Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague. Dimuat di MIA pada tanggal 13 Juni 2007.
Arsip Tan Malaka; Sejarah Marxisme di Indonesia; Seksi Bahasa Indonesia M.I.A
MADILOG
Tan Malaka (1943)
SEJARAH MADILOG
Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata
Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan
pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang
lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog,
ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943
(berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari.
Buku yang lain ialah Gabungan Aslia sudah pula
setengah di tulis. Tetapi terpaksa ditunda. Sebab yang pertama karena kehabisan
uang. Kedua sebab sang Polisi, Yuansa namanya diwaktu itu, sudah 2 kali datang
memeriksa dan menggeledah rumah lebih tepat lagi “pondok’’ tempat saya tinggal.
Lantaran huruf madilog dan Gabungan Aslia terlampau kecil dan ditaruh di tempat
yang tiada mengambil perhatian sama sekali, maka terlindung ia dari mata
polisi. Terpeliharalah pula kedua kitab itu dan pengarangnya sendiri seterusnya
dari mata dan tongkat kempei Jepang.
Lantaran hawa kediaman saya itu sudah agak panas
dan bahaya kelaparan sudah mengintip, maka terpaksalah saya memberhentikan
pekerjaan saya meneruskan menulis Gabungan Aslia. Saya bertualang di daerah
Banten mencari nafkah sambil memperlindungkan diri pula.
Akhirnya saya dapat pekerjaan tetap di Tambang
Arang, Bayah. Disinilah saya mendapat pekerjaan sedikit lebih tinggi dari
romusha biasa, (maklumlah orang tak punya diploma dan surat
keterangan!) sampai menjadi pengurus semua romusha dan penduduk kota Bayah dan sekitarnya
dalam hal makanan, kesehatan, pulang-pergi dan sakit matinya romusha ribuan
orang, dengan perantaraan kantor urusan prajurit pekerja.
Sebagai ketua Badan Pembantu Pembelaan (BPP) dan
Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), saya akhirnya sampai dipilih menjadi
wakil daerah Banten ke kongres Angkatan Muda yang dijanjikan di Jakarta, tetapi
tak jadi itu (bulan Juni 1945). Disinilah saya berjumpa dengan pemuda seperti
Sukarni, Chairul Saleh, dll. yang sekarang mengambil bagian dalam pergerakan
Persatuan Perjuangan. Juga dengan pemuda lainnya umpamanya seorang jurnalis
yang amat dikenal di sekitar Bayah ketika itu, tak lebih dan tak kurang dari
Bang Bejat, alias Anwar Tjokroaminoto dan saudaranya. Resan minyak ke minyak,
resan air ke air, kata pepatah.
Demikianlah pengarang ini yang pada masa Jepang
itu memperkenalkan dirinya dengan nama ILJAS HUSSEIN, dengan jalan memutar
sampai juga ke golongan yang dicari yang mulai mengambil bagian besar dalam
pergerakan kemerdekaan Indonesia,
pada tanggal 17 Agustus 1945, ialah golongan pemuda. Pekerjaan revolusioner di
samping pemuda itu sampai sekarang terus berlaku, yakni Persatuan Perjuangan
yang sudah mulai menulis sejarah. Atas permintaan pemuda pulalah Madilog
sekarang akan disebarkan di antara mereka yang rasanya sanggup menerimanya.
Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di
bawah sayapnya pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di
atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi ke Bayah Banten, ikut pergi
mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala
memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut
pula ditangkap di Surabaya
bersama pengarangnya, berhubung dengan gara-gara Tan Malaka palsu………………bahkan
hampir saja Madilog hilang.
Baru 3 tahun sesudah lahirnya itu, Madilog
sekarang memperkenalkan dirinya kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka
yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati lapang dan seksama serta
akhirnya berkemauan keras buat memahamkannya.
TAN MALAKA
Lembah Bengawan Solo, 15 Maret 1946.
MADILOG
Tan Malaka (1943)
PENDAHULUAN
IKLIM
Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu
saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh
dari tahta pemerintahan Indonesia
itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang
bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis,
bulan Radjab 30, 1362.
Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia
sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari
tenggelamnya berabad-abad itu.
11 Juli 1942 petang, saya sampai di Jakarta. Saya
meninggalkan Telokbetong pada 7 Juli. Rupanya sama dengan tanggal Ir Sukarno
meninggalkan Palembang.
Tetapi ada perbedaan. Kapal yang saya tumpangi cuma perahu layar tak lebih dari
4 ton, tua dan bocor walaupun namanya merdu bunyinya "Sri Renyet’’. Perahu
layar ini sama sekali menjadi permainan angin saja. Kalau angin dari belakang
majulah dia. Kalau dari muka berlabuhlah dia, walaupun dekat karang, kalau dia
tak mau dibalikkan kembali atau ditenggelamkan. Kapal Ir. Sukarno kabarnya
ditarik oleh kapal motor Jepang. Sebab itu walaupun sama waktu berjalan dan
saya dua kali lebih dekat dari Ir. Sukarno ke tempat yang dituju, saya dua kali
selama dia di jalan baru sampai.
Ada
lagi perbedaan. Walaupun pembuangan saya dua kali pula selama pembuangan Ir.
Sukarno yang 10 tahun itu dan saya sebetulnya bukan dikembalikan dengan resmi,
melainkan kembali sendiri saya belum boleh bekerja dengan terbuka. Sedangkan
Ir. Sukarno sudah "diberi’’ izin buat membikin "propaganda’’. Dalam
"Sinar Matahari’’ diterbitkan oleh Kepala Bagian Umum dari barisan propaganda
Dai Nippon Palembang dalam No. 49, Kayobi atau Selasa, 23-6-2602, dalam artikel
"Di Barisan Depan’’ tuan Sukarno menganjurkan pada Rakyat Indonesia
bekerja bersama-sama sekuat-kuat tenaga dengan Dai Nippon. Sebab, hanya dengan
bekerja bersama-sama dengan Nippon, kita akan
dapat mencapai cita-cita kita Indonesia Raya dalam lingkungan Asia Raya’’.
Senin 13 Juli (jangan takut sama angka 13), Ir. Sukarno berjabatan tangan
dengan Drs. Muhammad Hatta pemimpin Nasionalis Indonesia yang setingkat
tingginya dengan Ir. Sukarno sama-sama cerdik pandai, terpelajar, berani, tahan
dan rela menderita kesukaran hidup, yakni sampai Jepang masuk.
Disamping gambar tertulis : “Ir. Sukarno dan Drs.
Muhammad Hatta berjabatan tangan sebagai pengakuan bekerja bersama-sama guna
masyarakat.”
Dengan hampa tangan saya cari tulisan kedua
pemimpin tadi yang bersangkutan dengan persoalan. 1. bagaimana tata negara Asia
Raya, 2. Bagaimana kedudukan Indonesia Raya dalam Asia Raya cetakan
militer Jepang itu, 3. Bagaimana tata negara Indonesia Merdeka sendiri, 4,
5…………ad.infinitum, yakni tidak berhenti seterusnya …………Kesimpulan: kedua
pemimpin nasionalis sudah mulai menjalankan cita-citanya, ialah di bawah ujung
pedang Samurai.
