AKURASI: KUNCI KREDIBILITAS
Informasi yang penting adalah
informasi yang akurat dan jelas.
Penulis dan pembaca mempunyai
keperluan yang berbeda, namun bisa bekerjasama. Penulis tak ada artinya tanpa
pembaca, dan pembaca masuk dalam sebuah cerita dengan harapan besar bisa
memahami semuanya.
Tanggung jawab yang terbesar
terletak pada penulis. Jika penulis mengkhianati harapan pembaca dengan membuat
sejumlah kesalahan atau kekurang-tepatan, dia merusak kerjasama yang telah
terbentuk.
Ketidak-akuratan biasanya
disebabkan karena kecerobohan, kemalasan, penipuan atau ketidakpedulian
reporter dalam menuliskan hasil reportasenya.
Pengecekan ulang sebelum kita
menulis, membaca kembali dengan hati-hati dan mengeceknya kembali setelah kita
menulis adalah benteng terbaik terhadap ketidak-akuratan.
MENGUJI AKURASI
Berikut ini adalah
elemen-elemen utama dalam mencermati sebuah fakta atau detil.
Jangan menebak
Penulis harus memegang betul
apa saja yang diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika kita tidak
benar-benar memahami, cek kembali hal itu atau tinggalkan sama sekali. Jangan
pernah mengira-kira.
Angka
Ceklah dua kali semua angka
dan jumlah. Sebuah angka seringkali tak memiliki makna, kecuali diletakkan pada
konteks yang mudah dipahami pembaca. Angka tentang omset penjualan misalnya,
tak punya makna jika tak disertai omset penjualan tahun lalu, berapa prosentase
kenaikan atau penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.
Angka juga seringkali lebih
bermakna jika disertai penjelasan yang menyentuh pembaca:
- Seberapa jauh melampaui standar pencemaran udara?
- Seberapa mahal dibanding APBN Indonesia tahun ini atau dibanding harga mobil Kijang yang rata-rata dimiliki pembaca?
- Seberapa luas dibanding lapangan sepakbola?
Dengan kata lain, angka yang
ada sebaiknya disertai ekuivalennya yang mudah dicerap pembaca.
Ukuran-ukuran juga sebaiknya
dikonversikan ke ukuran yang lazim dipakai pembaca: km bukan mil, rupiah bukan
dolar, meter bukan kaki, kg bukan pound.
Jika Anda tak menghitung
sendiri, sebutkan dari mana angka itu dikutip -- dari sumber atau dari buku
statistik, misalnya.
Nama, Tanggal dan Tempat
Tak ada orang yang suka
namanya ditulis secara salah. Usahakan untuk meminta sumber berita mengeja
sendiri nama sekaligus gelar dan nama panggilannya. Lihat di buku rujukan yang
terpercaya, misalnya buku apa siapa atau ensiklopedi. Jangan percaya hanya pada
leaflet atau selebaran atau omongan teman Anda.
Catatan penting tentang nama
sumber: sebagian besar nama orang Indonesia terdiri atas dua kata (kecuali
Soeharto misalnya). Cantumkan nama lengkap ketika pertama kali Anda menyebutnya
dalam laporan.
Pada saat kita menulis
tentang tanggal, lihatlah kalender lebih dahulu. Ketika menulis tentang tempat,
lihatlah kembali peta.
Jika mungkin, milikilah
sebuah buku pintar, infopedi, tabel konversi, kalender dan peta kecil. Letakkan
pada tempat yang mudah dijangkau, sehingga tak enggan kita untuk mengecek
sesuatu fakta.
Kutipan
Apakah sesuatu kutipan
benar-benar seperti yang dikatakan oleh sumber? Apakah catatan kita benar dan
kita berani mempertahankan sampai di meja pengadilan? Jika tidak, sebaiknya
dijelaskan dengan kata-kata kita sendiri saja.
Terburu-buru
Kata-kata yang sering digunakan sebagai permintaan
maaf atas beberapa kesalahan adalah: ''Saya tidak punya waktu untuk mengeceknya
kembali''. Alasan yang tidak bisa diterima.
Cerita Bohong
Sangat jarang penerbitan yang
tidak memasukkan hal ini ke dalam beritanya. Keragu-raguan adalah perlindungan
yang terbaik. Jika sebuah cerita atau kenyataan seolah-olah sangat aneh atau
menakjubkan untuk dipercaya, jangan percaya hal itu sebelum ada pembuktiannya.
