...sambungan ke-2...
VII. SYARAT PERANG YANG TETAP
Sudah dijelaskan pada Bab VI
tadi, bahwa empat anasir, ialah:
- kebumian.
- teknik persenjataan.
- banyaknya prajurit serta.
- soal tempo
sangat mempengaruhi dan malah
bisa merubah-merombak siasat perang, yakni siasat membela dan siasat menyerang.
Demikianlah dengan berubah bertukarnya ke-empat anasir itu dari zaman biadab ke
zaman Julius Caesar, dari zaman Julius Caesar itu ke zaman Napoleon dan dari
zaman Napoleon ke masa perang dunia ke-I dan ke-II, maka berubah bertukarlah
pula siasat membela dan menyerang itu.
Seperti sudah diuraikan lebih dahulu,
maka perubahan keempat anasir itu pada perang Dunia pertama mengakibatkan
perang Gerak-Cepat (Mobile warfare) TERPAKU kepada perang STELLING (Trench
Warfare). Tetapi ada yang tinggal tetap ditengah-tengah perubahan besar-kecil
selama ribuan tahun itu: yakni TETAP menurut pengertian kita manusia biasa!
YANG TETAP itu ialah beberapa syarat untuk memperoleh kemenangan.
Syarat Perang YANG TETAP selama
ribuan tahun itu, yang terutama sekali diantaranya, ialah:
- KETINGGIAN NILAINYA SIASAT-MENYERANG.
- PENYERANGAN SEBAGAI PUKULAN BAGI KEMENANGAN TERAKHIR.
- SELUK-BELUK PEMBELAAN DAN PENYERANGAN.
- CARA MEMUSATKAN TENTARA.
- CARA MENENTUKAN PUSAT YANG BAIK ITU.
- MEMPERBEDAKAN SIASAT PERANG DENGAN POLITIK.
- TEKAD MAU MENANG.
Sekedang keterangan bagi satu
persatunya 7 syarat tersebut:
1. KETINGGIAN NILAINYA SIASAT
MENYERANG.
Seperti sudah dijelaskan di
atas, maka tidak saja menurut Siasat-Menyerang, tetapi juga menurut
Siasat-Pembelaan, penyerangan itu harus dilakukan sampai kemenangan itu
tercapai. Alasan yang tepat buat sikap menyerang itu, ialah:
1. Si-penyerang itu berada dalam
gerakan jasmani ataupun rohani. Keadaan ini memberi kepuasan kepada watak yang
aktif, yang suka beritndak, seperti seharusnya watak seseorang prajurit.
Sebaliknya Si-Pembela berada dalam keadaan berhenti, menunggu, dalam keadaan
pasif. Berhenti menunggu lebih mengganggu urat syarat dari pada bergerak
berbuat. Apabila pula buat seorang prajurit yang berwatak bertindak, maka
berhenti menunggu itu adalah satu siksaan hidup.
2. Si-penyerang tahu lebih
dahulu dimana tempat yang akan diserangnya. Apabila kalau para penyelidik sudah
memastikan lebih dahulu, bahwa tempat yang akan diserang itu adalah tempat
barisan musuh, yang lalai-lemah, maka Si-penyerang tak akan mengenal lelah atau
takut. Yang dalam pikiran dan perhatiannya cuma kemenangan yang sempurna dan
yang harus diperoleh dengan cepat. Sebaliknya Si-pembela, yang berhenti
menunggu di-belakang parit tiada tahu dari penjuru mana musuh itu akan datang,
bila musuh itu akan datang. Beberapa banyaknya musuh yang akan datang itu dan
apakah pula senjatanya musuh itu. Semuanya itu mendebar-debarkan jantung dan
melemahkan urat syarat mereka, yang tiada berwatak sabar-tenang.
2. PENYERANGAN SEBAGAI PUKULAN
BAGI KEMENANGAN TERAKHIR
Maksud yang penghabisan dari
semua peperangan ialah memperoleh kemenangan terakhir. Dalam perang yang
bersifat GERAK CEPAT, maka kemenangan terakhir itu bisa langsung diperoleh
dengan memecah-belah mengepung menawan atau memusnahkan musuh. Dalam perang
yang bersifat maju-mundur-pun musuh belum lagi akan pulang kembali ke negerinya
atau menyerah kalah sebelum merasakan pukulan yang hebat dari pihak si-pembela.
Seperti sudah disebutkan di atas, maka pembelaan itu harus dilaksanakan dengan
penyerangan. Jadi bagaimanapun juga siasat yang dilakukan, maka penyerangan
jugalah yang akan memberi-putusan terakhir kepada sembarang macam peperangan
itu.
3. SELUK BELUK PEMBELAAN DAN
PENYERANGAN.
- Jika musuh mempertahankan diri dengan kekuatan yang besar, maka haruslah si-penyerang mempersiapkan tentara yang seimbang besarnya.
