniagaan, mudah saja mendapat
untung. Besar faedahnya berkoloni itu buat kaum Hartawan!!!
Sifat dan watak Rakyat Hindia tidaklah pula
tinggal membantu kekal hidupnya sesuatu modal.
Sungguhpun di tanah Eropa perkakas-perkakas
pabrik lebih murah dan pekerjanya lebih banyak dan pintar dari pada di Hindia
ini, tetapi tumbuhnya kemodalan di sana tidaklah bisa begitu subur seperti
disni. Di sana kaum Modal mesti membayar kulinya lebih mahal karena keperluan
hidup kuli-kuli di sana lebih tinggi dari di Hindia. Meskipun sengsara dan
tindasannya tiada berapa bedanya dengan disini, tetapi kaum Proletar di Eropa,
lantaran ada musim sejuk mesti memakai pakaian tebal, makanan gemuk-gemuk dan
rumah-rumah batu. Kaum Modal terpaksa membayar lebih! Lagi pula pergerakan kaum
Buruh yang teratur dan keras itu, sebab merebut bermacam-macam hak lahir dan
batin, sehingga kaum Buruh Eropa tidak boleh lagi dibalik-balikkan saja.
Bagaimana disini?
Karena kita tidak perlu memakai pakaian tebal dan
mahal, rumah-rumah batu serta makanan yang gemuk-gemuk, maka senanglah kita
dengan upah yang sedikit. Lagi pula watak-watak kesederhanaan (perhambaan),
seperti sabar, menerima serta syukur, yang sudah beratus-ratus tahun kita
terima dari Ratu-ratu, Pujangga dan pendeta-pendeta, pendeknya kebudayaan pada
tiap-tiap negeri yang berdasar keningratan, menyebabkan maka kaum Modal Eropa
bisa di sini membayar upah dengan sekehendak hatinya saja.
Bagus hawa negeri Hindia, kaya dan subur
tanahnya, sabar dan syukur penduduknya, kekurangan watak dan kepintaran buat
kemodalan. Inilah sifat-sifat yang terutama sekali yang menyehatkan, membesarkan,
dan mengekalkan kemodalan bangsa asing di negeri kita ini.
Menurut keterangan kita yang pendek tadi dalam
hal ekonomi (bermacam-macam perusahaan) maka beranilah kita memutuskan bahwa
kemesinan itu di negeri kita ini sudah cukup besar pengaruhnya. Tetapi oleh
karena datang dan majunya sangat baru, maka kaum Proletar tanah kita masih
setengah paham pertanian, yang bercampur dengan berbagai pengetahuan dan
kepercayaan kuno. Tetapi lambat launnya tentulah paham dan sifat-sifat
pertanian itu akan hilang juga.
Hilangnya itu niscayalah akan diperkencangkan
oleh pergerakan kaum Buruh di segenap dunia, terutama di dunia Eropa.
Kemenangan kaum Buruh di tanah Rusia atas kaum Modal, majunya pergerakan kaum
buruh di negeri-negeri yang lain-lain di Eropa menyebabkan maka kaum Proletar
di benua Asia mulai membuka mata dan membuka selimut kekunoannya yang sudah
beribu-ribu tahun itu.
Perubahan itu nyata sekali di tanah Hindia kita
ini. Juga propagandanya komunis disini, maka sudah tertanam bibit-bibit yang
bisa melanjutkan pergerakan-pergerakan, baik dalam hal serikat buruh maupun
dalam hal politik.
Bermacam-macam kaum buruh yang kita lukiskan di
atas tadi (pabrik, spoor dll) sudah mencoba memakai dan merasa gunanya
senjata-senjata Barat dalam pergerakan untuk mengubah nasibnya hidup.
