...(sambungan ke-1)...
II. GERPOLEK
Apakah artinya GERPOLEK?
Gerpolek adalah perpaduan (Persatuan) dari suku
pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi.
Apakah gunanya GERPOLEK?
GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya
buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang
sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!
Siapakah konon SANG GERILYA itu?
SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri,
seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada
PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi
Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya
tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya,
Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan
kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya
kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati
karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap.
Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan
mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA,
bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim,
musuh ataupun maut.
Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan
akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA
percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas
kapitalisme-imperialisme.
III. JENISNYA PERANG.
Cocok dengan hasratnya Negara yang
berperang-perangan, baiklah peperangan itu kita bagi atas dua jenis saja.
Pembagian yang dimaksudkan itu berdasarkan pertentangan yang nyata. Jadi bagian
yang satu sama lainnya, tiadalah tutup-menutupi, melainkan benar-benar
berpisah-pisahkan.
PERANG JENIS PERTAMA, ialah: Perang yang
dilakukan oleh satu Negara Ceroboh terhadap Negara lain dengan maksud memeras
dan menindas Negara lain itu.
PERANG JENIS KEDUA, ialah: Perang yang disambut
oleh satu Negara yang diserang untuk mengelakkan diri dari serangan atau bagi
membebaskan diri dari pemeras dan penindas Negara lain yang sudah berlaku.
Kita namakan saja Perang jenis-pertama itu PERANG
PENINDASAN dan Perang jenis-kedua itu PERANG KEMERDEKAAN. Syahdan maka
kebanyakan peperangan dijalankan di zaman feodal itu dikala NEGARA REBUT
NEGARA, di benua Asia, Afrika dan Eropa, yang banyak kita kenal dalam cerita
dan dongeng adalah Perang Penindasan. Perang Penindasan yang dilakukan di zaman
kapitalisme ini kita sebut PERANG IMPERIALISME. Hasratnya peperangan
imperialisme itu ialah:
Pertama: untuk merebut
bahan-pabrik serta bahan makanan dari Negara yang hendak ditaklukkan itu.
Kedua : untuk merebut
pasarannya Negara Takluk dan Negara jajahan itu buat menjualkan barang
pabriknya Negara Menang atau Negara Penjajah.
Ketiga: Untuk menanamkan
modal kaum penjajahan dalam kebun tambang, pabrik, pengangkutan, perdagangan
serta Bank Asuransinya di jajahan dan dikuasainya itu.
Ketiga hasrat itu pada satu pihak menyebabkan
bertambah kaya-raya dan kuasanya kaum-kapitalis di Negara Penjajah itu. Di lain
pihak menyebabkan bertambah miskin, melarat dan bodohlah Rakyat di jajahan itu.
Tetapi sebaliknya pula dengan bermerajalelanya kemelaratan dan tindasan itu,
maka timbullah pula gerakan kemerdekaan buat melepaskan diri dari pada
pemerasan dan tindasan itu. Gerakan kemerdekaan itu pada satu tempo di satu
tempat bisa meletus menjadi perang kemerdekaan. Perang Kemerdekaan itulah yang
tadi di atas kita masuklah ke dalam Jenis-Kedua.
Baik di zaman feodal ataupun di zaman kapitalisme
ini Perang Kemerdekaan itu sering pula terjadi. Perang Kemerdekaaan itupun
boleh pula kita bagi atas dua golongan, ialah:
Pertama: Perang Kemerdekaan yang dilakukan oleh
penduduk Jajahan melawan Negara Penjajahan buat melepaskan belenggu yang
dipasangkan oleh Negara Penjajahan itu atas dirinya. Perang Kemerdekaan semacam
ini sering disebut juga PERANG KEMERDEKAAN NASIONAL. Perang Kemerdekaan
Nasional yang masyur sekali di abad ke-18, ialah perang kemerdekaan yang jaya,
antara Amerika Terjajah dan Inggris Penjajah. Lamanya Perang itu adalah lebih
kurang tujuh tahun. Tetapi perang kemerdekaan nasional di Amerika tiadalah
berlaku antara dua bangsa yang berlainan, melainkan di antara satu bangsa,
ialah bangsa Anglo Saxon.
Kedua: Perang Kemerdekaan oleh satu kelas dalam
Negara melawan kelas lain di antara sesama bangsa dan di dalam satu Negara.