Kesalahan Teknis
Perhatian yang istimewa
sangat dibutuhkan pada tulisan khusus seperti ilmu pengetahuan, hukum,
kedokteran, teknik, keuangan dan sejenisnya. Sediakan waktu untuk menelitinya,
dan kemudian ceklah kembali informasi yang kita peroleh melalui pakar yang
dapat dipercaya pada bidang tersebut.
Rekayasa
Manipulasi, perubahan
konteks, distorsi, pemaparan yang salah, sindiran, kebencian, gosip, kabar
angin dan melebih-lebihkan. Semua itu sangat tinggi ongkosnya, sementara
hasilnya sangat rendah.
MEMILIH DAN MENULIS KUTIPAN
Kutipan adalah cara yang
paling indah untuk menyajikan cerita dalam kerangka yang manusiawi. Dan kutipan hanya akan bagus jika:
- Menggambarkan aktivitas secara lebih lebih hidup atau lebih tepat daripada yang bisa digambarkan dengan cara lain.
- Menjawab pertanyaan yang mungkin diajukan oleh pembaca.
- Berusaha memberikan gambaran sekilas tentang pribadi pembicara.
- Untuk memberikan citarasa kesegaran dan kredibilitas pada sebuah cerita.
Untuk menentukan apakah Anda
akan mengutip langsung ataut idak, inilah pedomannya:
- Apakah kutipan itu kata-katanya tidak berantakan, ringkas dan jelas? Bila jawabannya tidak, Anda harus memakai kalimat tidak langsung.
- Apakah kutipan langsung itu akan memperkuat efek, memperjelas siapa yang bicara, atau menambah kesan sebagaipendapat dari orang yang memang layak dikutip? Bila jawabannya ya, pakailah kalimat kutipan langsung.
- Apakah cerita yang mengawalinya cenderung untuk under-quote? Bila jawabannya ya, pakailah kutipan langsung. Bila over-quote, pakailah bentuk kutipan tidak langsung.
Kadang-kadang pilihannya
malah lebih sulit. Yakni bila hanya sedikit bagian kutipan yang dapat diangkat,
yakni bagian kecil yang sangat bagus. Bila demikian halnya, baiklah kita
memakai bentuk kutipan tidak langsung untuk menuliskan sebagian besar ucapan si
subyek, dan baru kita pakai tanda kutipan langsung pada bagian yang menarik
perhatian itu:
Walikota mengutuk Komisi Pelayanan Masyarakat yang
cara kerjanya ''tolol dan brengsek'' dalam menjalankan petunjuk-petunjuk DPRD.
Kadang-kadang kutipan yang
bagus bisa lemah karena ditulis terlalu panjang:
''Karena sikap warga yang tidak kooperatif, selalu
mengganggu kami dengan keluhan kecil-kecil, seperti gong-gongan anjing, radio
stereo yang berisik, anak-anak yang ribut, perkelahian pribadi, kucing hilang,
bau yang tidak enak dari pabrik, saya mengundurkan diri,'' kata Ketua RT itu.
Pak Ketua RT itu terlalu
berkepanjangan, sehingga wartawan bisa memilih begini:
''Karena sikap warga yang tidak kooperatif, yang
selalu mengganggu kami dengan keluhan kecil-kecil... saya mengundurkan diri,''
kata Ketua RT itu.
Dalam bagian atas sudah kita
bicara perlunya alinea pendek. Tapi kadang-kadang, sebuah kutipan yang bagus
memerlukan tempat panjang. Nah, seorang penulis yang baik akan membagi kutipan
itu menjadi beberapa alinea.
''Kesulitan kami muncul
setelah saya dipecat. Uang kami habis tiga minggu kemudian, sehingga kami tidak
bisa membayar sewa. Pemilik rumah mengusir kami, meskipun sebelumnya kami tidak
pernah menunggak pembayaran. Kami tinggal di bawah jembatan, semacam
gelandangan,'' kata Abdul Gafur.