- Apabila musuh mengadakan pertahanan yang barlapis-lapis yang semakin ke belakang semakin kuat barisannya maka haruslah si-penyerang mengadakan serangan dengan tentara berlapis-lapis pula. Dasar bagi beberapa lapisan penyerang itu ialah lapisan yang paling belakang menyerang haruslah yang paling kuat pula. Dengan begitu maka serangan yang menghadapi lapisan pertahanan musuh yang kian dalam kian kuat itu bisa dilakukan dengan beberapa lapisan pasukan yang kuat pula. Penyerang bisa berlaku cepat demi cepat pula sehingga musuh terperajat, kacau-balau dan akhirnya menyerah atau binasa.
- Persiapan musuh yang dilaporkan oleh barisan patroli tak bolah dibiarkan begitu saja. Persiapan itu harus dikacau-balaukan dengan penyerangan terus-menerus. Dengan demikian maka persiapan musuh itu tak bisa kuat selesai.
4. CARA
MEMUSATKAN TENTARA.
Pemusatan itu
dilakukan dengan terpisah dan bergelombangan. Kita masih ingat bagaimana
tentara Jepang menyerbu Indonesia pada tahun 1942. Penyerbuan itu dilakukan
oleh 3 pasukan yang berpisahan:
- Pasukan yang berangkat dari Jepang melalui Malaya, terus ke Sumatera;
- Pasukan yang langsung dari Jepang menuju pulau Jawa
- Pasukan yang berangkat dari Jepang melalui Kalimantan dan menuju Sunda kecil dll.
Tiap-tiap
pasukan itu maju berlapis-lapis dan bergelombangan. Pasukan (2) yang ditujukan
ke pulau Jawa itu dipecah pula menjadi beberapa barisan, yang mendarat di empat
tempat di pulau Jawa. Tiap-tiap barisan itu dipecah pula menjadi beberapa
lapisan yang maju bergelombangan.
5. CARA
MENENTUKAN PUSAT YANG BAIK ITU.
Pusat yang
baik buat dituju, ialah sesuatu GELANG dalam rantai pertahan musuh. GELANG ITU
harus dipecahkan. Dengan pecahnya gelang itu, maka terpotonglah rantai
pertahanan musuh itu. Ahli siasat Jepang menganggap Bandung-lah salah satu
gelang yang penting buat pertahanan pulau Jawa ini. Berhubungan dengan itu,
maka dari Bantam (Banjarnegara) dan dari Cirebon (Eretan) ditujukan
berlapis-lapis pasukan ke arah Bandung itu. Melihat tentara Jepang yang datang
dari pelbagai pihak dan bergelombang, maka Belanda sudah menyerah sebelum
bertempur dengan sungguh-sungguh.
6.
MEMPERBEDAKAN SIASAT PERANG DENGAN POLITIK.
Perang adalah
kelancaran politik. Apabila pertikaian politik antara Negara dan Negara, antara
satu bangsa-tertindas dengan bangsa-penjajahan, atau antara satu kelas
tertindas dengan klas penindas, tiada dapat lagi diselesaikan dengan jalan
damai, maka peranglah yang akan menjadi hakim. Peranglah yang akan menentukan
siapa yang benar, siapa yang salah. Dalam hal ini dunia menganggap yang menang
peranglah pihak yang benar.
Tetapi
Siasat Perang harus dibedakan dengan Politik.
Oleh sesuatu
Negara Merdeka, maka kalimat di atas ini biasanya ditafsirkan, bahwa janganlah
perbedaan paham politik dimasukkan ke dalam tentara. Tegasnya janganlah percekcokan
antara Partai Kolot (conservatif), Partai Liberal atau Demokratis, Partai
Sosialis atau Komunis dll ditarik-tarik pula dalam ketentaraan. Petuah yang
biasa dipakai berbunyi: Tentara itu tiada berpolitik. Oleh Keizer Wilhelm ke
II, ketika meletusnya perang dunia ke I, petuah itu dilaksanakan dengan ucapan:
“Saya tak mengenal partai, saya cuma mengenal orang Jerman”, Kedua petuah
tersebut bermaksud supaya tentara cuma memikirkan soal pertempuran saja. Tak
usahlah tentara itu memikirkan garis politik Negaranya. Serahkan sajalah urusan
poltiik itu kepada para Ahli-politik.
Selain dari
pada tafsiran di atas, maka ada pula tafsiran yang lain. Yaitu: bedakanlah
urusan yang semata-mata urusan politik (dalam arti bentuk dan kewajiban sesuatu
Pemerintahan) dengan urusan Perang semata-mata. Tegasnya pula! Bedakanlah soal
garis politik serta CARA BAGAIMANA mendapatkan makanan, pakaian dan senjata
untuk Tentara itu dengan CARA BAGAIMANA mengatasi musuh dalam pembelaan serta
penyerangan.