Perang Kemerdekaan semacam ini disebut juga PERANG SAUDARA atau PEPERANGAN
SOSIAL. Perang saudara atau perang sosial ini mempunyai dua corak pula. Yang
pertama bercorak BORJUIS dan yang kedua bercorak PROLETARIS. Contoh yang
masyhur buat perang kemerdekaan borjuis berlaku di Perancis pada tahun 1789
sampai 1848. Pada perang saudara atau perang sosial ini kaum borjuis melawan
kaum feodal dan pendeta. Perang kemerdekaan yang meletus pada tahun 1789 ini
terakhir lebih kurang pada tahun 1848 dengan kemenangan kaum borjuis. Contoh
yang agak masyhur pula buat perang proletar terdapat di Perancis pula, ialah
pada tahun 1871. Dalam perang kemerdekaan proletaris ini, kaum proletar Paris
merebut dan memegang kekuasaan di kota Paris selama kurang lebih 72 hari saja.
Di Rusia pada tahun 1917 berlakulah berturut-turut revolusi-borjuis dan
revolusi (perang) kemerdekaan proletaris. Pada tingkat pertama kaum borjuis
menyingkirkan kaum feodal dan pada tingkat kedua kaum proletar dengan kekerasan
menghancur-leburkan keduanya kaum feodal, pendeta dan kaum borjuis. Ada pula
orang menyebut-nyebut perang ideologis! Tetapi kalau ditinjau lebih dalam, maka
perang-ideologispun mengandung dasar yang nyata, ialah hasrat politik dan
ekonomi yang mengakibatkan atau mewujudkan dan keuntungan politik dan ekonomi
juga.
SCHEMA
Dua jenis PEPERANGAN
Jenis I: Perang Penindasan.
Jenis II: Perang Kemerdekaan.
Contoh: Kebanyakan peperangan di Asia, Afrika dan
Eropa, termasuk Peperangan dunia ke I dan ke II. Golongan ke I terjajah melawan
penjajahan (Perang Kemerdekaan Nasional).
Contoh: Amerika Serikat melawan Kerajaan Inggris
(tahun 1776-1783). Golongan ke 2 Kelas Tertindas melawan Kelas Penindas.
Corak I: Borjuis Melawan feodal, seperti di
Perancis (tahun 1789 dan 1884).
Corak II: Kaum proletar melawan Borjuis dan
feodal, seperti di Rusia (tahun 1917).
IV. PERANG DI INDONESIA
Yang dimaksudkan, ialah perang melawan Jepang,
Inggris dan Belanda semenjak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
APAKAH JENIS, GOLONGAN DAN CORAK PERANG INDONESIA
ITU?
Bagi bangsa Indonesia sendiri, maka perang yang
dilakukannya semenjak Proklamasi itu, bukanlah satu peperangan untuk menindas
bangsa Asing. Dalam semua pertempuran yang sudah berlalu sampai sekarang Rakyat
Indonesia sama sekali tiada mempunyai hasrat hendak merampas Negara Asing,
serta memeras dan menindas Rakyatnya Negara Asing itu. Rakyat/Pemuda Indonesia
cuma mempunyai satu hasrat, ialah memerdekakan Negaranya dari Kedaulatan dan
Kekuasaan bangsa Asing. Untuk melaksanakan hasratnya itulah, maka pada tanggal
17 Agustus 1945 diproklamirkan dan dibentuk Republik Indonesia. Nyatalah sudah
bahwa peperangan yang dilakukan oleh Rakyat Indonesia selama ini termasuk ke
dalam JENIS PERANG KEMERDEKAAN.
APAKAH PERANG KEMERDEKAAN INDONESIA SEMATA-MATA
PEPERANGAN YANG DITIMBULKAN OLEH REVOLUSI NASIONAL SEMATA-MATA IALAH SATU
REVOLUSI YANG MAKSUDNYA SEMATA-MATA UNTUK MELEPASKAN DIRI DARI KEDAULATAN ATAU
KEKUASAAN ASING, JADI CUMA MEREBUT KEMBALI KEKUASAAN POLITIK BELAKA?
Di Amerika pada masa belum ada pabrik-bermesin
dan belum ada kereta api, jadi dimana pencarian hidup masih berdasarkan
pertanian atau perusahaan tangan belaka, REVOLUSI NASIONAL itu dapat dilakukan
dengan tiada banyak menyangkut-nyangkut urusan ekonomi. Mungkin di Amerika
masih bersahaja dalam ekonomi itu Inggris dapat bertolak dengan tiada
meninggalkan pabrik, kebun, tambang dan kereta ataupun perkapalan di Amerika
Utara itu. Rakyat yang ditinggalkan ialah bangsa Inggris pula. Yang mengambil
oper kedaulatan dan kekuasaan politik itu, ialah bangsa Inggris (Anglo Saxon)
juga.
