“kancing baju anda terbuka”
laki-laki itu membalikan tubuhnya kembali dan melangkahkan kakinya menjauhi
Anci yang kini mukanya sudah terlihat merah padam karena menahan malu. Ingin
rasanya ia mengubur kepalanya kedalam bumi untuk menghilangkan rasa malunya
itu.
‘AH ANCI, LO ITU BEGO YA
TERNYATA, BISA-BISANYA LO CEROBOH GITU’ lagi-lagi Anci meruntuki dirinya karena
tidak sadar satu kancing kemejanya terbuka.
**
Pukul 5 sore
Anci melangkahkan kakinya dengan
gontai serta wajah yang................jangan ditanya lagi ‘sangat lelah’ yup,
hari ini ia harus pulang menggunakan angkutan umum karena uci pamit pulang
terlebih dahulu untuk menjemput adiknya di bandara. Dengan malas ia
menghempaskan bokongnya pada bangku halte. Capek, panas, sesak, belum lagi bau
berbagai macam parfurm yang bercampur dengan keringat. Mulai dari mahasiswa
hingga para pekerja kini telah memenuhi halte. Setiap sore hari begini suasana
selalu ramai banyak mobil yang berlalu lalang di jalan raya serta para pejan
kaki yang berjejer di trotoar. Sesekali Anci melihat kearah bus yang berhenti
tepat di di depannya namun baru sajaia melangkahkan kaki untuk masuk tapi bus
tersebut telah dipenuhi oleh penumpang lainnya.
Satu jam berlalu, sang mentari
telah kembali ke tempat peristirahatannya, semilir angin membelai lembut rambut
Anci yang terlihat berantakan.
Ehm
Suara dehaman yang berasal dari
samping Anci berusaha memecah keheningan yang sedari tadi tercipta dengan
sempurnanya. ‘suara siapa itu, apa suara hantu? Atau psikopat yang sedang
mencari korban’ Anci membatin. Dengan ragu ia menoleh ke arah sumber suara.
“hai” sapa pemilik suara dehaman tersebut dengan cengiran lebar yang menampakan
gigi rapinya. “hai Anci” sapa orang itu lagi karena tak kunjung mendapat respon
dari gadis yang duduk tak jauh darinya. Seorang laki-laki bertumbuh tinggi agak
gempal dengan rambut yang acak-acakan namun terlihat sexy. Kulit hitam manis
serta lesung pipit yang bertengger manis di kedua sudut bibirnya. ‘Damn! Dari
mana ia tahu nama gue, apa emang ia seorang psikopat yang sedang mengincar
mangsanya, OH MY GOD gue jadii mangsa psikopat’ lagi dan lagi batin Anci berbicara. ‘ya Tuhan gue belum mau mati, gue
masih pangen hidup gue belum nikah Tuhan’ saat ini ia merasa sangat parno.
“hei nama gue Doullino, lo bisa
panggil gue Oulli, oh ya gue bukan seorang psikopat” orang
itu berbicara seakan tau apa yang difikirkan Anci. “lo pasti ga pernah
liat gue kan, tapi gue sering liat lo,
kita satu ruangan meja kita berseberangan.” Lagi-lagi orang itu berbica seolah
sudah lama saling mengenal. ‘oh Anci kemana aja si lo selama ini orang segede
karung goni gini lo ga keliatan’
“gue tau ko lo sangat serius
dalam bekerja, oh ya please dong jangan panggil gue karung goni” sambung Oulli
seakan bisa membaca fikiran Anci. Anci diam melongo dengan tatapan ‘apa dia
paranormal?’ “oh ya gue bukan para normal, gue ngomong gitu karna banyak yang
bilang gue kayak karung goni, cukup orang-orang itu aja ya lo jangan
ikut-ikutan. Orang-orang mah iri sama badan gue yang subur makanya ngomong kayak gitu” Anci merasa
sedang duduk di dekat kereta api yang sedang melintas.
CIIIIIIIIIIIITTTTTT
Sebuah sepeda motor sedang
berhenti tepat di depan Anci dan Oulli.
”Anci, lo belum pulang?” tanya
pengendara motor tersebut yang tak lain adalah Uci sahabatnya. “i..iya, gue
nunggu bus dari tadi tapi penuh semua” jawab Anci lalu menoleh ke arah Oulli.
“Oulli? Lo beneran Oulli kan?
Doullino Holmes Barreto” Uci meyakainkan bahwa ia tidak salah orang dan orang
yang duduk di sebelah sahabatnya itu adalah teman lamanya waktu berlibur ke
rumah neneknya di Sumatera. “lo Uci kan? Prennakei Lucia Beauvalot” Oulli
mengerjapkan matanya. “wah lo ganteng ya sekarang, kurusan dan tambah tinggi,
dulukan lo bulet pendek kayak karung goni BHAHAHAHA” seketika tawa uci meledak.
“wah sialan lo ngejek gue” timpal Oulli sambil memukul pelan bahu Uci.