Akhirnya perbedaan yang ketiga. Sedangkan kedua
pemimpin tersebut disambut dengan kegirangan oleh pengikutnya secara resmi,
seperti "bever’’ (berang-berang – catatan editor) yang terkenal tinggal di
lubang yang dibikinnya di bawah air itu, saya masuk mesti memakai segala
anggota keawasan, yang memang sudah terlatih dalam pelarian yang lebih dari 20
tahun lamanya. Apabila kelak sudah pasti bahwa golongan (klas) yang saya
pertahankan selama ini boleh menjalankan haknya, maka barulah kelak saya akan
meninggalkan "sarang’’.
Tetapi sarang sekarang memang lebih baik
tempatnya dari yang sudah-sudah. Letaknya tidak lagi di Tiongkok atau di tepi
tapal batas Jajahan Belanda, walaupun di Indonesia juga seperti 4 tahun yang
lalu, tetapi di tengah-tengah Rakyat dan kaum yang sebentuk badan dan mukanya
dengan saya dan yang lekas saya bisa mengerti perkataan dan tingkah lakunya.
Tetangga saya tiada lagi cerewet mencampuri, siapa saya, dan dari mana saya
datang sebab bentuk badan, muka dan bahasa semuanya sama………..
Dari sini saya bisa mempelajari sikap dan
perbuatan tentara Jepang, serta sikap dan perbuatan pemimpin Indonesia Raya
dalam lingkungan Asia raya. Tetapi saya tiada
boleh mengharapkan lebih dari mempelajarinya saja.
Saya kenal Rakyat Jelata Jepang di masa damai.
Mereka tahu membedakan yang buruk dengan yang baik tentang hal yang datang dari
barat. Mereka bersifat berani dan berlaku ramah tamah terhadap bangsa lain.
Tetapi tentara Jepang yang sekarang mengawasi musuh dengan pedang terhunus, dan
sering hilang kesabaran terhadap kaum pekerja bangsa Indonesia, tiadalah satu organisasi
yang patut diajak berembuk tentang politik yang berdasarkan ke-proletar-an.
Ketua Kota Jakarta (H. Dachlan Abdullah) ini
duduk sebangku dengan saya, ketika belajar di Indonesia
dan sering sekamar tidur dan makan di Indonesia dan Eropa. Drs Mohammad
Hatta bukan asing buat saya. Saya belum bertemu muka dengan Ir. Sukarno. Tetapi
perkataan simpati terhadap saya dulu banyak saya baca. Ketiganya mereka ada
disini, dekat dan kalau saya menemui mereka, saya bisa ambil kembali uang saya
yang dulu tersimpan dalam Bank Belanda (Javasche Bank) sebelum pergi keluar
negeri. Saya bisa longgarkan kehidupan saya, dijumpai keluarga saya yang masih
hidup dan cari kuburan ibu dan bapa yang keduanya meninggal di waktu saya
bertualang. Tetapi tentu susah, mungkin mustahil buat saya melalui pagar Besi
Dai Nippon berkeliling rumah mereka. Seandainya bisa, tentulah "sarang’’
saya tak akan aman lagi …………..
Begitulah iklim, suasana politik ketika saya
mulai melahirkan "Madilog’’ di atas kertas. Saya berada di tengah-tengah
rakyat Jelata Indonesia,
dekat keluarga dan para sahabat. Tetapi keadaan dan paham saya memaksa saya
tinggal sendiri di tengah-tengah masyarakat yang sering menyebut-nyebut nama,
tetapi tak mengenal rupa saya.
Terbitlah mulanya pertanyaan dalam diri saya;
buku manakah yang pertama mesti ditulis yang paling cocok dengan keadaan diri
dan luar diri saya.
Ada
tiga buku yang sudah bertahun-tahun saya kandung dalam fikiran, tetapi belum
bisa dilahirkan.
- Undang kaum Proletar berpikir, yang sekarang saya namai Madilog.
- Federasi Aslia ialah potongan dari Asia-Australia, yakni Federasi dari segala Negara pada jembatan antara Asia dan Australia dengan kepalanya di Asia dan Australia.
- Beberapa pengalaman saya yang boleh menjadi pengetahuan dan nasehat buat mereka yang suka menerima.
Dalam keadaan biasa, ketiganya boleh dicetak pada
satu waktu, yaitu berdikit-dikit. Karena memang isinya sudang dikandung, Cuma
belum diatur sebab waktu dan tempat selamanya ini tak mengijinkan buat
melahirkan.
Dalam hal menghasilkan buah fikiran, kita juga
berjumpa dengan soal-soal seperti yang dijumpai kalau orang menghasilkan barang
dagangan. Orang tidak saja mesti memikirkan perkara belanja (ongkos) buat
menghasilkan, tetapi juga perkara permintaan orang ramai (demand). Ongkos boleh
saya cari. Di Tiongkok saya mempunyai pencaharian sendiri. Ketika kapal terbang
Jepang sampai di Amoy penghabisan bulan Agustus 1937, saya mesti tinggalkan
"School of Foreign Languages’’ yang saya dirikan sendiri, yang pesat
majunya itu. Saya mesti pindah ke Selatan, terutama sebab semua murid saya lari
dan penduduk Amoy cerai-berai.
Di Singapura dalam masyarakat Tionghoa dengan
nama dan pasport Tionghoa (sudah tentu di luar pengetahuan Inggris yang asik
mencium jejak saya), saya beruntung bisa memanjat dari sekolah rendah sampai
kepala sekolah menengah tinggi yang tertinggi di Asia Selatan, yaitu Nanyang
Chinese Normal School (NCNS). Disini saya menyamar sebagai Tan Ho Seng jadi
guru bahasa Inggris, sampai sekolahnya ditutup ketika Jepang masuk. Jadi kalau
perkara ongkos saja saya dapat mencetak buku-buku yang perlu. Pendapatan (uang)
saya sebagai guru inggris siang dan malam lebih dari cukup buat diri sendiri.
Tetapi perkara pembagian ada lain hal. Ini rapat
bergantung pada kekuatan di luar diri saya.
Walaupun dari tahun 1925-1935 otak saya
seolah-olah lumpuh, karena kesehatan sangat terganggu, tetapi karena permintaan
ramai ada keras, saya, dalam kesehatan dan keamanan hidup amat terganggu dan
terpaksa saja lari kesana-sini, bisa juga mencetakkan "Naar de Republiek
Indonesia’’, "Massa Aksi’’ dan "Semangat Muda’’. Semuanya perlu
buat nasehat para pergerakan di Indonesia.
Sukarnya perhubungan dan jauh tempat saya, maka
sedikit sekali buku-buku itu sampai di tangan yang mempertanggung jawabkan di Indonesia.
Barangkali 99 % dari semua buku tersebut masih cerai berai atau lapuk di luar Indonesia.
Tetapi di mana sampai, hasilnya ada juga menyenangkan.
Demikianlah sesudah saya sendiri ditangkap di
Hongkong pada penghabisan tahun 1932 – inilah yang ke-3 kali – dan semua teman
seperjuangan ditangkap di Singapura dan di-Digulkan (diasingkan – catatat
editor) maka perhubungan saya dengan sahabat dan teman seperjuangan di semua
tempat sama sekali terputus. Beberapa kali saya coba mengadakan perhubungan
dengan Rakyat Indonesia
dari Singapura, tetapi semuanya itu gagal. Di Singapura dari tahun 1937 sampai
1942 saya saksikan dan sedihi bagaimana besarnya kesukaran yang dihadapai oleh
Rakyat dan proletar dalam hal mendirikan susunan politik, terlebih-lebih pula
dalam hal mengatur susunan tersembunyi. Jauh terbelakangnya Indonesia dalam
hal mengatur susunan tersembunyi dari Tiongkok umpamanya.