Tetapi bangsa Belanda yang memiliki kebun,
tambang, pabrik, kereta, perkapalan dan Bank-Asuransi di Indonesia tiadalah
mungkin mau menyerahkan begitu saja semua kedaulatan dan kekuasaaannya kepada
bangsa Indonesia. Teristimewa pula karena bangsa Indonesia itu umumnya tiada
mempunyai kebun, pabrik, pengangkutan dan Bank yang serba besar itu. Di mata
Belanda penyerahan semua kedaulatan dan kekuasaan politik itu kepada Bangsa
Indonesia berarti membahayakan harta-benda perusahaan dan bangsanya di Republik
Indonesia ini. Belanda takut, kalau-kalau hak miliknya akan dipajaki, dibeyai
atau diganggu oleh Pemerintah Bangsa Indonesia, dan takut perusahaannya
dimogoki oleh pekerja Indonesia atau sama sekali dirampas oleh bangsa
Indonesia. Dengan perkataan lain, Belanda tak akan mau menyerahkan semua
kekuasaan dan kedaulatan itu kepada bangsa Indonesia, tanpa Perkelahian.
Sebaliknya pula buat Rakyat Murba Indonesia
mengembalikan kedaulatan dan kekuasaan politik saja kepada Bangsa Indonesia,
belum berarti apa-apa. Seandainya kedaulatan dan Kekuasaan politik dikembalikan
kepada bangsa Indonesia serta semua cabang Pemerintahan dipegang oleh orang
Indonesia seperti Professor Husein Djajadiningrat, Kolonel Abdulkadir dan
Sultan Hamid tetapi semua kebun, pabrik, tambang, kereta, Bank dll masih berada
di bawah tangan Asing, maka KEMERDEKAAN NASIONAL, semacam itu buat kaum Murba
sama artinya dengan keadaan di “Hindia Belanda” dahulu. Ringkasnya KEMERDEKAAN
NASIONAL saja, KEMERDEKAAN POLITIK saja, belum lagi berarti apa-apa buat Murba
Indonesia, yakni buruh, tani dan Rakyat-Jembel Indonesia.
Di Indonesia ini, Belanda tidak bisa memberikan
KEMERDEKAAN NASIONAL, yang penuh kepada bangsa Indonesia dengan tiada
membahayakan Hak Milik dan pencahariannya sebagai kapitalis besar. Rakyat Indonesia
tiadalah bisa memperoleh jaminan bagi hidupnya dengan mendapatkan HAK-POLITIK,
ialah Kedaulatan dan Kekuasaan politik semata-mata, bilamana kapitalis Asing
masih terus merajalela disini. Urusan politik dan ekonomi tak bisa lagi
dipisah-pisahkan di Indonesia! PERANG KEMERDEKAAN Murba Indonesia berarti
keduanya kemerdekaan politik dan perjuangan buat jaminan ekonomi. Berarti
KEMERDEKAAN NASIONAL, yang serentak menjamin keadaan ekonomi dan sosial. Hasrat
perang kemerdekaan Indonesia tiada saja untuk melenyapkan tindasan politik
imperialisme, tetapi juga untuk melenyapkan pemerasan dan mendapatkan jaminan
hidup dalam masyarakat baru yang diperjuangkan itu.
Revolusi Indonesia, bukanlah Revolusi Nasional
SEMATA-MATA, seperti diciptakan beberapa gelitir orang Indonesia, yang
maksudnya cuma membelea atau merebut kursi buat dirinya saja, dan bersiap sedia
menyerahkan semua sumber pencaharian yang terpenting kepada SEMUANYA bangsa
Asing, baik MUSUH atau sahabat. Revolusi Indonesia, mau tak mau terpaksa mengambil
tindakan ekonomi dan sosial serentak dengan tindakan merebut dan membela
kemerdekaan 100%. Revolusi kemerdekaan Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan
dibungkusi dengan revolusi-nasional saja. Perang kemerdekaan Indonesia harus
DI-ISI dengan jaminan sosial dan ekonomi sekaligus.