Kedua
tafsiran dari Negara Merdeka tersebut di atas mendapat corak lain bagi sesuatu
masyarakat yang sedang BEREVOLUSI. Bukankah pula sesuatu Negara merdeka itu
SUDAH mempunyai kepastian tentangan soal daerah dan batas, soal
kebangsaan-kewarganegaraan dan jumlah penduduk, serta soal bentuk dan kewajiban
pemerintahannya dll itu? Dan bukanlah sebaliknya sesuatu BANGSA atau Kelas yang
berrevolusi itu, JUSTRU SEDANG memperjuangkan Masyarakat dan Negara itu yakni
memperjuangkan daerah batas warga penduduk serta bentuk dan kewajiban Pemerintah
dll itu?
Memangnya ada
Persamaan, tetapi ada pula perbedaan bagi sesuatu Negara Merdeka dan bagi
sesuatu Masyarakat Berjuang berhubung dengan kedua tafsiran di atas tadi.
Masyarakat Berjuang dan Negara Perang memangnya keduanya sama-sama membedakan
urusan politik dengan kewajiban tentara. Tegasnya ialah, bahwa, kedua itu
haruslah sama-sama membedakan urusan menentukan garis-politik dan cara
bagaimana mendapatkan makanan, pakaian dan senjata bagi tentara dengan Siasat
Membela dan Menyerang.
Tetapi berbeda
dengan Negara Merdeka, maka bagi bangsa dan kelas berjuang (seperti kita
sekarang) memangnya politik dalam arti PAHAM, IDIOLOGI, itulah yang sebenarnya
menjadi otak-jantung, atau keyakinan-tekadnya sesuatu tentara Rakyat, Tentara
Murba, Tentara Bambu Runcing! Bangsa atau Kelas Berjuang itu, yang bersenjata
serba sederhana itu, justru harus mempunyai tentara yang berpaham beridiologi,
yang berkeyakinan politik, paham, idiologi dan politik kebangsaan atau politik
keproletaran itulah senjata Tentara Kemerdekaan yang Nomor Satu! Begitu di masa
revolusi Borjuis di Perancis (1789) dan demikian pula halnya di masa revolusi
Borjusi dan Proletar di Rusia (1917). SANG GERILYA yang berpolitik jelas-tegas
itu berkewajiban berusaha sekeras-kerasnya mempengaruhi paham pasukannya, serta
Rakyat disekitarnya sambil berusaha mendapatkan semua kebutuhan hidup dan
pertempuran bagi pasukannya. Pasukan dan Rakyat berjuang buat kemerdekaan itu
harus mengerti dan setuju dengan isi kemerdekaan itu! Memang juga SANG GERILYA membedakan
dan memisahkan siasat perang dan politik. Berhubungan dengan itu maka di
belakang pula organisasi keprajuritan dengan organiasi Politik dan Ekonomi.
Tetapi (seperti juga Negara Merdeka tadi), maka organisasi politik dan tentara
itu Kerja-sama dimana tentara berada di bawah pengawasan (supervision-nya
politik).
7. TEKAD MAU
MENANG.
Seperti udara
bagi rabu (paru-paru) untuk bernafas, demikianlah pula TEKAD MAU MENANG itu
adalah syarat bagi seseorang prajurit untuk berperang. Seorang prajurit yang
tiada mempunyai tekad semacam itu, tiadalah pula mempunyai banyak harapan akan
menang. Dia akan mudah diombang-ambingkan oleh kesulitan atau kekalahan
sementara. Satu petuah militer dari bangsa Asing berbunyi: Dia menang, karena
dia berpantang kalah. Kata petuah pahlawan Indonesia : “Satu hilang, kedua
terbilang; namanya anak laki-laki." Artinya: Sesudah memasuki gelanggang
peperangan itu, maka cuma dua kata kemungkinan buat seorang pahlawan. PERTAMA:
Dia mungkin hilang atau tewas dalam perjuangannya. KEDUA: Dia mungkin terbilang
artinya terhitung sebagai seorang prajurit yang menang, sebagai seorang
pahlawan jaya, karena tekad semacam itulah, maka 300 (tiga ratus) pahlawan
Sparta memperoleh ujian dan pujaan luar biasa di zaman lampau. Mereka sanggup
mempertahankan Negaranya dan mengusir musuhnya yang datang menyerbu meskipun
musuhnya terdiri dari tentara yang berlipat ganda besarnya.
Labels:
Ilmiah,
Sejarah,
Tips dan Trik
Thanks for reading GERPOLEK Gerilya - Politik - Ekonomi Tan Malaka (1948). Please share...!

0 Comment for "GERPOLEK Gerilya - Politik - Ekonomi Tan Malaka (1948)"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...