Saya percaya permintaan kepada buku-buku ada
cukup keras serta nafsu dan keberanian buat mencari atau membagikan buku-buku
terlarang cukup besar, tetapi Rakyat Indonesia belum lagi sanggup
mengatasi tamparan reaksi Belanda. Percumalah kalau buku itu dicetak, walaupun
semua alat pencetak dan ongkos bisa didapat. Berhubung dengan itu terpaksalah
saya mengundurkan maksud saya, bertahun-tahun sampai sekarang.
Banyak Proletar mesin (baca buruh industri –
catatan editor) dan tanah (baca buruh pertanian – catatan editor) di Indonesia dan
kekuatannya yang tersembunyi memang sudah cukup kuat buat merebut kekuasaan
dari imperialisme Belanda. Tetapi didikannya masih sangat tipis dan tiada cocok
dengan keperluan dan kewajiban klasnya di hari depan. Mereka kekurangan
pandangan dunia (Weltanschauung). Kekurangan Filsafat. Mereka masih tebal
diselimuti ilmu buat akhirat dan tahyul campur aduk. Mereka tiada sadar akan
kekuasaan klasnya. Belum insyaf sendiri, bahwa tak dengan pertolongan proletar
mesin, semuanya percobaan buat merebut dan membentuk Indonesia merdeka adalah perbuatan
sia-sia belaka. Dua puluh tahun dulu saya sudah yakin akan kekuatan kaum
proletar yang tersembunyi itu. Kini tiada kurang malah lebih yakin dari itu.
Filsafat kaum proletar memang sudah ada, yaitu di
barat. Tetapi dengan menyalin semua buku dialektis-materialisme dan
menyorongkan buku-buku itu pada proletar Indonesia kita tiada akan dapat
hasil yang menyenangkan. Saya pikir otak proletar mesin Indoensia tak bisa
mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Indonesia dalam
hal iklim, sejarah, keadaan jiwa dan idamannya.
Proletar Indonesia mesti setidaknya dalam
permulaan ini, mempunyai pembacaan yang berhubungan dengan pahamnya sekarang,
pembacaan yang kelak bisa menjadi jembatan kepada filsafatnya
Proletar Barat.
Saya percaya ada otak di Indonesia
sekarang yang lebih terlatih dari saya dan pena yang lebih tajam dari pena yang
berkarat, karena tiada dipakai lebih dari 10 tahun belakangan ini. Akhirnya ada
ahli bahasa Indonesia yang bisa lebih tangkas merebut jiwa dan semangat Indonesia dari
bahasa saya yang terpendam di luar negeri dalam lebih dari setengah umur saya.
Tetapi karena otak, pena dan bahasa semacam itu
saya belum lihat keluarnya, maka terpaksalah saya mempelopori. Tentulah saya
berharap akan hati lapang dan sikap menolong memperbaiki dari pihak umum, kalau
berjumpa dengan kesalahan.
PERPUSTAKAAN
Kita masih ingat berapa sindiran dihadapkan pada
almarhum Leon Trotsky, karena ia membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan
yang pertama di Alma Ata. Saya masih belum lupa akan beberapa tulisan yang
berhubungan dengan peti-peti buku yang mengiringi Drs. Mohammad Hatta ke tempat
pembuangannya. Sesungguhnya saya maklumi sikap kedua pemimpin tersebut dan
sebetulnya saya banyak menyesal karena tiada bisa berbuat begitu dan selalu
gagal kalau mencoba berbuat begitu.
Bagi seseroang yang hidup dalam pikiran yang
mesti disebarkan, baik dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang
cukup. Seorang tukang tak akan bisa membikin gedung, kalau alatnya seperti
semen, batu tembok dan lain-lain tidak ada. Seorang pengarang atau ahli pidato,
perlu akan catatan dari buku musuh, kawan ataupun guru. Catatan yang sempurna
dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut permufakatan dan
kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik, perang-pena,
baik dalam propaganda, maka catatan itu adalah barang yang tiada bisa ketinggalan,
seperti semen dan batu tembok buat membikin gedung. Selainnya dari pada buat
dipakai sebagai barang bahan ini, buku-buku yang berarti tentulah besar
faedahnya buat pengetahuan dalam arti umumnya.
Ketka saya menjalankan pembuangan yang pertama,
yaitu dari Indonesia, pada 22 Maret 1922, saya cukup diiringi oleh buku,
walaupun tiada lebih dari satu peti besar. Disini ada buku-buku agama, Qur’an
dan Kitab Suci Kristen, Budhisme, Confusianisme, Darwinisme, perkara ekonomi
yang berdasar liberal, sosialistis, atau komunistis, perkara politik juga dari
liberalisme sampai ke komunisme, buku-buku riwayat Dunia dan buku sekolah dari
ilmu berhitung sampai ilmu mendidik. Pustaka yang begitu lama jadi kawan dan
pendidik terpaksa saya tinggalkan di Nederland
karena ketika saya pergi ke Moskow saya mesti melalui Polandia yang bermusuhan
dengan Komunisme. Dari beberapa catatan nama buku di atas, orang bisa tahu
kemana condongnya pikiran saya.
Di Moskow saya cocokkan pengetahuan saya tentang
komunisme. Dalam waktu 8 bulan disini saya sedikit sekali membaca, tetapi
banyak mempelajari pelaksanaan komunisme dalam semua hal dengan memperhatikan
segala perbuatan pemerintah komunis Rusia baik politik ataupun ekonomi, didikan
ataupun kebudayaan dan dengan percakapan serta pergaulan dengan bermacam-macam
golongan. Disini saya juga banyak menulis perkara Indonesia buat laporan Komintern.
Ketika saya meninggalkan Rusia, memang saya tiada membawa buku apapun, sedang
buku peringatanpun tidak. Pemeriksaan di batas meninggalkan Rusia keras sekali.
Tetapi sampai di Tiongkok dan kemudian di
Indonesia, saya dengan giat mengumpulkan buku-buku yang berhubung dengan
ekonomi, politik, sejarah, ilmu pengetahuan, science (sajans), buku-buku baru
yang berdasar sosialisme dan komunisme. Mengunjungi toko buku adalah pekerjaan
yang tetap dan dengan giat saya jalankan. Nafsu membeli buku baru, lebih-lebih
yang berhubungan dengan ekonomi Asia, membikin
kantong saya seperti boneka yang tiada berdaya apa-apa. Tetapi tiada banyak
bahagia yang saya peroleh. Sebab kelumpuhan otak seperti saya sebutkan di atas,
maka tak lebih dari satu jam sehari saya bisa membaca buku bertimbun-timbun
itu. Saya terpaksa menunggu sampai kesehatan membenarkan, tetapi rupanya
pustaka tak bisa mengawani saya.
Pada perang Jepang – Tiongkok di Shanghai
penghabisan tahun 1937, tiga hari lamanya saya terkepung di belakang jalan
bernama "North Su Chuan Road’’, tepat di tempat peperangan pertama
meletus. Dari North Su Chuan Road
tadi Jepang menembak kearah Pao
Shan Road dan tentara Tiongkok dari sebaliknya. Di
antaranya di kampung Wang Pan Cho saya dengan pustaka saya terpaku. Sesudah dua
atau tiga hari tentara Jepang memberi izin kepada kampung tempat saya tinggal
berpindah rumah, pergi ke tempat yang lebih aman dalam waktu 5 menit saja. Saya
turut pindah tergopoh-gopoh. Tentulah pustaka saya mesti tinggal. Ketika saya
kunjungi rumah saya sesudah habis perang yakni sesudah sebulan lamanya, maka
sehelai kertaspun tak ada yang tinggal. Begitulah rapinya "lalilong’’
alias tukang copet bekerja. Hal ini tidak membikin saya putus asa. Selama toko
buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang
perlu, pakaian dan makanan dikurangi.