Baru kalau disamping kekuasaan politik 100 %
berada lebih kurang 60 % kekuasaan atas ekonomi modern di tangan Murba
Indonesia, barulah revolusi-nasional itu ada artinya. Barulah ada jaminan hidup
bagi Murba Indonesia. Barulah pula kaum Murba akan giat bertindak menghadapi
musuh dan mengorbankan jiwa raganya buat memperoleh masyarakat baru bagi diri
dan turunannya. Baru apabila para wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat
Indonesia sendiri atas pemilihan yang demokratis (umum langsung dan rahasia);
baru apabila para wakil rakyat yang sesungguhnya itu memegang pemerintah
Indonesia, disamping lebih kurang 60 % kebun, pabrik, tambang pengangkutan dan
Bank Modern berada di tangan rakyat Indonesia, barulah revolusi-nasional ada
artinya dan ada jaminannya, bagi Murba – Indonesia. Tetapi jika Pemerintah
Indonesia kembali dipegang oleh kaki tangan kapitalis Asing, walaupun bangsa
Indonesia sendiri, dan 100 % perusahaan modern berada di tangan
kapitalis-asing, seperti di zaman “HINDIA BELANDA”, maka revolusi nasional itu
berarti membatalkan Proklamasi dan kemerdekaan Nasional dan mengembalikan
Proklamasi dan kemerdekaan Nasional dan mengembalikan kapitalisme dan
imperialisme International.
Sesungguhnya dengan kecerobohan Belanda dengan
tentaranya menyerang Republik Indonesia dengan maksud hendak meruntuhkannya,
maka Indonesia Merdeka semenjak 17 Agustus 1945 itu sudah berhak penuh MENYITA
hak-milik si penyerang si-Ceroboh. Proklamasi Kemerdekaan Rakyat Indonesia pada
tanggal 17 Agustus tidak bertentangan dengan Hukum-International, yang mengakui
HAKNYA TIAP-TIAP BANGSA MENENTUKAN NASIBNYA SENDIRI. Sjahdan pada tanggal 17
Agustus Rakyat Indonesia sudah menetapkan hendak merdeka dan memutuskan semua
macam belenggu, yang diikatkan oleh bangsa Asing kepadanya. Selainnya dari pada
hak tersebut, maka menurut Hukum International pula, sesuatu Negara yang
diserang oleh Negara lain berhak membela dirinya dengan senjata dan berhak pula
MENYITA Harta-Benda si PENYERANG itu. Jadi penyerang Belanda terhadap Republik
Indonesia itu sebenarnya memberi kesempatan bagus kepada bangsa Indonesia untuk
MENYITA (artinya: memiliki tanpa mengganti kerugian hak-milik Belanda) yang
sesungguhnya adalah hasilnya TANAH dan TENAGA MURBA INDONESIA setelah 350
tahun.
Ringkasnya bagi SANG GERILYA membela KEMERDEKAAN
100 %, serta MENYITA HAK MILIK MUSUH, adalah satu kesempatan bagus yang
seolah-olah jatuh dari langit yang dihadiahkan kepada Rakyat Indonesia untuk
melakukan kewajiban yang luhur serta menjalankan pekerjaan yang suci murni!!
Cuma manusia goblog yang tiada mengerti akan kesempatan yang bagus itu dan cuma
manusia pengecut atau curang yang tiada ingin melakukan pekerjaan yang berat,
tetapi bermanfaat buat masyarakat sekarang dan dihari kemudian itu.
V. SOAL PERANG
SOAL POKOK dalam peperangan cuma dua ialah
pertama SOAL MEMBELA dan kedua SOAL MENYERANG. Dalam perjuangan hewan melawan
hewan, di darat, di air dan di udara, dalam perjuangan manusia melawan hewan
atau dalam perkelahian manusia seorang melawan seorang, serta tentara melawan
tentara, maka SOAL MEMBELA dan MENYERANG itulah yang menjadi DUA POKOK
perhatian. Dalam perang besar yang kita kenal seperti perang KURAWA melawan
PENDAWA; Panglima WIDJAYA melawan tentara Kublaikan di daerah Kediri;
Diponegoro, Tengku Umar dan Tuanku Imam melawan tentara Belanda; Tentara
Napoleon melawan Inggris Serikat dan akhirnya tentara Jerman Serikat melawan
sekutu dalam Perang dunia kesatu dan kedua, semuanya ahli perang itu menghadapi
soal membela dan soal menyerang. Soal MEMBELA itu kalau kita bentangkan lebih
panjang, maka kita berhadapan dengan soal bagaimana melindungi diri dari musuh
dan bagaimana membinasakan penyerang sampai lumpuh, menyerah atau musnah sama
sekali, ketika memperlindungi diri itu. Soal MENYERANG itu kalau kita
bentangkan lebih panjang pula, maka kita peroleh soal bagaimana menyerang musuh
dengan menimbulkan kebinasaan sebanyak-banyaknya di pihak musuh atau
menyebabkan penyerahan atau kemusnahan musuh sama sekali dengan sedikit
kerugian di pihak penyerang sendiri.