Bila penulis memutuskan
memakai kutipan itu supaya efektif, ia harus memotongnya menjadi paling tidak
dua alinea. Ini bisa dilakukan dengan tidak menutup kutipan pada akhir satu
aliena dan menambahkan tanda kutip pada awal alinea berikutnya:
''Kesulitan kami muncul
setelah saya dipecat,'' kata Abdul Gafur. ''Uang kami habis tiga minggu kemudian,
sehingga kami tidak bisa membayar sewa. Pemilik rumah mengusir kami, meskipun
sebelumnya kami tidak pernah menunggak pembayaran.
''Saya mencoba kemudian
untuk pergi ke Kantor Jawatan Sosial, tapi mereka mengatakan saya tidak berhak
dapat bantuan karena saya menolak tawaran pekerjaan di luar kota. Saya tidak
ada pilihan lain karena saya tidak punya uang untuk ongkos bis.
''Maka, selama 2 minggu
terakhir ini, kami tinggal di bawah jembatan, semacam gelandangan.''
Anda perhatikan bahwa
penyebutan nama hanya sekali pada awal alinea karena kutipan masih berlanjut.
Dalam hal-hal lain, bila ada kutipan baru, nama yang dikutip harus disebutkan
lagi:
''Kesulitan kami muncul setelah saya dipecat,''
kata Abdul Gafur. ''Uang kami habis tiga minggu kemudian, sehingga kami tidak
bisa membayar sewa. Pemilik rumah mengusir kami, meskipun sebelumnya kami tidak
pernah menunggak pembayaran.''
Untuk meneruskan cerita itu
setelah pengecekan secukupnya, penulis mencampur kutipan langsung dan kutipan
tidak langsung:
Pertama:
Mudjono, kepada bagian di
tempat Abdul Gafur bekerja di Koperasi Pertanian Meguwo, mengatakan bahwa Gafur
dipecat setelah terbukti menggelapkan uang pupuk. Gafur membantah tuduah itu.
Yang empunya rumah tempat
Gafur tinggal, Cecep Suganda, membantah kata-kata Gafur, bahwa ia selalu
membayar sebelumnya. Menurut Cecep, Gafur belum membayar 4 bulan.
Kedua:
''Saya mencoba ke Kantor Jawatan Sosial, tetapi
mereka mengatakan saya tidak berhak dapat bantuan karena saya menolak tawaran
pekerjaan di luar kota. Saya tidak ada pilihan lain, karena tidak punya uang
untuk ongkos bis,'' kata Gafur.
Sri Sukatni seorang petugas
di Kantor Jawatan Sosial, mengatakan bahwa Gafur menolak tiga tawaran
pekerjaan, termasuk di sebuah toko, 2 km jauhnya dari jembatan tempat
tinggalnya kini.
Ketiga:
''Maka, selama dalam dua
minggu terakhir ini, kami tinggal di bawah jembatan, semacam gelandangan,''
kata Gafur.
Di kampung Jambe, Kelurahan
Karangkobar, Nyi Fatimah, ibu Gafur, tinggal dalam sebuah rumah yang punya 4
kamar. Para tetangga mengatakan bahwa Gafur dan isterinya menyusup ke rumah
ibunya segera setelah matahari tenggelam dan tinggal di sana sampai matahari
terbit.
OVER ATAU UNDER QUOTE?
Dalam menulis kutipan, banyak
problem teknis yang dihadapi. Kebanyakan penulis muda cenderung terlalu banyak
mengutip (over-quote) atau terlalu
sedikit mengutip (under-quote).
Dalam over-quoting, penulis hanya sekadar menyusun kutipan, seraya
kadang-kadang menysipkan kata penyambung.
Cara pengutipan seperti ini
sering tidak bisa diterima. Sedikit orang yang menggunakan kata-kata secara
ringkas dalam percakapan. Sebagai penulis, wartawan harus mampu menyampaikan
pesan itu dengan lebih jelas dan ringkas dengan cara membuat menjadi kalimat
kutipan tak langsung.
Over-quoting juga menghancurkan salah satu tujuan baik dalam
pengutipan: menghapuskan kejemuan karena gaya yang sama. Dengan over-quoting, penulis hanya mengganti
gaya monoton dirinya dengan gaya monoton seorang lain.
Unverquoting juga merusak. Banyak penulis baru yang tidak
yakin akan kemampuannya mengambil kutipan, sehingga ia selalu membuat kutipan
tidak langsung. Cara ini juga menghilangkan tujuan baik pengutipan.

0 Comment for "AKURASI DAN KUTIPAN"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...