Sampai saya ditangkap di Hongkong pada
10-10-1932, saya sudah punya satu peti pula. Sesudah dua bulan di dalam
penjara, saya dilepaskan buat dipermainkan seperti kucing mempermainkan
tikus. Maka dekat Amoy, saya bisa melepaskan
diri. Tetapi dengan melepaskan pustaka saya sendiri. Pustaka saya, tanpa saya,
berlayar menuju ke Foechow. Saya terlepas dari bahaya, tetapi juga terlepas
dari pustaka. Saya berhasil menyamar masuk ke Amoy
dan terus ke daerah dalam Hok Kian tiga-empat-tahun lamanya, terputus dengan
dunia luar sama sekali, beristirahat, berobat sampai sembuh sama sekali.
Pustaka baru yang saya kumpulkan di Amoy dari
tahun 1936 sampai 1937, juga sekarang, juga sekarang terpendam disana, ketika
tentara Jepang masuk pada tahun 1937. Malah dua tiga buku-buku peringatan yang
penting sekali yang bahannya diperoleh dengan mata sendiri, ialah: catatan
penting, buat buku-buku yang sekarang saya mau tulis, mesti saya lemparkan ke
laut dekat Merqui, sebelum sampai di Ranggoon.
Putusan bercerai dengan dua buku catatan itu
diambil dengan duka cita sekali. Tetapi putusan itu belakangan ternyata benar.
Duanne Ranggoon memeriksa buku-buku saya yang masih ada dalam peti seperti
"English Dictionary’’ dengan teliti sekali, malah kulitnya diselidiki
betul-betul. Kantongpun tak aman. Di antara Merqui dan Ranggoon di pantai laut,
disanalah terletak beberapa buku peringatan cukup dengan rancangan, catatan dan
suggesti atau nasehat buat pekerjaan sekarang.
Dalam permulaan 3 tahun di Singapura saya amat
miskin sekali. Gaji yang diperoleh sedikit sekali - enam setengah
rupiah sebulan. Dengan tak ada diploma-Singapura, tak lahir di Singapura,
memakai pasport Tiongkok, walaupun bisa bercakap Tionghoa, tetapi tiada bisa
membaca huruf Tionghoa susah mendapat kerja yang berhasil besar pada perusahaan
Tionghoa. Susah pula mendapat izin mengajar bahasa Inggris dari tuan Inspektur,
sedangkan masyarakat Indonesia
tak berarti sama sekali di bekas kota
"Tumasek’’ (nama Singapura sekarang di Jaman Majapahit) Ini uang buat
makan secukupnya saja, pakaian jangan disebut lagi. Masuk jadi anggota pustaka
(Library) tiada mampu. Disini pengetahuan saya walaupun kesehatan sempurna
kembali, cuma bisa ditambah dengan isi surat
kabar, dan pengamatan mata dan telinga sendiri. Tetapi lama kelamaan atas usaha
sendiri saya mendapatkan pekerjaan dan hasil pekerjaan yang baik sekali.
Seperti saya sebut diatas, akhirnya saya dapat
bekerja pada sekolah Normal Tinggi (Nanyang Chinese Normal School) sebagai guru
Inggris dan belakangan juga sebagai guru Matematika dalam dan luar sekolah
tersebut. Saya mulai kumpulkan catatan buat buku-buku yang mau saya tulis
sekarang. Rafles Library memberi kesempatan dan minat yang besar. Buku yang
paling belakang saya pinjam ialah Capital, Karl Marx. Tetapi armada udara
Jepang tak berhenti datangnya hari-hari. Sebentar-sebentar saya mesti lari
sembunyi. Cuma dalam lubang perlindungan saya bisa baca Capital, buat
mengumpulkan bahan yang sebenarnya saya ulangi membacanya. Sampai 15 Febuari
1942 saya masih pegang Capital itu dengan beberapa catatan. Tetapi sesudah
Singapura menyerah, semua penduduk laki-perempuan, tua-muda dihalaukan dengan
pedang terhunus kiri-kanan, dengan ancaman tak putus-putusnya menuju ke satu
lapangan. Disini ratusan penduduk Tionghoa ditahan satu hari buat diperiksa.
Disini saya juga turut menghadapi senapan mesin. Di belakang hari kami
mendengar bahwa maksud tentara jepang yang bermula ialah memusnahkan semua
penduduk Tionghoa yang ada di Singapura. Tetapi dibatalkan oleh pihak Jepang
yang masih mempunyai pikiran sehat dan rasa tanggung jawab terhadap dunia
lainnya.
Sebelum kami dikirim ke padang tersebut, saya sudah maklum bahwa tak
ada pelosok rumah atau halaman rumah yang mesti kami tinggalkan selama
pemeriksaan diri dijalankan, yang kelak akan dilupakan oleh Kempei Jepang.
Sepeninggalan kami rumah tempat saya tinggal diperiksa habis-habisan. Barang
berharga habis di copet.
Sebelum meninggalkan rumah menuju ke lapangan
pemeriksaan saya beruntung mendapat kesempatan menyembunyikan buku Capital ke
dalam air. Di "upper Seranggoon Road’’ di muka rumah tuan Tan Kin Tjan,
disanalah sekarang di dalam tebat (empang) bersemayam buku Capital terjemahan
"Das Kapital’’ ke bahasa Inggris, pinjaman saya, Tan Ho Seng, dari Raffles
Library di Singapura.
Sesudah dua atau tiga minggu Singapura menyerah,
saya coba dengan perahu menyebrang ke Sumatra,
tetapi gagal karena angin sakal. Saya terpaksa mengambil jalan Penang-Medan.
Hampir dua bulan saya di jalan antara Singapura dengan Jakarta, melalui
semenanjung Malaka, Penang, selat Malaka (perahu layar) Medan, Padang, Lampung,
selat Sunda (perahu) dan Jakarta. Di jalan saya bisa beli buku karangan Indonesia. Di
antaranya Sejarah Indonesia,
yang mesti saya sembunyikan pula baik-baik, sebab dalamnya ada potret saya
sendiri.
Inilah pustaka saya dulu dan sekarang. Ada niatan buat membeli
sekarang, tetapi banyak keberatan. Pertama uang, kemudian banyak buku mesti
datang dari luar negeri, dan ketiga dari pada dicatat dari satu atau dua buku
lebih baik jangan dicatat atau catat dari luar buku ialah ingatan sama sekali,
seperti maksud saya tentang Madilog ini. Biasanya buku-buku reference yang
dipetik, atau pustaka itu ditulis di bawah pendahuluan. Biasanya diberi daftar
pustaka yang dibaca oleh pengarang. Tetapi dalam hal saya, dimana perpustakaan
tak bisa dibawa, saya minta maaf untuk menulis pasal terkhusus tentang
perpustakaan itu.
Dengan ini saya mau singkirkan semua persangkaan
bahwa buku Madilog ini semata-mata terbit dari otak saya sendiri. Sudah tentu
seorang pengarang atau penulis manapun juga dan berapapun juga adalah murid
dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lain.