Maka berhubung dengan perbedaan sifat membela dan
menyerang itu timbullah pula perbedaan syarat senjata bagi si Pembela dan si
Penyerang. Si Pembela mengutamakan tempat yang tersembunyi yang dapat memberi
perlindungan dirinya terhadap penyelidik musuh, atau pakaian yang tidak nyata
kelihatan dari jauh dan terutama tempat yang dapat memberikan pukulan yang
hebat terhadap Penyerang. Di zaman lampau benteng beserta perisailah alat
terutama untuk melindungi diri prajurit. Tetapi perlindungan semacam kuno itu
tak berharga lagi di zaman perang modern ini; menghadapi meriam, roket, bom
atom, alat bactereologis, biologis, dan klimatologis di masa depan. Di daratan
perang modern pun menghendaki benteng, tetapi aturan (teknik) membikin dan
benda, zat serta alat pembikinnya jauh berbeda dari pada di zaman kuno.
Pembelaan yang penting buat di lautan di zaman modern, ialah kapal selam dan di
udara pesawat penggempur (fighter). Si Penyerang mengutamakan alat kendaraan
yang cepat buat bergerak, senjata yang dahsyat buat membinasakan musuh dari
jarak jauh. Di zaman kuno kuda, panah, bedil dan meriam kolot sudah cukup buat
alat penyerang. Tetapi di zaman perang modern alat semacam itu tak dipakai
lagi. Buat penyerang di darat didapati tank, meriam dan roket. Buat penyerang di
laut dipakai kapal penggempur pesawat bomber Jet yang terbang lari 600 mil
kurang lebih 1000 km atau lebih dalam satu jam, yaitu kelak dapat menaburkan
wabah penyakit atau zat yang dapat menghancur-leburkan tanah, rumah, tanaman,
hewan dan manusia dalam ruang yang besar di atas bumi kita ini.
Adapun artinya pembelaan itu tiadalah DIAM
MENUNGGU musuh begitu saja dengan senjata di tangan. Tiadalah berarti
menghantam musuh kalau musuh menyerang dan berhenti menghantam kalau musuh
tiada kelihatan. Pepatah kemiliteran yang manjur tepat bebunyi: “PEMBELAAN YANG
SEBAIK-BAIKNYA IALAH DILAKUKAN DENGAN MENYERANG”. Maknanya pembelaan itu
bukanlah berarti diam-menunggu saja, melainkan menunggu sambil mengadakan
serangan kecil atau besar. Tetapi SIASAT-POKOK ialah pembelaan. Pusat perhatian
mesti ditumpuhkan kepada pembelaan. Penyerangan itu dilakukan cuma untuk
menyelenggarakan pembelaan, ialah buat sementara waktu. Pada pukulan terakhir
penyerang jugalah yang menjadi kata-putusan!!!
Artinya penyerangan itu tiadalah pula bergerak
menghantam TERUS-MENERUS dengan tiada berhenti-hentinya. Banyak hentian dan
lama pula perhentian harus dilakukan untuk mengumpulkan orang, senjata dan
persiapan makanan dll sebelum penyerangan itu dijalankan. Selainnya dari pada
itu banyak dan lama pula penyelidikan yang berbahaya harus dilakukan buat
mengetahui kekuatan stelling dan maksudnya musuh. Penyerangan yang dilaksanakan
dengan tiada cukup persiapan dan dengan tiada cukup penyelidikan tentang
keadaan musuh; penyerangan yang dilakukan dengan sia-sia, sombong dan gegabah
akan berakhir dengan kemalangan atau kecelakaan bangsa, walaupun si penyerang
mempunyai cukup prajurit, keberanian dan alat senjata. Dalam keadaan
mempersiapkan diri buat menyerang itu, maka tentara yang sedang bersiap itu
harus pula bersedia membela, sambil menunggu serangan musuh, yang mungkin
tiba-tiba dilakukannya untuk mengacau balaukan persiapan. Ringkasnya sifat
membela itu banyak mengandung corak penyerangan. Sebaliknya pula sifat
menyerang itu banyak pula mengandung corak pembelaan. Cuma dalam siasat
pembelaan perhatian dipusatkan kepada pembelaaan dengan tiada mengabaikan
penyerangan. Dan dalam siasat penyerangan perhatian serta pikiran dipusatkan
kepada penyerangan dengan tiada mengabaikan pembelaan.
Berhubung dengan seluk-beluk serta kemenangannya
pembelaan dan penyerangan itulah, maka persenjataan bagi kedua muslihat tadi
ialah bagi muslihat pembelaan dan muslihat penyerangan bantu-membantu pula.