Kekayaan, kepintaran, dan kerukunan kaum Modal di
Hindia ini boleh kita kalahkan kalau kita serukan pula karena meskipun kita
tidak kaya tetapi kita beribu-ribu kali lebih banyak. Tetapi kita mesti jangan
memandang bangsa (Jawa-Sunda-Melayu dsb) dan jangan memandang agama atau
pekerjaan kaum buruh yang terpencar-pencar dalam pabrik, kebun, tambang, spoor
dll. Itu haruslah mendirikan sebuah anggota yang mengikat segala serikat
buruh-serikat buruh yaitu Vakcentrale. Vakcentrale inilah saja yang bisa
melawan Syndicatnya (semacam vakcentrale juga) kaum Modal yang selalu siap
tolong-menolong kalau dapat serangan dari pihak kaum buruh. Oleh karena
kemodalan di Hindia ini internasional (Hindia ini sudah penuh dengan modal
bangsa-bangsa Belanda, Swiss, Amerika, Inggris, Cina, Jepang dsb. Minyak tanah
umpamanya sudah bisa mendatangkan pergaduhan antara Belanda dengan Amerika,
yang lantaran kekurangan minyak tanah mesti kesana sini merebut dan merampaas.
Oleh karena kemodalannya maka cita-cita Amerika untuk orang Amerika mesti
ditukarnya dengan cita-cita imperialisme: Dunia minyak untuk Amerika), maka
kaum buruh terpaksa pula mesti berhaluan internasional karena keperluannya
kepada Modal sama, meskipun agama dan bangsanya bermacam-macam.
Kaum Modal sudah mendirikan Liga Bangsa-Bangsa.
Tetapi yang berkuasa dalam Liga Bangsa itu ialah yang bertentara dan berkoloni
banyak juga (Inggris, Perancis dsb). Liga Bangsanya kaum Modal itu sudah diakui
dan dibantu oleh kaum Sosial Demokrat. Artinya itu, kaum Sosial Demokrat itu
setuju haluannya Modal yang mau menetapkan hidupnya keburuhan di Eropa dan
menetapkan hidupnya koloni (perhambaan bangsa Timur).
Kaum buruh Eropa sudah yakin bahwa tambah gaji
dua atau tiga tadi artinya di dunia kemodalan ini nihil.
Dengan segera naik harga beras, garam, kain yang
sama sekali di tangan kaum Modal. Sebab harga barang-barang ini naik, maka
sebentar lagi kaum Buruh mesti minta tambah gaji pula. Demikianlah nasib si
Buruh itu dalam dunia kemodalan. Gaji bertambah harga naik; harga barang naik
minta tambah gaji.
Disebabkan oleh aksi tambah gaji itu dalam dunia
kemodalan tak ada gunanya, oleh sebab krisis-krisis, peperangan-peperangan sama
sekali menimpa kaum Buruh dunia juga; oleh sebab dunia kemodalan dengan Liga
Bangsanya mau menetapkan keburukan di Eropa dan perbudakan bangsa Timur dan
Afrika, maka oleh sebab itu haruslah segala kaum Buruh dan Tani di atas dunia
mengumpulkan sekalian lasykarnya di bawah bendera internasionalisme dengan
berhaluan revolusioner.
C. Jatuhnya Kapitalisme dan Lahirnya
Komunisme.
Dahulu sudah kita terangkan (dalam fasal
Kapitalisme dan Sosialisme) bahwa menghasilkan barang dengan cara Kapitalisme
buat perniagaan yang bersifat concurentie (persaingan) itu mendatangkan
berbagai penemuan mesin baru. Penemuan mesin baru itu membesarkan hasil,
sehingga melimpah (over productie). Kelimpahan itu mengadakan politik jajahan
(rebut merebut rabat atau koloni) terhadap keluar negeri, dan politik dan
membesarkan tentara darat dan luat terhadap ke dalam negeri sendiri. Pajak
senantiasa bertambah-tambah, supaya kapal dan meriam juga senantiasa bertambah
kukuh dan kencang. Perlombaan dalam bikin membikin kapal dan meriam yang
besar-besar itu menimbulkan curiga dan takut di antara satu negeri dengan
negeri yang lain. Tiada satupun negeri yang percaya atas yang lain, tiada satu
negeri yang merasa sentosa hidupnya. Curiga dan ketakutan masing-masing itu
menyebabkan satu mencari teman pada yang lain sehingga mendatangkan
perserikatan. Demikianlah sebelumnya perang yang baru lalu ini (dari tahun 1914
– 1918) didapati perserikatan Jerman, Austria, Hongaria, dan Italia (ketika
perang Italia bercedera dan masuk sama Serikat Inggris), dari satu pihak serta
serikat Inggris, Rusia dan Perancis dari pihak yang lain. Lama sungguh kedua serikat
yang besar-besar itu bertentangan, sungguhpun baru dalam politik saja.