Sedikitnya ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh musuhnya
sendiri.
Ada
lagi! Walaupun saya tidak akan dan tidak bisa mencatat dengan persis dan cukup,
perkataan, kalimat, halaman dan nama bukunya, pikiran orang lain yang akan
dikemukakan, saya pikir tiada jauh berbeda maknanya dari pada yang akan saya
kemukakan.
Al Gazali pemikir dan pembentuk Islam, kalau saya
tiada keliru pada satu ketika kena samun. Penyamun juga rampas semua bukunya.
Sesudah itu Al Gazali memasukan semua isi bukunya ke dalam otaknya dengan
mengapalkannya. Bahagia (gunanya) mengapal itu buat Al Gazali, sekarang sudah
terang sekali kepada kita.
Pada masa kecil memang saya juga mengapal, tetapi
bukan dalam bahasa ibu, melainkan dalam bahasa Arab dan Belanda. Tetapi ketika
sudah sedikit berakal, saya sesali dan saya bantah kebisaan saya itu. Pada
ketika itu saya sadar, bahwa kebiasaan mengapal itu tiada menambah kecerdasan,
malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin. Yang saya ingat bukan lagi
arti sesuatu kalimat, melainkan bunyinya atau halaman buku, dimana kalimat tadi
tertulis. Pula
kalau pelajaran itu terlalu banyak, sudahlah tentu tak bisa diapalkan lagi.
Tetapi saya juga mengerti gunanya pengetahuan yang selalu ada dalam otak.
Begitulah saya ambil jalan tengah: padu yang baik dari kedua pihak.
Apalkan, ya, apalkan, tetapi perkara barang yang
sudah saya mengerti betul, saya apalkan kependekan "intinya’’ saja. Pada
masa itulah di sekolah Raja Bukit Tinggi, saya sudah lama membikin dan menyimpan
dalam otak, perkataan yang tidak berarti buat orang lain, tetapi penuh dengan
pengetahuan buat saya.
Buat keringkasaan uraian ini, maka perkataan yang
bukan perkataan ini, saya namakan "jembatan kedelai’’ (ezelbruggece)
walaupun tidak sama dengan ezelbruggece yang terkenal. Buat menjawab pertanyaan
siapa yang akan menang di antara dua negara umpamanya, saya pakai jembatan
keledai saya : "AFIAGUMMI’’.
A huruf yang pertama mengandung perkataan
Inggris, ialah (A)rmament. Artinya ini kekuatan udara kekuatan darat, dan laut.
Masing-masing tentu mempunyai cerita sendiri dan A huruf pertama itu bisa
membawa "jembatan keledai’’ yang lain seperti ALS, ialah susunan huruf
pada perkataan (A)ir (udara), (L)and (darat) dan (S)ea (laut) forces (tentara).
Sesudah dibandingkan perkara Armament diantara kedua negeri itu, maka harus
diuji perkara yang kedua, yakni Finance, terpotong oleh huruf "F’’.
keuangan dsb.
Demikianlah "jembatan keledai’’ AFIAGUMMI
ini saja boleh jadi meminta seperempat atau setengah brosure kalau dituliskan.
Dalam ekonomi, politik, muslihat perang, science dan sebagainya saya ada
menyimpan "jembatan keledai. Kalau buku penting yang saya baca ada dalam
bahasa Inggris, maka "jembatan keledai’’ saya, susunannya tentu dari
permulaan atau sebagian perkataan inggris.
Kalau tidak beratus, niscaya berpuluh ada
"jembatan keledai’’ di dalam kepala saya. "ONIFMAABYCI AIUDGALOG’’
yang berbunyi bahasa Sanskreta, bukanlah bahasa Sanskreta atau bahasa Hindu,
melainkan teori ekonomi yang bertentangan dengan teori ekonomi Mahatma Gandhi.
Kalau badan saya ada sehat, maka perkataan guru
itu biasanya mudah saya tangkap. Isinya saya ternakkan dan masukkan ke dalam
"jembatan keledai’’. Kalau kertas atau buku peringatan saya umpamanya
dibeslah (disita – catatan editor) di Manila atau Hongkong oleh polisi, maka
hal itu tiada berarti dia tahu membaca perkataan itu, malah sudah pernah
menjadikan mereka pusing kepala berhari-hari, mengira yang tidak-tidak.
Dalam buku yang akan ditulis di belakang hari
(kalau umur panjang!) saya kelak bisa meneruskan cerita "jembatan
keledai’’ saya ini. Saya angap "jembatan keledai’’ itu penting sekali buat
pelajar di sekolah dan paling penting buat seseorang pemberontak
pelarian-pelarian. Bukankah seseorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya,
seringan-ringannya? Ia tak boleh diberatkan oleh benda yang lahir, seperti buku
ataupun pakaian. Hatinya terutama tak boleh diikat oleh anak isteri, keluarga
serta handai tolan. Dia haruslah bersikap dan bertindak sebagai "marsuse’’
(angkatan militer siap gempur – catatan editor) yang setiap detik siap sedia
buat berangkat, meninggalkan apa yang bisa mengikat dirinya lahir dan batin.
Ringkasnya walaupun saya tiada berpustaka,
walaupun buku-buku saya terlantar cerai-berai dan lapuk atau hilang di Eropa,
Tiongkok, Lautan Hindia atau dalam tebat di muka rumah tuan Tan King Cang di
Upper Seranggoon Road, Singapura, bukanlah artinya itu saya kehilangan
"isinya’’ buku-buku yang berarti.
Tetapi barang yang lama itu tentu boleh jadi
rusak. Catatan atau makna yang saya kemukakan dari pikiran orang lain boleh
jadi tiada cukup atau bertukar arti. Dalam hal ini sekali lagi saya minta maaf
dan simpati.
INGATAN
Kitab ini adalah bentuk dari paham yang sudah
bertahun-tahun tersimpan di dalam pikiran saya, dalam kehidupan yang bergelora.
Disinilah dikerangkakan arti dan daerahnya materialisme, arti
dan daerahnya dialektika, serta arti dan daerahnya Logika.
Selain dari pada itu, akan dijelaskan pula seluk-beluk dan kena-mengenanya
materialisme, dialektika dan logika, satu sama lainnya.
Baikpun materialisme ataupun dialektika, bahkan
juga logika, masing-masing mempunyai lapangan dan tafsiran berjenis-jenis.
Materialisme itu bisa ditafsirkan dengan cara yang mekanis secara mesin mati
atau kematian mesin. Malah kaum mistika, kaum gaibpun bisa mempergunakan
materialisme itu, buat memperlihatkan keulungan-sulapnya atau
sulap-keulungannya.
Dialektika yang berdasarkan pikiran dan kegaiban,
yang pada Hegelisme melambung sampai ke puncak, masih terus menerus dipakai
sebagai perkakas buat meluhurkan rohani dan merohanikan keluhuran. Pemikir
borjuis dan pemikir feodal bergantung pada dialektika mistika itu seperti
seekor semut hanyut bergantung pada sepotong rumput yang diayun-ayunkan
gelombang.
Logika memuncak pada ilmu bukti (Science) zaman
sekarang dengan berjenis-jenis cabangnya ilmu itu. Hasilnya berjenis-jenis ilmu
itu meulungkan dan menunggalkan kemanjurannya logika sebagai cara berpikir.
Dengan begitu logika menyilaukan mata para pemakai penonton logika itu serta
melupakan batas dan kelemahannya logika itu.