Muslihat membela membutuhkan senjata penyerangan. Begitulah benteng tanah atau
batu zaman kuno membutuhkan alat penyerang seperti panah yang bisa mengenai
musuh yang berjauhan. Demikian pula benteng beton di zaman modern memerlukan
alat penyerang sebagai meriam raksasa, roket atau pesawat penggempur buat
melindungi benteng beton atau baja itu. Muslihat menyerang membutuhkan senjata
pembela pula! Tank sebagai alat penyerang itu mempunyai dinding yang dirasa
tebal, ialah syarat pembelaan yang dirasa tiada sanggup atau tiada ditembus
oleh pelor biasa.
Akhirnya perlu sedikit disebutkan disini, bahwa
berhubung dengan dua soal tersebut, yakni soal pembelaan dan soal penyerangan
itu, maka LATIHAN keprajuritanpun harus disesuaikan dengan masing-masing
muslihat perang yang berkenaan. Berlainlah pula sifat latihannya para prajurit
yang dipersiapkan untuk pembelaan dan penyerangan itu. Bagi siapapun juga
teranglah sudah, bahwa penyerangan itu membutuhkan nafas panjang buat berjalan
jauh di dalam hujan dan panas. Selainnya dari pada kesehatan yang mengandung
syarat tersebut di atas, maka para prajurit harus pula mempunyai semangat
menyerang (offensive spirit), keberanian, ketabahan yang tiada bisa dipatahkan
oleh kekalahan atau kegagalan sementara. Pembelaan itu lebih mengutamakan
ketenangan fikiran, sifat tahan uji dan sifat tak akan patah hati, walaupun
si-penyerang datang bergerombolan dengan senjata serba lengkap. Pembela adalah
seorang anggota masyarakat, yang tetap percaya kepada kemenangan-terakhir, asal
DIA tetap bertahan sampai musuh kehilangan akal untuk mematahkan semangat yang
tak mengenal perkataan MENYERAH itu.
Ringkasnya si Penyerang mempunyai syarat
teristimewa dalam kejasmanian dan mempunyai semangat keberanian mau-menang
dengan menyerang terus menerus. Si Pembela, di luar kesehatan biasa, terutama
mempunyai semangat tenang, sabar, tabah tak mau mengakui kekalahan atau
patah-hati. Semangatnya cocok dengan jago yang mati di kalangan kalau perlu
maka tempat pertahanan yang terakhir itulah yang akan menjadi tanah kuburannya!
VI. ANASIR PERANG
Ada empat ANASIR PERANG yang terpenting, yakni:
- SOAL KEADAAN BUMI.
- SOAL KEADAAN SENJATA.
- SOAL KEADAAN ORANG.
- SOAL TEMPOH.
Anaisr yang lain tiadalah sebegitu penting. Lagi
pula anasir-lain bolehlah dimasukkan ke dalam empat anasir-pokok seperti
tersebut di atas sebagai anasir-cabang. Maka kewajibannya seorang
Ahli-Siasat-Perang, ialah mempertimbangkan, memperhubungkan serta mengemudikan
keempat Anasir-Pokok dengan segala Anasir-Cabang yang lain-lainnya.
Syahdan, kalau salah satu dari pada ke-empat
Anasir-Pokok itu berubah, yakni maju atau mundur atau jika semuanya ke-empat
anasir itu berubah atau bertukar, maka berubah bertukarlah pada sifatnya perang
yang dilakukan itu.
1. SOAL KEADAAN BUMI.
Adapun satu bangsa yang mendiami tanah, yang
sebagian atau seluruhnya dikelilingi lautan, menghadapi soal siasat perang
(strategi) beserta persenjataan dan latihan perang yang berlainan dengan bangsa
lain, yang berada ditengah-tengah benua dan berjauhan dari lautan tempat
lalu-lintas. Pada masa sekarang bangsa Inggris yang mendiami pulau menghadapi soal
lain tentangan sesuatu peperangan dengan bangsa Jerman, yang tinggal
ditengah-tengah benua Eropa, yang jauh letaknya dari pada Lautan-lalu-lintas
dunia, dan cuma sebagian daerahnya saja yang dibatasi oleh lautan yang kurang
penting, ialah Laut Timur. Betapakah pula bedanya persoalan perang itu buat
bangsa Inggris dengan bangsa Swiss, yang sama sekali jauh dari pesisir Laut.