Akhirnya pertentangan politik ekonomi itu
melahirkan peperangan.
Selama dunia berkembang, yakni selama sejarah
dikenal, belumlah ada peperangan yang bisa menyamai hebatnya peperangan yang
baru ini, berjuta-juta harta yang lenyap. Berjuta-juta jiwa melayang di medan
peperangan di kota-kota lantaran bom dan dinamit yang dijatuhkan oleh kapal
udara, berjuta-juta yang patah kaki dan tangannya, yang melarat dan mati
kelaparan. Wabah penyakit atau kolera yang kadang-kadang menyerang kita
manusia, belumlah 1/10-nya dari wabah yang disebabkan oleh sifat kerakusannya
kaum Modal zaman sekarang.
Tetapi, seperti guntur dan petir itu mendahului
udara yang bersih, demikianlah juga ribut dan topan di tanah Eropa itu
mendahului zaman yang mesti datang, yang sekarang sudah merentangkan fajarnya
di tanah Rusia.
Tanah Rusialah yang pertama sekali sadar.
Dialah kaum Buruh yang pertama kali mengetahui bahwa dia dipakai oleh Kaum
Modal semacam perkakas untuk pemuasan nafsunya atas kekayaan saja. Segala
senjata-senjata yang maksudnya mula-mula mengekalkan dan membesarkan kemodalan,
sekarang berbalik haluan dan melenyapkan dirinya kaum Kapitalis sendiri.
Bagaimanakah di bagian tanah Eropa dan dunia yang
lain?
Baikpun serikat yang kalah, konon nasibnya serupa
saja. Dalam hal ekonomi dan politik keduanya jatuh. Negeri yang satu menarik
yang lain, akhirnya jatuhnya makin lama makin kencang.
Tanah jerman yang kerugian tanah, kapal-kapal,
kereta-kereta pendeknya kerugian bermacam-macam perkakas pengadaan hasil mesti
membayar ongkos perang beribu juta rupiah. Saban-saban diganggu oleh pemogokan
dan pemberontakan yang ngeri. Seperti kita uraikan dahulu politiknya kaum
Sosial Demokrat sama sekali bocor. Berdirinya sekarang tidak lain karena belum
ada partai yang lebih kuat dari partai-partai yang lain-lain. Sesungguhnya
partai Monarkis atau partai raja makin lama makin besar dan kuat, tetapi partai
ini belum berani keluar sekarang, juga sebab ada gandengannya yakni partai
Komunis. Dan partai Komunis ini belum pula bisa naik, lantaran pengaruhnya
partai-partai Monarkis, pendeta, Sosial Demokrat dan lain-lain. Tetapi
teranglah bahwa partai yang tiada lama lagi mesti naik ialah salah satu dari
yang dua tadi yakni: Partai Monarkis atau Komunis.
Boleh jadi partai Sosial Demokrat, yang rasanya
mesti akan jatuh sama sekali, mula-mula akan diganti oleh partai Monarkis, yang
mau mendirikan Kaisar seperti sebelumnya tahun 1918. Alasan persangkaan ini
adalah cukup. Politiknya kaum Modal Perancis sangat membangunkan hati
kebangsaan, (sehingga bangsa Jerman, juga kaum Buruhnya benci sama bangsa dan
kaum Buruh Perancis), sehingga perasaan ini boleh dipakai oleh kaum Modal
Jerman untuk politiknya sendiri. Oleh karena kaum Monarkis itu bisa menarik
hati Rakyat dengan membangunkan hati kebangsaan itu, maka kaum Komunis tidak
bisa berjalan cepat. Kehinaan yang setiap-tiap waktu mesti ditanggung oleh
Jerman dari pihak Perancis – ingatlah saja kedudukan tentara Perancis di
sebelah barat tanah Jerman dan perhatikanlah politik Polandia di Opper-Silecie,
politik mana dibantu keras pula oleh Perancis – besok atau lusa akan
mendatangkan huru-hara juga. Tetapi kita tidak percaya yang peraturan Monarkis
itu akan bisa kembali dengan kekal.