Sebaliknya pula beberapa kitab yang berdasarkan
materialisme dialektika di Eropa dalam keadaan menantang logika itu, lupa akan
atau sedikit sekali memperhatikan kepentingan logika itu. Buat Timur umumnya
dan Indonesia khususnya, yang sampai pada saat saya menulis kitab ini, masih
gelap gulita, diselimuti macam-macam ilmu kegaiban, maka logika itu masih
barang baru, hangat perlu diketahui dan dipahamkan bersama-sama dengan
dialektika dan materialisme.
Tetapi jangan pula kita sesat karena me-ulung
logika dan menunggalkan logika itu dengan tidak mengenal batas dan
kelemahannya. Dalam kita ini logika dibentuk di dalam iklim dialektik!
keduanya, logika dan dialektika bergantung pada materialisme. Sebaliknya pula
materialisme ini bersangkut paut dengan logika dan dialektika, seperti: materi,
benda itu mempunyai sifat bergerak dan berhenti, takluk pada hukumnya gerakan,
yakni dialektika, serta hukum berhenti, yakni logika.
Sampai lebih dari pertengahan kitab ini, sampai
kira-kira ke ujung bahagian logika, satu bukupun, buat reference – catatan -
tiada dipakai, karena memang tidak ada. Semua catatan dipetik dari ingatan
semata-mata. Di belakangnya saya mendapatkan bermacam-macam buku yang perlu
buat dipetik, dari peringatan tadi, bukunya tiada terdapat di seluruh Jakarta. Bermula saya
sandarkan seluruh isi kitab ini pada ingatan jembatan keledai semata-mata,
karena memang saya tiada berjumpa dengan buku yang berkenaan. Tetapi sesudah
lebih dari seperdua buku ditulis, saya mendapatkan bahan tulisan yang bisa
diperiksa benar tidaknya sewaktu-waktu, yang bisa dipanjangkan atau dipendekkan
menurut pilihan.
Dengan berlainnya keadaan memilih dan menguji
bahan itu sudahlah tentu isi seluruh buku bukan sifatnya, melainkan bentuknya
saja tidaklah lagi seimbang, harmonis dan tiada lagi sesuara. Walaupun saya mau
merubah, saya tiada berdaya, karena bermacam-macam buku buat bahan dari
bahagian pertama itu, memang tiada bisa didapatkan. Saya mesti menunggu sampai
perang selesai, baru bisa didapatkan beberapa buku itu …….yaitu kalau ada bahan
penting pula fulus.
Tetapi kalau Madilog masih kekurangan bentuk,
saya pikir dia tidak kekurangan sifat.
MENINJAU KE MUKA
Baru saya sampai di Jakarta, masuki sebuah toko buku Belanda
salah satu toko buku yang terbesar di Asia Timur ini. Saya mau beli sebuah buku
tentang logika. Di kota
besar mana saja di Asia Timur ini. Di Shanghai atau Manila, Hongkong atau Singapura, gampang
sekali kita dapatkan buku semacam itu. Di toko buku tuapun tak perlu lama kita
mencari buku logika karangan Jevons atau Mill (Inggris) atau pun Jones
(Amerika) dsb-nya. Di Jerman, lebih-lebih rusia, mudah sekali mendapatkan buku
perkara dialektika.
Tetapi dalam toko buku Belanda di ibu kota "Hindia
Belanda’’ yang berpenduduk 70.000.000 jiwa itu, tak ada satupun buku (popular
atau tidak) perkara undang berpikir, logika. Apalagi dalam toko-toko yang lebih
kecil! Satu gambar dari semangatnya suatu negara yang hanya menghasilkan keju
dan bloembollen itu, tetapi terkaya di dunia. Saya percaya bahwa dalam sekolah
tinggi di Belanda dan di Indonesia
ada terkhusus atau tersambil diajarkan logika. Tetapi saya pikir saya tak jauh
dari kebenaran kalau berkata bahwa English speaking nations (bangsa-bangsa yang
berbicara bahasa Inggris terutama Amerika) lebih mementingkan didikan buat
rakyat murba, buat pemuda yang berotak, tetapi tak mampu, baik dengan jalan
Sekolah Tinggi Rakyat ataupun kursus dan buku popular. Salah satu sifat rakyat
Belanda yang terlihat pada saya adalah sifat demogogisch,
ialah sifat berkilah, sifat suka mempertentangkan perkara
kecil-kecil dengan melupakan pokok yang besar. Tiada heran kalau negara kecil
berpenduduk kira-kira seperdua puluh dari Amerika dan berkeluasan sepertiga
ratus tujuh puluh lima (1/375) dari Amerika mempunyai partai politik lima puluh
dua buah (menurut berita seorang jurnalis Inggeris yang berada di Holland
ketika diserang oleh Jerman (10-5-1940), jadi kira-kira 17 kali sebanyak partai
yang ikut dalam pemilihan di Amerika. Menurut ukuran Belanda, Amerika itu
mestinya mempunyai lebih kurang 1040 partai, baru ia bsia menyamai Belanda
dalam hal percekcokan perkara tetek benger. Logika, apalagi dialektika,
bukanlah ilmu yang dipopulerkan, dijadikan ilmu umum, dimana raja minyak
(Colyn) dan raja tembakau (Cremer) bersimaharajarela.
Sudah bertahun-tahun saya tak punya buku, tak ada
salahnya buat saya sekarang, sebelum menulis buku "Madilog’’ ini, sebentar
mengincarkan mata pada daftar, isi dan halaman buku-buku yang mengandung
dialektika dan logika. Tetapi sebab toko buku yang terbesar di Asia Timur dan
toko-toko buku nyamuk di Jakarta tak punya satupun buku perkara itu saya sama
sekali disesakkan kepada "Jembatan keledai’’ yang tersimpan dalam otak
saya. Sekali lagi maaf ! Tetapi perlu pula dicatat disini dalam bibliotheek
Bataviase Genootshap, sesudah hampir habis "Madilog’’ ditulis berjumpa
juga dengan beberapa buku tentang logika dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman
dan Perancis.
MADILOG, ialah paduan dari permulaan suku kata :
(MA)-TTER, (DI)-ALECTICA dan (LOG)-ICA "Mater’’ saya terjemahkan dengan
"benda’’,dialektika dengan pertentangan atau pergerakan dan logika dengan
undang berpikir. Paduan dalam bahasa Indonesia tiadalah begitu enak didengar
dan tiada pula membuka pikiran baru seperti "jembatan keledai’’ saya.
Sebab segala kata di atas sudah begitu umum dalam bahasa negara
besar-besar di Eropa, walaupun bahasa cangkokan dari bahasa Latin dan Yunani,
maka tiadalah perlu kita segan mencangkok kata itu ke dalam bahasa kita.
"Madilog’’ saya maksudkan terutama ialah
cara berpikir. Bukanlah suatu Waltanschauung, pemandangan dunia walaupun cara
berpikir dan pemandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan
rumah, yakni rapat sekali. Dari cara orang berpikir itu kita dapat duga
filsafatnya dan dari filsafatnya kita dapat tahu dengan cara dengan methode apa
dia sampai ke filsafat itu.
Murid yang cerdik juga insyaf, bahwa kalau dia
sudah tahu satu cara, satu undang, satu kunci buat menyelesaikan satu golongan
persoalan, maka tiadalah ia mengapal berpuluh-puluh persoalan atau jawabannya
puluhan atau ratusan persoalan itu, tetapi dia pegang cara atau kuncinya
persoalan tadi saja.