Berhubung dengan keadaan bumi itu, maka Rakyat Inggris lebih mementingkan
Armada dan angkatan Udara dari pada angkatan Darat. Sedangkan sebaliknya Jerman
lebih mementingkan angkatan Darat dan Udara dari pada Armada. Dalam hal siasat
perang, maka Inggris terutama selama damai lebih mengutamakan siasat membela
dari pada siasat menyerang. Tetapi para Ahli Siasat Angkatan Perangnya Imperialisme
Jerman lebih mengutamakan Siasat-Menyerang dari pada Siasat-Membel, Swiss yang
berada di pegunungan di pusatnya benua Eropa sama sekali tiada mempunyai dan
menghiraukan Armada. Swiss memusatkan persenjataannya kepada Tentara Darat dan
Angkatan Udara serta memusatkan siasatnya kepada siasat membela.
2. SOAL KEADAAN SENJATA.
Keadaan senjata berhubungan rapat dengan
tingginya alat perkakas (teknik) dan dengan tinggi rendahnya pula pengetahuan
sesuatu bangsa. Di zaman biadab, kampak dan tombak batulah yang menajdi
senjata. Di zaman logam besi, maka keris, pedang dan bedillah yang menjadi
senjata. Sekarang di zaman teknik dan pengetahuan yang tinggi, meriam, tank,
pesawat, roket, kapal, bom atom, bacteriologis, biologis dan klimatologislah
yang menjadi alat senjata. Berhubung dengan perubahan senjata dari zaman kapak
dan tombak batu sampai ke zaman tank dan bom atom itu, maka berubah bertukarlah
pula dalam masa ribuan tahun ini, siasat perang bagi ahli Siasat-perang dan
Latihan Perang, bagi para prajurit perang. Latihan pembelaan bagi seorang
prajurit yang berdiri di belakang parit atau perisai yang menghadapi serangan
musuh bersenjatakan kapak dan tombak batu, berlainan sekali dengan latihan
pembelaan seorang prajurit zaman sekarang, yang diam di dalam gedung di bawah
tanah, dan terbuat dari beton dan baja, yang dilindungi pula oleh meriam dan
pesawat terbang. Latihan Penyerangan yang harus dipelajari oleh seorang
prajurit bersenjatakan kapak atau tombak batu terhadap musuh, yang berdiri di
belakang parit memegang perisai, berbeda pula dengan latihan seorang juru
terbang yang mengemudikan sebuah bomber yang menuju ke benteng pertahanan
musuh, yang jaraknya sampai 2000 km, atau lebih dari pangkalannya, dan yang
harus pula mengatasi semua pembelaan musuh seperti meriam dan pesawat
penggempur.
3. SOAL KEADAAN ORANG.
Kita bicara dalam sejarah dunia, bahwa Iskandar
Zulkarnaen yang disebut juga penakluk dunia, mengalahkan hampir semua Negara
beradab di masa itu dengan tentara Yunani, yang terdiri dari pada cuma 40.000
orang (empat puluh ribu orang). Dalam perang dunia ke- I (tahun 1914-1918)
Jerman mempergunakan lebih kurang 6.000.000 (6 juta) prajurit. Dalam perang
dunia ke-II (1939-1945) Soviet Rusia mempergunakan lebih kurang 20.000.000 (20
juta) prajurit. Dengan naiknya jumlah prajurit perang dari 40.000 sampai kepada
6.000.000 atau 20.000.000 orang, maka berubahlah pula PANJANGNYA front dimana
kedua belah pihak musuh berhadapan. Dengan berubahnya panjang front itu maka
berubahlah pula SIASAT membela dan menyerang itu.
Marilah kita sebentar memperingati front-Barat di
eropa di masa perang dunia ke-I. Dengan tentara yang besarnya antara 2 dan 3
juta, maka Inggris, Perancis dapat melindungi seluruhnya front Barat dari laut
sampai ke batas Swiss yang netral itu. Barisan Jerman yang berhadapan dengan
barisan Inggris/Perancis itu tak bisa melakukan siasat pengepungan (umfassung).
Kedua ujung barisan Inggris/Perancis tak dapat dilalui oleh Barisan Jerman.
Siasat perang yang harus dilakukan, ialah siasat yang dinamai SIASAT PERANG
STELLING (Trench-Warfare). Dalam hal perang stelling itu, maka Barisan Jerman
dapat maju kalau stelling Inggris/Prancis dapat diterobos, ditembus dengan
“Druchstross” yang bisa diperdalam atau diperluas. Atau kalau seluruhnya front
Inggris/Perancis yang dipanjangnya lebih kurang 8002 km dapat dihalaukan terus
menerus dengan hujan pelor. Dalam peperangan di zaman Iskandar atau Hannibal,
dilakukan di lapangan luas, dengan tentara kaki dan kuda, yang terdiri dari
beberapa puluh ribu orang saja, satu tentara bisa melaksanakan penyerangan
menurut SIASAT-GERAK CEPAT (mobile-warfare) ialah siasat kepung-mengepung dan
tembus menembus barisan musuh. Dengan naiknya jumlah prajurit sampai jutaan
orang dengan semakin sempitnya ruang dan berubahnya persenjataan, maka pada
perang dunia ke-II ahli-Siasat-Perang menemui soal perang stelling. Siasat
GERAK CEPAT tiadalah LANGSUNG lagi dapat dijalankan seperti di zaman dahulu
kala, di zaman Iskandar, Hannibal, Caesar dan Napoleon.