Sedangkan Anci hanya diam melongo
seperti orang bodoh melihan kedua insan di depannya sedang bernostalgia ria.
Dia tidak mengertiapa yang sedang mereka bicarakan.
***
“Anci, ada hot news lhoo” seorang
gadis yang sedang duduk di samping meja kerja Anci berbicara dengan antusias.
“emm” gumam Anci sekenannya tanpa berpaling dari layar monitor dan jari
lentiknya sedang asik menari-nari di atas keyboard. “dengar-dengar minggu depan
ada pesta perayaan ulang tahun Feroyadeglan’s Corperation lhoo dan sekaligus
perayaan ulang tahun pewaris tunggal yang tak lain adalah pak Rex, CEO terkece
sejagat raya, emmm semua karyawan di undang lhoo siapa ya yang nantinya cewek
beruntung yang berdiri di samping CEO kece itu” cerocos gadis tersebut dengan
panjang kali lebar kali tinggi *volume dong eh* “Anci?” kata gadis itu sadar
bahwa tidak ada tanggapan yang merespon ucapannya. “hei nona Anna Lucia .V”
dengan geram dan sedikit keras ia memenggil nama lengkap Anci. “eh iya nona
Desi Rechairu Zoullyoangchi” Anci menoleh ke arah gadis itu dan balas memanggil nama lengkapnya. Ya gadis
berkulit putih serta mata sipit yang sering dipanggil Rechai adalah teman dekat
Anci di tempat ia bekerja. Memang temannya yang satu itu selalu up-date
terhadap berita maupun gosip-gosip yang sedang beredar. Sepertinya ia harus
hati-hati dengan temannya yang satu ini agar tidak menjadi bahan gosipan,
memangnya apa yang bisa di gosipkan dari seorang Anna Lucia .V ia adalah gadis
biasa yang tidak terlalu peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
“Anci lo dengerin gue ga sih,
capek ni mulut gue komat-kamit dari tadi” geram
Rechai
“eh tadi lo ngomong apa?” Anci tersadar dari lamunannya
“Errrrrrgggghhhh ‘Anciiiiiiii”
Rechai semakin geram karena merasa percuma berbicara panjang lebar.
“hai Anci, makan siang bareng
yuk” suara laki-laki memecah kekesalan Rechai terhadap Anci.
Anci yang merasa terselamatkan
mengusap dadanya pelan sambil menghela nafas pelan.
“hai Oulli” Anci membalas sapaan
Oulli dengan senyum lebar sambil menganggukan kepalanya cepat tanda ia
menyetujui ajakan Oulli.
****
Dan di sinilah mereka, di sebuah
caffe yang tak jauh dari tempat kerja mereka. Sebuah caffe yang didominasi oleh
warna coklat dan juga putih, sederhana namun membawa aura ketenangan.
Sambil menikmati hidangan mereka
“eh Anc, minggu depan lo datang ke pesta ga?” Oulli angkat bicara memecah
keheninganyang ada. “pesta?” bukannya menjawab, Anci malah balik nanya dengan
guratan tipis di keningnya. “yup, pesta perayaan ulang tahun perusahaan dan
juga pak Rex” jawab Oulli seakan faham apa yang sedang Anci fikirkan. “pak
Rex?” lagi-lagi Anci bertanya. “ya, Erdhiza Adeorexstance Feroyadeglan seorang
CEO sekaligus pewaris tunggal dari Feroyadeglan’s Corperation”
“Erdhiza Adeorexstance
Feroyadeglan” Anci berkata dalam hati tengah berfikir kalau nama tersebut
familliar di telinga maupun fikirannya.
“eh Anc, lo ko bengong si, jangan
bilang lo ga tau lagi big bos kita” Oulli membuyarkan lamunan Anci. “eh iya”
Anci tersadar dari lamunannya. “Anci Anci” Oulli hanya menggelengkan kepalanya
pelan melihat temannya itu yang sangat tidak peka terhadap lingkungannya.
“Erdhiza Adeorexstance Feroyadeglan” gumam Anci pelan namun pendengaran Oulli
cukup tajam untuk mendengarnya. “hei lo kenapa nyebut nama pak Rex, udahlah ga
usah difikirin ntar lo juga tau sendiri yang mana orangnya” .
“eh iya gue penasaran mana sih
yang namanya Rex Rex Rex itu” sahut Anci
dengan cengiran lebarnya agar tidak terlihat sedang memikirkan sesuatu. “oh ya
Ou, gue ke toilet dulu ya” sambung Anci dan Oulli hanya mengangguk. “jangan
kangen sama gue ya” sahut Oulli dengan Pdnya. Anci hanya memutar kedua bola
matanya lalu beranjak dari tempat duduknya.
BURK
“Aw”
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Maaf part yang ini agak pendek,
gue ngetiknya pas lagi ngantuk berat jadi harap maklum kalau typo merajalela
Sampai jumpa readers, sampai
ketemu di part selanjutnya
Bye
Bye
Miss Uci ({})

0 Comment for "Bintang Kejora [part 2]"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...