Kebanyakan persoalan bisa diselesaikan dengan logika, undang berpikir saja. Dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan makan minum, pulang pergi, jual beli dan 1001 perkara berhubung dengan pergaulan kita dengan sahabat, anak dan istri, tiadalah kita dipusingkan oleh dialektika.
Kebanyakan persoalan bisa diselesaikan dengan logika, undang berpikir saja. Dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan makan minum, pulang pergi, jual beli dan 1001 perkara berhubung dengan pergaulan kita dengan sahabat, anak dan istri, tiadalah kita dipusingkan oleh dialektika.
Kenyang tiadalah mengandung arti lapar, seperti
menurut dialektika. Kalau si anak menangis, si ibu memberikan air teteknya
dengan segera. Dia tiadalah pikirkan lebih dahulu bahwa pengertian menangis itu
mengandung pengertian tertawa, dan lapar itu ada terkandung pengertian kenyang.
Yang satu sama lainnya tiada boleh dipisahkan, seperti dalam cara berpikir yang
berdasarkan dialektika.
Dalam sekolah rendah atau menengahpun kita
berkali-kali bertarung pada cara berpikir yang berdasarkan logika. Hitungan
yang kita mesti jalankan, pengalaman, experimenten, dalam ilmu alam dan ilmu
pisah yang sang guru lakukan di depan kita, semuanya mengandung logika.
Walaupun dalam dialektika pada satu saat uap itu sama dengan air jadi tiada
berpisah melainkan berpadi, jadi air sama dengan uap tiadalah kita mengadakan
perhitungan atas dasar dialektika ini. Air tetap air buat kita dan mempunyai
sifat air, bukan uap yang mempunyai sifat uap pula.
Tetapi kalau kita mengaji lebih dalam, kalau kita
mengaji ada atau tak-adanya barang, mengaji seluk-beluk, asal dan akibatnya
sesuatu barang, tegasnya kalau kita tenggelam dalam ombak gelora filsafat, ke
dalam persoalan yang berhubungan dengan alam, masyarakat politik, yang hilang
atau timbul, bergerak dan berhenti, pada waktu yang singkat atau lama, pada
perkara yang berseluk-beluk, maka kita tiada bisa sampai ke ujung dengan
perkakas logika semata-mata. Kita mesti memakai dialektika. Malah dialektikalah
yang terutama.
Ahli filsafat yang jawa, ahli politik atau ahli
siasat yang cerdas ahli ekonomi yang sempurna, mesti memakai
senjata-pertentangan, seperti senjata dalam pepatah Indonesia: yang tajam balik
bertimbal, kalau tak ujung pangkal mengena. Ahli filsafat mesti selalu berjalan
di antara kedua kutub, utara dan selatan, ujung dan pangkal, ya dan tidak, ada
dan tak-ada. Sebentar dia bisa cemplungkan otaknya ke dalam ada, sebentar lagi
ke dalam tak ada, dan pada tempat masing-masing memakai logika, tetapi pada
pemandangan jauh mempunyai waktu lama, dia mesti pikirkan ada itu terletak di
kutub tak-ada, tak boleh bercerai satu sama lainnya.
Si-ekonomis dan ahli politik, sebentar boleh
memakai Logika, dalam menyelidiki beberapa perkara dalam golongan proletar atau
kapitalis, tetapi dalam filsafat masyarakat sekarang, masyarakat kapitalisme,
dia tidak boleh melupakan kedua kutub, kaum modal dikutub utara, kaum buruh di kutub
selatan. Satu sama lain bertentangan, tak boleh dipadu. Disini dialektika yang
merajalela.
Tetapi sebelum kita memilih cara berpikir mana
yang terutama kita pakai, dialektika-kah atau logika-kah, maka haruslah lebih
dahulu kita bertanya kepada diri sendiri, apakah persoalan itu berdasarkan
matter, benda ataukah idea, bayangan pikiran semata-mata, roh semata-mata.
Kalau persoalan itu berdasar atas benda, barang
yang nyata yang bisa diperiksa dengan panca indera anggota yang lima, boleh diperalamkan,
diexperimentkan, barulah persoalan itu kita taruh di bawah pemeriksaan kita.
Segala bukti yang nyata yang bisa diperalamkan itulah yang akan menjadi
premisses, menjadi lantainya undang atau paham yang kita cari itu.
Sebab itulah kita namakan Madilog karena berdasarkan
matter, benda. Dari penjuru matter inilah kita memandang. Inilah buat kita yang
jadi lantai, yang menjadi tingkat pertama dalam sesuatu penyelidikan. Boleh
jadi resultant atau hasil penyelidikan itu tiada mencukupi atau salah sama
sekali. Tetapi hal ini tidak disebabkan salahnya cara berfikir. Boleh jadi
kepala kita sedang pusing atau bukti belum semuanya terkumpul atau akhirnya
kita salah memakai cara tadi.
Sudah lazim kita dengar dialektika-materialisme
atau historisch-materialisme. Perkataan ini memang cukup tangkas dan selalu
dipakai dalam kalangan Marxisten tetapi nama ini lahir di dunia barat di antara
Marxisten di masa kebanyakan logika, buat menentang sikap yang terlampau banyak
mengutamakan logika. Kita yang lahir di dunia mistika, mistika Hindu pula,
mistika yang tak gampang dikikis, di cuci bersih, maka sebagai tongkat pertama
dalam dunia berpikir, perlulah kita sekadarnya memajukan logika. Di antara ahli
pikir borjuis barat ada yang menyanggah nama dialektika materialisme dan
memajukan kritis-materialisme, ialah logisch-materialisme, tetapi nama ini sama
sekali melenyapkan dialektika, jadi bertentangan dengan Madilog.
Walaupun dalam bagian badan kita, otak kita itu
adalah barang yang perlu dan penting, hati, jantung, usus, dsb juga penting,
tetapi kalau tak-bertulang belakang kita tak bisa berdiri. Klas tani itu
penting, klas saudagar di dunia sekarang berguna, klas intelek berguna-penting,
tetapi tak-ber-klas pekerja-mesin, Indonesia merdeka pasti tak akan
bisa berdiri dan kalau berdiri tak akan bisa teguh dan lama.
Beginilah paham saya sebelum dibuang keluar
Negara lebih dari 20 tahun yang lampau. Di bawah bendera Dai Nippon paham itu
tak bertambah lemah, malah sebaliknya bertambah kuat. Perjuangan nasionalis
setelah robohnya PKI (1927), yang dipimpin oleh kaum intelek sudah lebih dari
pada cukup memberi bukti yang nyata, bahwa perjuangan yang tiada berdasarkan
pekerja-murba tidak akan mendapat Indonesia Merdeka. Sikap keras terhadap para
pemimpin prajurit pekerja, jauh lebih kejam dari pada sikap yang diambilnya
terhadap para pemimpin nasionalis adalah sikap yang sangat jitu sekali
menggambarkan taksirannya imperialisme Belanda terhadap berbagai golongan
Masyarakat Indonesia
yang mengancam dirinya itu.
Paham saya tentang segala golongan di Indonesia,
sudah cukup saya terangkan dalam beberapa brosur, yang saya sebut diatas tadi.
PARI, yang didirikan sesudah hancurnya PKI berdiri atas perhitungan kekuatan
terbuka dan tersembunyi Rakyat Murba dan pekerja Indonesia.