4. SOAL TEMPO
Anasir keempat, ialah soal tempo ini tampaknya
tiada begitu penting, tetapi sebenarnya amat penting pula jika diperhubungkan
dengan tiga anasir tersebut pula. Jika diperhubungkan dengan tiga anasir
tersebut di atas itu, maka Sang Tempo itu adalah penting sekali. Tempo
menentukan Siasat Perang di waktu pecahnya perang dan menentukan persiapan
pertahanan di masa sebelumnya perang. Soal tempo itu dipergunakan dengan baik
sekali oleh seorang Jendral Romawi yang bernama Pabius Cunctator, Jendral Maju
Mundur. Jendral ini berhadapan dengan Jendral yang sangat ulung dan sangat
populer di masa yan lampau, ialah Jendral Hanibal masuk menyerbu ke Italia
dengan melintasi pegunungan Alpen. Satu pekerjaan militer yang dianggap
mustahil dapat dilakukan di masa itu. Sekonyong-konyong Hannibal sudah tiba di
Italia Utara dan akhirnya di pintu gerbang Rome, Ibu Kota, setelah mengalahkan
tentara Romawi di Canmae Fabius, Jendral Maju-Mundur tak mau melawan musuh yang
ulung itu berhadap-hadapan, tetapi maju kalau Hannibal berhenti dan mundur
kalau Hannibal menyerang. Dengan demikian dia mengharapkan tentara Hannibal
yang berada jauh dari pangkalannya di Carthago itu lama-kelamaan akan
kehilangan orang, seorang demi seorang, kehabisan perlengkapan dan kehilangan
kesabaran. Sedangkan tentara Romawi akan tetap bertambah kuat dalam
segala-galanya itu. Pengikut Fabius, bernama Scipio Afrikanus Minor dan Scipio
Afrikanus Minor ini meneruskan siasat Maju Mundur itu pula. Walaupun akhirnya
Hannibal menjadi lemah, lantaran jerih payah, kehilangan prajurit, senjata, perlengkapan
serta kesabaran, sedikit demi sedikit, dan akhirnya terpaksa kembali pula,
tetapi Scipio masih meneruskan taktik Fabius Conctator itu. Taktik
Maju-Mundur itu oleh Scipio diteruskan juga, walaupun Hannibal sudah
terpaksa mundur sampai ke pangkalannya sendiri di Afrika. Belum juga lagi
Scipio memukul musuhnya dengan berhadapan, tetapi lebih dahulu dia memotong
jalan yang harus dilalui oleh bala-bantuan, berupa makanan dan kuda yang
dikirimkan kepada Hannibal. Akhirnya setelah menderita kekuarangan dalam
segala-galanya lahir dan batin, barulah Scipio memberikan pukulan terakhir dan
mencapai kemenangan.
Boleh dikatakan, bahwa Jendral Hannibal, salah
satu Jendral terulung dikalahkan oleh Jendral Tempo. Sang Tempolah pula
disamping keadaan sebagai penduduk sebuah pulau mengizinkan Inggris kurang
mengindahkan Tentara Darat di musim damai. Dan Sang Tempo pula yang memberi
kesempatan penuh buat mengadakan persiapan setelah perang meletus dan
mengadakan siasat membela dalam waktu lama sekali pada permulaan perang.
Ditemani terutama oleh Jendral Tempo, karena berada diseberang laut itulah maka
Inggris dapat membatalkan penyerbuan Napoleon, Hindenburg dan Hitler
berturut-turut.
Ringkasnya perubahan empat anasir perang ialah:
- keadaan bumi.
- persenjataan.
- banyak prajurit.
- tempo masing-masing
Atau semuanya sangat mempengaruhi
merubah-merombak serta menukar Siasat Perang, baik dalam hal pembelaan ataupun
dalam hal penyerbuan.
...natikan sambungan ke-2 nya...LAWAN...!
...natikan sambungan ke-2 nya...LAWAN...!

0 Comment for "GERPOLEK Gerilya - Politik - Ekonomi (Tan Malaka (1948))"
Silakan anda berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik bahasan...terimakasih
salam hangat...