Sebaliknya kita yakin, bahwa kekusutan ekonomi
dan pergerakannya akan membuka mata kaum Buruh, juga akan membongkar
Kapitalisme di sana dengan pokok dan akarnya.
Meskipun Perancis menang berperang, tetapi
hutangnya kepada bangsa-bangsa lain, yang lebih kurang 300 billiun frans (300
billiun = 300.000.000.000.000,-) itu tentu tiada akan terpikul olehnya. Bagian
sebelah utara, yakni pusatnya industri hampir rata-rata hancur, lantaran
pelurunya meriam-meriam dalam peperangan yang sebelumnya. Kota-kota, desa-desa,
ladang dan tambang besar-besar, yang rusak haruslah didirikan kembali, supaya
perjalanan ekonomi bisa terus lagi. Tetapi dengan apa kalau sebagian besar dari
anak-anak muda yang kuat sudah meninggal di peperangan, dan kalau masih
beribu-ribu anak muda sudah mesti sudah dipakai untuk membantu Polandia dan
menjaga negeri-negeri yang baru dirampas kaum Modalnya sesudah perdamaian ini?
(banyak serdadu Perancis yang sekarang mesti dipakai untuk menjaga di sebelah
barat tanah Jerman, di Syria dan sebagainya). ”Lengang dan sunyi tanah
Perancis”, inilah yang mengerikan pembesarnya. Lagi pula jiwa yang lahir makin
berkurang-kurang. Kemenangan atas bangsa Jerman sangat mengganggu pergerakan
kaum Buruh tanah Perancis. Bangsa yang berdarah panas dan berhati kembang ini
mudah dihinggapi nafsu kemasyhuran. Tetapi kegirangan itu tentulah tidak akan
kekal. Karena ekonominya jatuh, dan sebab hatinya yang gembira dan dipukul rata
berani serta suci itu mudah pula dihinggapi oleh suaranya Komunis, maka partai
Komunis di Perancis itu makin lama makin mendesak. Tiadalah percuma saja bahwa
hampir semua buah pikiran manusia (begitu peraturan negeri dari persatuan
Monarkis (kerajaan) sampai dengan kapitalisme dan dari Kapitalisme sampai
Komunisme) yang dikemukakan zaman sekarang hampir sama sekali berasal dari
Tanah Perancis, sehingga terang pengaruhnya dalam 300 tahun ini atas
bangsa-bangsa di Eropa dan dunia yang lain-lain.
Meskipun tanah Ingrgis masuk serikat yang beroleh
kemenangan, walaupun tanahnya kaya, isi negerinya pintar, serta jajahannya di
atas dunia ini terbesar sekali, tetapi hal-hal yang tersebut tiadalah bisa
mengindahkan bala-bala yang dijatuhkan oleh peperangan baru-baru ini atas
dirinya. Dunia Inggris tergoncang. Sejak dari waktu perdamaian (tahun 1918)
sampai sekarang tiadalah putus pemogokan yang besar-besar dan tegas. Pemerintah
mesti campur, mesti mengeluarkan tentara, mesti mengeluarkan uang untuk
memelihara tentara itu, pendeknya pemerintah terhadap kaum Buruh sudah berlaku
seperti suatu negeri yang siap untuk berperang. Nyatalah disini bahwa
pergerakan ekonomi akhirnya mesti berdasar politik, karena pemerintah sendiri
terpaksa tampil membantu kaum Modal, yakni dengan polisi, justisi, dan
serdadunya. Makin lanjut kemodalan sesuatu negeri, makin keras dan tajam
pertentangan buruh dengan kapitalis dan mesti terang sikapnya pemerintah
terhadap para kaum pekejra. Dalam hal ini kaum Proletar tak bisa curiga atau
ragu-ragu, siapa yang kawan atau lawan.

0 Comment for "Parlemen atau Soviet? Tan Malaka (1921)"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...