Pentingnya, hidup matinya negara pada dunia
kapitalisme dan imperialisme ini, bergantung pada bermacam-macam hal,
persenjataan, perindustrian, terutama senjata, letak negara, persatuan serta
banyak penduduknya, semangat rakyat, kecerdasan dsb.
Kalau semua hal yang lain bersamaan (letak
negara, kecerdasan dan banyak penduduk dsb), maka dalam satu perjuangan keadaan
perindustrianlah yang akan memberi putusan. Yang kuat perindustriannya, itulah
pihak yang mesti menang. Perusahaan sekarang berdasar atas Ilmu-bukti (science)
dan teknik, pesawat. Pesawat itu bendanya ialah besi baja dan kodrat atau
rohaninya terutama minyak tanah. Kalau tak ada baja dan minyak, kapal terbang
tak bisa naik, tank dan auto tak bisa lari dan kapal-selam tak bisa maju. Kalau
besi dan baja itu tidak terdapat dalam negara, melainkan pada negara lain, maka
buat menyampaikan maksud imperialismenya negara itu, dia mesti menguasai semua
benda yang penting itu kalau satu negara penuh dengan benda tadi, tetapi lemah
semangat rakyatnya, lemah intelek, tiada bersatu dan tiada pula merdeka, maka
negara itulah yang akan menjadi umpan atau makanan negara yang gagah perkasa.
Di dunia ini tak ada letaknya negara yang lebih
berbahagia dari letaknya Indonesia.
Buat siasat perang tak ada tempat yang lebih teguh. Barang siapa yang mendudukinya,
walaupun hal lain bersamaan, dia mesti menang perang. Siapa yang tiada mendapat
kedudukan itu lambat laun akan kalah. Lihatlah saja peta bumi. Dulupun hal ini
sudah saya majukan. Besi yang paling banyak dan paling baik sifatnya menurut
laporan dalam Bataviasche Nieuwsblad tahun 1935 (?) – kalau saya tak lupa
- ialah di Indonesia Utara, Filipina. Tambang besi di Malaka dan Filipina
memang sudah berjalan. Sulawesi dan Kalimantan
banyak sekali tanah mengandung besi.
Minyak di Sumatra, Kalimantan,
Irian sudah begitu kesohor di seluruh dunia, tak perlu dibicarakan lebih
panjang lagi. Bauksite dan aluminium keduanya buat melebur baja yang kuat keras
sudah dikerjakan di Riau dan akan dikerjakan di Asahan. Benda perang yang
lain-lain, seperti: timah, getah dan kopra (buat bom TNT yang maha dahsyat itu
minyak kelapalah yang dipakai) didapati di Indonesia lebih dari di seluruh
bagian dunia lain digabung jadi satu.
Sudah pernah seorang pengarang buku di Amerika
meramalkan, bahwa kalau satu negara seperti Amerika mau menguasai samudra dan
dunia, dia mesti rebut Indonesia
lebih dahulu buat sendi kekuasaan. Si Amerika tadi tiada meramalkan mungkin
kelak rakyat Indonesia
sendiri menguasai negaranya sendiri, tak mau menjadi umpan atau makanan negara
lain, seperti lebih dari 300 tahun belakangan ini.
Saya sudah kenal sama tambang besi di Malaka dan Indonesia
utara, Filipina. Baru ini saja saya kagumi tambang minyak yang besar di
Pangkalan bradan, Pelaju dan sungai Gerang. Saya tahu adanya tambang minyak di
Tarakan dan Balikpapan, batu arang di Malaka,
Sawah Lunto, Bukit Assam
dsb, tambang timah di Bangka dan Belitung.
Saya tahu ratusan ribu pekerja yang terikat oleh kereta api, tram, mobil, kapal
laut dan udara, pos, telepon, telegram dan radio. Ratusan ribu pekerja pada
bengkel, pabrik besi, kimia, gula, teh, kain, sabun, dan lain-lain. Pada masa
saya berangkat ketika lebih dari 20 tahun dahulu jumlah kaum pekerja itu sudah
2 atau 3 juta orang. Sekarang sudah tentu lebih dari itu. Banyaknya dan
sifatnya perusahaan dalam 20 tahun belakangan ini memang sudah bertambah.
Begitu juga banyaknya serta sifatnya prajurit pekerja.
Pekerja di dalam tambang minyak, besi, timah,
bengkel dan pabrik dan pada pengangkutan inilah tulang belakangnya ekonomi Indonesia.
Inilah kaum yang bisa dikerahkan buat menyokong berdirinya dan majunya
Indonesia Merdeka yang sejati dan terus-menerus mempertahankan kemerdekaan itu.
Dekatilah golongan pekerja ini! Masuklah klasnya! Dengan klas ini bersama
dengan golongan lain, maka klas pekerja seolah-olah akan menjadi klas, sebagai "teras’’
yang dikelilingi kayu dan kulit, kalau ia terus maju ke muka buat mencapai
kemerdekaan sejati dan mendirikan negara yang cocok dengan kemakmuran sama-rata
dan persaudaraan.
Tetapi tuan mesti kupas masyarakat sekarang,
dengan cara berpikir yang beralasan benda, bukan roh, yang bertentangan, bukan
perdamaian, memakai undang berpikir yang bukan fantastis, bertahyul,
sembarangan. Jelaskan pentingnya benda buat kesehatan kecerdasan, kebudayaan,
kemerdekaan dan kesenangan. Kupaslah pertentangan upah dan untung, pertentangan
proletar dan kapitalis. Pertentangan politik buruh dan politik majikan dan
akhirnya pertentangan kebudayaan kaum pekerja dengan kebudayaan kaum hartawan
yang menganggur itu. Jelaskanlah kedudukan proletar dalam dunia kapitalisme
ini. Peringatkanlah, bahwa mereka pekerjalah, yang menduduki lantai ekonomi
perekonomian Indonesia.
Bangunkanlah semangat kritis – menentang - dalam masyarakat yang memang berdiri
atas beberapa golongan yang bertentangan. Dengan begitu bangunkanlah semangat
menyerang buat meruntuhkan yang lama – usang – dan mendirikan masyarakat yang
baru – kokoh – kuat.
Janganlah dihampiri mereka, pekerja ini dengan
"logika mistika’’. Atau kalau tuan begitu gemar akan logika mistika atau
dialektika mistika tuan berlaku jujur. Jalankanlah akibatnya yang sebenarnaya
dari logika atau dialektika mistika tadi. Bilanglah saja terus terang, bahwa
benda itu tak berarti apa-apa, kalau dibanding akhirat. Propagandakanlah bahwa
benda dan nikmat di akhirat lebih banyak, lebih lezat dan lebih kekal. Atau
cocok dengan filsafatnya Gautama Budha, katakanlah bahwa benda itu adalah satu
rantai, satu karma yang merantai hidup kita, hidup sengsara ini. Dengan
demikian cocokilah dan ikutilah sikap dan tindakannya beberapa sekte atau
mashap mistika, yang mencari cara yang baik buat membatalkan dunia ini, cara
yang baik buat………mati, yang buat mereka berarti mati-hidup. Bilanglah
terus-terang mati lebih baik dari pada hidup. Berlakulah begitu, supaya teori
cocok dengan praktek, kata dengan laku. Dengan terus terang dan konsekwen
bercakap begitu, kaum pekerja bisa memilih mana yang baik di antara Madilog
atau Logika Mistika.

0 Comment for "MADILOG: Tan Malaka (1943) "
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...